Bailout Yunani Bisa Kuatkan Rupiah

SOROTAN

Jakarta---Apresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serika (AS) diperkirakan bisa makin mendorong penguatan rupiah pada pembukaan perdagangan hari ini. "Karena optimisme invstor terhadap bailout Yunani, ini positif. Rupiah diprediksi Rp8.900 sampai Rp9.100 per USD," kata analis valuta asing, David Summual di Jakarta,21/2

David menambahkan rupiah dalam kurun waktu satu bulan terakhir mantap di level tersebut. Melihat kondisi tersebut, dia mengatakan level Rp9.000 per USD merupakan level yang aman untuk kisaran rupiah di tengah kondisi seperti saat ini.

Mengutip yahoofinance, rupiah pada penutupan perdagangan Senin sore diperdagangkan di kisaran Rp9.014 per USD, dengan rata-rata perdagangan harian di kisaran Rp8.995-Rp9.032 per USD. Sementara menurut kurs tengah Bank Indonesia (BI) rupiah bercokol di Rp9.035 dengan rata-rata perdagangan Rp8.990-Rp9.080 per USD.

Sementara itu, analis Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih mengatakan, pasar Eropa ditutup naik merespons turunnya Giro Wajib Minimum (GWM) di China. "Pasar Asia akan bergerak mixed, dan rupiah akan melemah dikisaran antara Rp9.020-Rp9.050 per USD," ujarnya

Ada informasi perayaan hari ulang tahun presiden Amerika Serikat (AS) atau kerap disebut Washington's Day, membuat pergerakan mata uang Negeri Pam Sam tersebut tak banyak berubah. Hasilnya, rupiah diperdagangkan stagnan. Kurs tengah Bank Indonesia (BI) mencatatkan rupiah diperdagangkan di level Rp9.045 per USD dengan kisaran perdagangan Rp9.000-Rp9.090 per USD.

Kemarin, Riset Samuel Sekuritas mengungkapkan sentimen global cenderung masih positif didukung data penjualan rumah AS yang membaik disertai keputusan bank sentral China menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) bank, sehingga pasar Asia akan positif. "Tetapi tidak untuk rupiah karena kedua faktor tersebut, cenderung menguatkan mata dolar AS," jelasnya

Treasury Analyst Telkom Sigma Rahadyo Anggoro mengatakan rupiah cenderung bergerak sideways di level Rp8.985-9.025 per USD. Adapun yang mempengaruhi adalah pengaruh Federal Open Market Committee (FOMC) meeting pada Jumat yang menyatakan belum adanya kepastian tentang quantitative easing karena pemerintah masih melihat data-data ekonomi Amerika yang akan keluar. "Penyelesaian krisis Zona Eropa ikut berpengaruh terhadap pergerakan euro. Mundurnya jadwal pemberian paket bantuan Yunani sempat membuat euro bergerak untuk mencairkan dana talangan kepada Yunani," katanya.

"Tren penurunan ekspor ini sudah dalam lima bulan terakhir. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat peranan ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi tahun lalu sebesar 26,3 persen. Melemahnya ekspor akibat krisis yang terjadi di Eropa," tandasnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

KSPPS/USPPS Bisa Kelola Dana Zakat dan Wakaf

KSPPS/USPPS Bisa Kelola Dana Zakat dan Wakaf NERACA Bogor - Koperasi Simpan Pinjam Pembiayaan Syariah (KSPPS) dan Unit Simpan Pinjam…

Ada Peluang Kenaikan Bunga The Fed, Rupiah Melemah

    NERACA   Jakarta - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa sore, bergerak melemah sebesar 16…

Jika Berinovasi, PLN Bisa Hemat Hingga Rp1 triliun

  NERACA   Jakarta - Perusahaan Listrik Negara (PLN) memproyeksikan jumlah efisiensi yang diciptakan dari inovasi-inovasi korporat bisa mencapai Rp1…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

10 LKM Syariah Kantongi Izin dari OJK

  NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan izin operasi sepuluh Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKM Syariah) yang diharapkan…

BTN Ajak Mahasiswa jadi Entrepreneur Properti

  NERACA Yogyakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. siap mengawal para mahasiswa untuk menjadi entrepreneur muda handal di bidang properti…

Bank Muamalat Resmikan Unit Program Social Trust Fund Di Bali

  NERACA Jakarta - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. (Bank Muamalat) secara resmi memperkenalkan Unit Program Social Trust Fund (STF)…