Literasi Keuangan Dinilai Masih Rendah

NERACA

Jakarta - Asosiasi Teknologi Finansial atau Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) mengatakan literasi keuangan masyarakat di Tanah Air masih kurang sehingga perlu adanya edukasi bagi masyarakat. “Pemahaman masyarakat Indonesia tentang keberadaan, produk, hingga manfaat tekfin yang bisa digunakan sehari-hari masih kurang. Hal itu mendorong kami menggelar Fintech Fair 2018 di Mall Taman Anggrek, Jakarta pada 13-15 Juli mendatang,” Direktur AFTECH, Ajisatria Sulaiman, di Jakarta, Kamis (12/7).

Ia menjelaskan pihaknya ingin memperkenalkan sekaligus memberikan edukasi mengenai produk teknologi keuangan kepada masyarakat yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing konsumen. AFTECH juga ingin memastikan bahwa penyedia layanan teknologi finansial tersebut menjalankan bisnisnya secara bertanggung jawab.

Selain itu, Indonesia Fintech Fair 2018 diharapkan dapat memperkenalkan layanan-layanan baru yang dapat mentransformasi hidup masyarakat. Penyelenggaraan Indonesia Fintech Fair 2018 ini seiring dengan perkembangan industri yang pesat. Saat ini terdapat 135 perusahaan teknologi keuangan yang terdaftar sebagai anggota AFTECH sejak didirikan pada 2015 lalu.

Dalam kesempatan sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksi tingkat literasi keuangan pada awal tahun ini mencapai 31 persen total penduduk Indonesia. Angka ini meningkat dibanding 2016 sebesar 29,7 persen. Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Tirta Segara mengatakan angka ini masih perlu diuji dalam survei tiga tahunan yang biasa dilakukan OJK atau pada 2019 mendatang. “Untuk tahun depan atau pada pertengahan akan kami mulai surveinya dan hasilnya pada 2019," ujar Tirta.

Ia menyebut kenaikan literasi keuangan ini tak lepas dari beberapa upaya yang dilakukan OJK. Salah satunya, fokus pada target audiens dan pengajaran sektor keuangan. Tirta mencontohkan, materi bagi pelajar sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) tentu berbeda dengan mahasiswa. "Lalu kelompok usaha juga beda lagi, misalnya pelaku usaha lebih butuh asuransi, tapi yang pelajar beda lagi," terang dia.

Kemudian, pemberian materi di pesantren juga berbeda karena kemungkinan besar pelajar di pesantren kurang tertarik dengan keuangan secara umum, tetapi ingin tahu tentang keuangan syariah. "Kami lihat juga mana kawasan yang rendah, kami dorong melalui OJK daerah untuk peningkatan literasi keuangan," jelas Tirta.

OJK juga telah menerbitkan beberapa modul bagi pelajar yang dikirim ke berbagai daerah sebagai bahan pembelajaran terkait keuangan. Sementara pada 2019 mendatang, OJK menargetkan literasi keuangan bisa mencapai angka 35 persen dengan target inklusi keuangan sebesar 75 persen. Pada 2016, tingkat inklusi keuangan baru 67,8 persen.

BERITA TERKAIT

PEMERINTAH DAN PENGUSAHA KECEWA KEBIJAKAN UE - CPO Dinilai Bukan Produk Bahan Bakar

Jakarta-Pemerintah dan pengusaha sawit merasa prihatin dan akan mengambil langkah tegas terhadap putusan Komisi Uni Eropa terkait kebijakan minyak sawit…

Kuningan Masih Butuh 14 Ribu PJU

Kuningan Masih Butuh 14 Ribu PJU NERACA Kuningan – Sarana umum yang ada di Kabupaten Kuningan cukup banyak dan variatif,…

Indonesia Masih Butuh Sistem Birokrasi Lebih Cepat

  NERACA   Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan dalam menghadapi dunia persaingan dewasa ini, Indonesia membutuhkan sistem birokrasi…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BTN Syariah Kenalkan KPR Hits

    NERACA   Surabaya - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) melalui anak usahanya, BTN Syariah menggelar roadshow…

The Fed akan Akhiri Siklus Kenaikan Bunga

    NERACA   Jakarta - Federal Reserve AS (The Fed) atau bank sentral AS diperkirakan akan mengakhiri siklus kenaikan…

Akulaku Suntik Dana Rp500 Miliar ke Bank Yudha Bhakti

  NERACA   Jakarta – Perusahaan teknologi finansial (tekfin) berskala internasional, Akulaku, menyuntikkan dana ratusan miliar rupiah ke Bank Yudha…