Menjelajahi Alam Papua Barat

Provinsi Papua Barat menjadi daerah yang memiliki hutan tropis terluas di Indonesia, bahkan diperkirakan menjadi yang terluas di dunia. Belum lama ini Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Papua Barat, Charlie Heatubun, mengatakan luas hutan tropis di Papua Barat mencapai 9.730.550 hektare, atau 90 persen dari luas wilayah provinsi ini. Papua barat memiliki luas wilayah sekitar 143.076 kilometer. "Papua Barat menjadi new Champion sebagai daerah yang memiliki hutan tropis terluas dan masih cukup terjaga," kata Charlie, seperti yang dikutip dari Antara.

Ia menceritakan pekan lalu Gubernur Papua Barat menghadiri kegiatan seminar di Norwegia. Pada kegiatan tersebut, Charlie melanjutkan, gubernur memaparkan ketersediaan hutan dan konsep pembangunan berkelanjutan sedang dilaksanakan. Gubernur pada kesempatan itu, ia melanjutkan, menyatakan komitmen pemerintah daerah serta masyarakat adat untuk menjaga dan memanfaatkan hutan secara lestari. "Dari kegiatan seminar di Norwegia, Papua Barat kini menjadi sorotan negara-negara sahabat. Ini menjadi awal yang baik untuk kesuksesan kegiatan konferensi serta pelaksanaan pembangunan berkelanjutan di Papua Barat," katanya.

Dari seminar tersebut, ia menambahkan, akan ada banyak kerjasama yang terjalin dengan sejumlah negara dan lembaga donor luar negeri. Kerjasama ini diarahkan pada upaya optimalisasi pengelolaan potensi sumber daya alam melalui konsep pembangunan berkelanjutan.

Hutan di Provinsi Papua Barat terbagi atas beberapa kawasan yaitu; hutan lindung (sekitar 1,6 juta hektare), hutan konservasi (sekitar 1,7 juta hektare), areal peruntukan Lain (sekitar 342 ribu hektare), dan hutan produksi (sekitar 6,03 juta hektare). Kawasan hutan ini terdiri dari berbagai tipe hutan mulai dari hutan mangrove, hutan pantai, hutan rawa, hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan rendah.

Ragam atraksi wisata alam di Papua Barat Tak hanya kawasan hutan tropis, salah satu daerah yang menjadi primadona untuk sektor pariwisata di Papua Barat adalah Kabupaten Raja Ampat. Tempat ini terkenal akan wisata baharinya, panorama bawah lautnya disinyalir sebagai salah satu yang terindah di dunia.

Mengutip dari skyscanner, terumbu karang di perairan Raja Ampat dinilai sebagai yang terlengkap di dunia. Karena dari 537 jenis karang yang ada di dunia ini, 75 persennya berada di perairan ini.Selain Raja Ampat, wilayah lain di Papua Barat yang tidak kalah memesona adalah kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Teluk Wondama. Tempat ini cukup tersohor di kalangan pecinta kegiatan diving.

Seperti enggak kalah dengan predikat hutan tropis, taman nasional laut ini merupakan yang terluas di Indonesia, yang 89,8 persen wilayahnya merupakan wilayah perairan lautan. Tercatat ada sekitar 209 jenis ikan yang menghuni kawasan ini. Selain itu, terdapat empat jenis penyu yang sering mendarat di taman nasional ini yaitu penyu sisik, penyu hijau, penyu lekang dan penyu belimbing. Jika tidak ingin beranjak jauh dari pusat kota, Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Meja yang terletak di pusat kota Manokwari siap memanjakan para pecinta alam. Ada ratusan jenis pohon, puluhan jenis perdu, semak, liana, paku, serta tanaman herbal. Beberapa jenis anggrek, palem, dan rotan juga hidup di sini. Tempat ini memiliki fungsi untuk pariwisata alam, perlindungan sistem penyangga kehidupan dan pengawetan keragaman jenis tumbuhan, satwa dan keunikan alam.

Sejarah Kabar Pertama tentang Papua

Papua sebenarnya tak benar-benar asing bagi warga Nusantara. Kakawin Negara Kertagama dari abad ke-14 telah mencatat adanya kontak antara Jawa dengan beberapa penguasa dari wilayah barat Papua. Utusan-utusan dari Wanin, Sran, dan Wandan ketiganya mengacu ke beberapa daerah di “kepala burung” Papua setidaknya pernah menyambangi ibu kota Majapahit kala itu.

