BI Sebut Rupiah Masih Punya Peluang Menguat

NERACA

Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih berpeluang menguat, meski saat ini terdepresiasi akibat pengaruh tekanan global. "Dari segi fundamental, semestinya ada ruang untuk lebih apresiatif," kata Perry di Jakarta, Rabu (11/7).

Perry menjelaskan pergerakan kurs rupiah saat ini masih "overvalued" karena masih terdampak oleh potensi penyesuaian suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed). Namun, ia memastikan depresiasi rupiah tersebut masih lebih baik dibandingkan mata uang di negara-negara berkembang lainnya. “Depresiasi kurs dibandingkan negara lain relatif terkendali, lebih rendah dari Filipina, India, Brasil, Korea Selatan dan Turki, yang mengalami pelemahan jauh lebih tinggi,” katanya.

Meski demikian, Perry memastikan bank sentral terus berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamental. Sebelumnya, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu pagi bergerak melemah 26 poin menjadi Rp14.393 dibanding posisi sebelumnya Rp14.367 per dolar AS.

Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada di Jakarta, mengatakan pergerakan rupiah kembali diuji ketahanannya untuk dapat berbalik arah melanjutkan tren kenaikan. Masih rentannya Rupiah menghalangi potensi kenaikan lanjutan sehingga perlu dicermati berbagai sentimen, terutama pergerakan sejumlah mata uang global terhadap dolar AS," ujar Reza.

Ambisi Pemerintah

Sementara itu, Ekonom senior, Faisal Basri menyebut nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung melemah hingga akhir tahun. Selain faktor eksternal, ia menilai pelemahan rupiah juga didorong ambisi pemerintah dalam menggenjot pembangunan infrastruktur. “Sumber utama rupiah rusak adalah pemerintah yang terlalu ambisius, yang melampaui dari kemampuannya sendiri," ujarnya.

Disebut melampaui kemampuannya sendiri, ia melanjutkan karena pemerintah jor-joran membangun infrastruktur. Padahal, pembangunan proyek infrastruktur mendongkrak kenaikan impor bahan baku dan barang modal yang belum bisa diproduksi di dalam negeri. Ambil contoh, untuk proyek pembangunan jalur bawah tanah MRT, Indonesia masih harus mengimpor mesin bor dari Jepang. “Bahkan, tenaga kerja yang menjalankannya (bor) masih harus diimpor. Kalau tidak salah dari Thailand,” imbuh Faisal.

Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kondisi defisit transaksi berjalan. Defisit transaksi berjalan banyak dipengaruhi dari defisit neraca perdagangan. Per Januari - Mei 2018, neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit sebesar US$2,83 miliar. Sebagai pembanding, pada periode yang sama tahun lalu, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus US$5,89 miliar.

Namun, di saat bersamaan, permintaan global terhadap ekspor Indonesia juga tidak bisa diandalkan. Hal itu tak lepas dari isu perang dagang yang mengemuka antara AS - China sejak beberapa waktu lalu. Perang dagang yang terjadi antara kedua negara, menurut Faisal, pada akhirnya akan membatasi pergerakan arus barang di dunia. Bahkan, bukan tidak mungkin China bisa mengalihkan ekspornya dari AS ke Indonesia ke depan.

Sementara, selama produk ekspor Indonesia masih didominasi oleh bahan mentah, ekspor Indonesia hanya akan berjalan di tempat. Di sektor keuangan, Faisal mengingatkan proyek pembangunan infrastruktur pemerintah sebagian didanai dari aliran modal masuk asing (capital inflows), baik dalam bentuk investasi langsung maupun surat utang. Artinya, semakin agresif pemerintah melakukan pembangunan infrastruktur, semakin besar dana yang dibutuhkan.

BERITA TERKAIT

Asian Games Buka Peluang UMKM Tembus Pasar Ekspor

Asian Games Buka Peluang UMKM Tembus Pasar Ekspor NERACA Jakarta - Ajang olahraga terbesar di Asia Asian Games 2018 membuka…

Pengamat: Hakim Agung Nonkarier Masih Sangat Dibutuhkan

Pengamat: Hakim Agung Nonkarier Masih Sangat Dibutuhkan NERACA Jakarta - Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Fakultas Hukum Universitas Andalas Feri…

IHSG Masih Melanjutkan Tren Penguatan - Sentimen Krisis Turki Mereda

NERACA Jakarta  - Tren indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bertahan di zona hijau seiring…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Kinerja Positif, Bank DKI Raih Tiga Penghargaan

      NERACA   Jakarta - Catatkan kinerja keuangan positif pada triwulan II 2018, Bank DKI raih tiga penghargaan…

TunaiKita Ekspansi di 159 Kota dan Kabupaten Indonesia

      NERACA   Jakarta - Perusahaan Financial Lending Tunaikita mendukung target pemerintah mencapai finansial inklusi 75 persen di…

CIMB Niaga Bukukan Laba Konsolidasi Rp1,8 Triliun

      NERACA   Jakarta - PT Bank CIMB Niaga Tbk, membukukan perolehan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 1,8…