BI Imbau Masyarakat Segera Tukarkan Uang Lama

NERACA

Solo - Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Surakarta mengimbau masyarakat segera menukarkan uang lama atau tahun emisi 1999 seiring dengan masa berlakunya yang berakhir tahun ini. "Batasnya sampai akhir tahun ini, saat ini kami masih menerima penukaran uang tahun emisi 1999. Setelah akhir tahun, kami tidak bisa melayani penukaran tersebut," kata Kepala BI Kantor Perwakilan Surakarta Bandoe Widiarto di Solo, Selasa (10/7).

Menurut dia, jika masa berlaku habis maka uang tersebut juga tidak dapat digunakan sebagai alat pembayaran yang sah. Ia mengatakan tahapan penarikan uang rupiah tersebut sebelumnya sudah dilakukan melalui perbankan. "Meski demikian untuk penukarannya hanya dapat dilakukan di Kantor Bank Indonesia karena waktu yang tersedia sudah mendekati batas terakhir masa berlakunya," katanya. Ia mengatakan untuk layanan penukaran dilakukan dua kali dalam satu minggu, yaitu setiap hari Selasa dan Kamis.

Sementara itu, untuk memastikan masyarakat menerima pesan tersebut, pihaknya aktif melakukan sosialisasi gerakan cinta rupiah. Selain memberikan pemahaman mengenai keaslian uang rupiah, Bank Indonesia juga mengenalkan uang rupiah yang baru. "Harapannya agar masyarakat lebih 'aware' terhadap rupiah yang dipalsukan dan ciri uang tahun emisi baru, yaitu 2016," katanya.

Pada kegiatan sosialisasi, pihaknya juga mengedukasi masyarakat bagaimana cara memperlakukan uang dengan benar. "Salah satunya dengan memberikan pemahaman lima jangan, yaitu jangan disteples karena uang yang berlubang dianggap tidak layak edar. Selanjutnya jangan dicoret, jangan dilipat, jangan diremas, dan jangan dibasahi," katanya.

Peraturan BI No. 33/PBI/2018 mengatur pencabutan dan penarikan dari peredaran empat uang kertas yang telah beredar. Uang kertas tersebut antara lain dua pecahan Rp10.000 dan Rp20.000 tahun emisi 1998. Uang kertas Rp10.000 itu bergambar muka berupa pahlawan nasional Cut Nyak Dien. Sedangkan pada uang Rp20.000 bergambar pahlawan nasional Ki Hajar Dewantara.

Kemudian peraturan BI itu juga menyatakan dua uang kertas tahun edisi 1999 untuk pecahan Rp50.000 dan Rp100.000 sudah ditarik dari peredaran. Pecahan Rp50.000 tersebut bergambar muka pahlawan nasional WR Soepratman, penyipta lagu Indonesia Raya. Sementara itu, pecahan Rp100.000 bergambar muka dua proklamator Indonesia, Soekarno dan Hatta. Uang kertas tersebut berbahan polymer atau plastik.

Bank Indonesia secara rutin melakukan pencabutan dan penarikan uang rupiah. Hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan antara lain masa edar uang, adanya uang emisi baru dengan perkembangan teknologi unsur pengaman (security features) pada uang kertas.

BERITA TERKAIT

Idrus Bantah Terima Uang untuk Keperluan Umrah

Idrus Bantah Terima Uang untuk Keperluan Umrah NERACA Jakarta - Mantan Menteri Sosial Idrus Marham (IM) membantah menerima 50.000 dolar…

Sulap Ponsel Android Lama jadi Baru

Tak dimungkiri, permasalahan yang dihadapi pengguna smartphone Android adalah adopsi sistem operasi yang tidak merata. Sejumlah vendor smartphone kerap kesulitan…

Aturan Uang Digital?

Hingga saat ini baik Bank Indonesia (BI) maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terlihat belum bersikap tegas terhadap transaksi mata uang…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Fintech Pengaruhi Ketersediaan Lapangan Pekerjaan Perbankan

    NERACA   Jakarta - Guru Besar Fakultas Ekonomi UI Rhenald Kasali memproyeksi bahwa ketersediaan lapangan pekerjaan di sektor…

Hanya 1,7% Penduduk Indonesia Miliki Asuransi

    NERACA   Bandung - Ketua Dewan Asuransi Indonesia (DAI) Dadang Sukresna mengatakan hingga saat ini jumlah penduduk Indonesia…

BI – Bank Sentral Tiongkok Perbarui Perjanjian SWAP Bilateral

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) dan Bank Sentral Tiongkok (People's Bank of China/PBC) memperbarui perjanjian…