Kontak yang lebih intens dengan orang-orang Papua dijalin kesultanan-kesultanan di Maluku. Rosmaida Sinaga dalam Masa Kuasa Belanda di Papua 1898-1962 (2013: 35) menyebut, pada abad ke-16 pulau-pulau di Raja Ampat menjadi rebutan kesultanan-kesultanan besar Maluku. Ketika Sultan Ternate melebarkan hegemoni ke Sulawesi, Sultan Tidore telah punya pengaruh di Seram Timur dan pulau-pulau di antara Halmahera dan Nieuw Guinea sebelah barat.

Kabar-kabar tentang Papua juga didapat dari pelaut-pelaut Eropa. Orang Eropa pertama yang mengabarkan tentang adanya pulau besar di sebelah timur Kepulauan Maluku adalah dua pelaut Portugis bernama D’Abreu dan Serrano pada 1511. Nama Papua untuk menyebut pulau itu pertama kali dituturkan oleh Antonio Pigafetta, penjelajah asal Italia dan anak buah Ferdinand Magellan, pada 1521.

Nama Nueva Giunea, atau dalam bahasa Belanda disebut Nieuw Guinea Guinea Baru, adalah yang paling dikenal dunia selama beberapa abad. Nama itu berasal dari pelaut Spanyol Ortiz de Retes yang menginjakkan kaki di sana pada Juni 1545. Kesamaan ciri fisik penduduk pulau tersebut dengan orang-orang Guinea di Afrika mengilhaminya memberi nama itu.

Sejauh itu, orang-orang Eropa hanya memandang Nieuw Guinea dari geladak kapal mereka. Sangat sedikit keterangan rinci tentang daratan itu. Suatu informasi yang patut disebut salah satunya datang dari seorang pelaut VOC bernama Jan Cartensz. Norman Edwin dalam artikel “Gunung Salju di Irian Jaya” yang tayang di majalah Suara Alam (no. 63, Desember 1988) menyebut bahwa Cartensz adalah orang Eropa pertama yang mengabarkan tentang adanya gunung bersalju di Nieuw Guinea. Saat itu, 16 Februari 1623, ia sedang berada di perairan Laut Arafuru.

“Kami melihat suatu gunung sangat tinggi yang memutih di berbagai tempat karena salju, suatu hal yang tentunya aneh bagi gunung yang begitu dekat dengan garis khatulistiwa,” tulis Cartensz dalam buku catatannya sebagaimana dikutip Norman Edwin. Tak ada saksi lain yang membenarkan pandangan mata Cartensz saat itu. Karenanya, informasi itu hanya dianggap mitos selama dua abad berikutnya.

Informasi lain yang serba sedikit tentang topografi tanah Nieuw Guinea dikabarkan penjelajah Perancis bernama Louis-Antoine de Bougainville. Pada 1768, di tengah pelayarannya mengelilingi dunia, de Bougainville menyusuri pesisir utara Nieuw Giunea. Perjalanan itu tercatat dalam Orang Indonesia & Orang Prancis dari Abad XVI sampai dengan Abad XX yang disusun Bernard Dorleans (2016).

BERITA TERKAIT

Presiden: TNI–Polri Amankan Pembangunan di Papua!

  Oleh : Abdul Aziz, Mahasiswa di salah satu PTN Jakarta   Semenjak Joko Widodo menjadi Presiden, salah satu kebijakan…

PASCA PEMBUNUHAN PEKERJA PROYEK - Pembangunan Trans Papua Tetap Berlanjut

NERACA Jakarta - Presiden Joko Widodo menegaskan pembangunan infrastruktur di Papua akan tetap dilanjutkan, dan tidak akan dihentikan. "Saya sampaikan…

Aksi Pembunuhan Pekerja Proyek Di Papua Bisa Hambat Ekonomi

    NERACA   Jakarta - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengecam terjadinya pembunuhan terhadap 31 pekerja proyek jembatan…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Ini Strategi Pariwisata Era Digital Menpar

Menpar Arief Yahya berbicara soal Paradox Marketing Strategy for Government Public Relations (GPR) Menuju Era Komunikasi 4.0 dalam acara Sinergi…

Barelang Marathon di Meriahkan Ratusan Pelari Internasional

Program sport tourism Barelang Marathon 2018 mendapat respons positif dari 253 pelari dari lima benua yang berkumpul di Batam.  Nomor…

Pelabuhan Gili Mas akan Membawa Dampak Bagi Wisata Lombok

Bupati Lombok Barat Fauzan Khalid yakin Terminal Gili Mas yang sedang dibangun oleh PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III akan menjadi…