Paropo, Surga Kecil di Danau Toba

Suara alarm dari telepon genggam menunjukkan pukul 3 pagi. Saya pun bergegas untuk berangkat menuju Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, Banten, menumpangi pesawat yang akan terbang pukul 6 pagi mengantar saya ke Bandar Udara Internasional Kualanamu di Medan, Sumateran Utara, yang pada akhir pekan di bulan Maret kemarin. Di sana saya dan teman-teman hendak ke Danau Toba yang merupakan salah satu destinasi wisata populer di Tanah Air.

Danau yang terbentuk akibat letusan Gunung Toba itu menyimpan sejuta panorama cantik nan memesona. Legenda terciptanya pun sudah mendunia, sehingga saya semakin penasaran untuk datang. Menggapai Danau Toba bukan hal sulit. Perjalanan udara dapat dengan mudah ditempuh karena di sana terdapat Pelabuhan Udara Silangit.

Namun saya bersama rombongan memilih mendarat di Kualanamu. Alasannya agar bisa "mengangkangi" sepeda motor hingga Danau Toba. Penerbangan pagi jadi pilihan karena diharapkan sampai di lokasi tidak larut malam dikutip dari CNN Indonesia.

Perjalanan udara ditempuh selama sekitar dua jam. Dari bandara, saya naik kereta api Railink menuju Medan. Saat itu cuaca cerah berawan. Perjalanan seru menggunakan sepeda motor dimulai dari Medan-Berastagi-Paropo-Silalahi dengan jarak tempuh sekitar 140 kilometer.

Jalanan yang dilewati cenderung lengang dan motor mampu dipacu dengan kecepatan sedang sekitar 60-80 kilometer per jam untuk melibas berbagai kondisi. Yang membuat perjalanan kian menarik adalah mengendarai skuter yang umumnya dikendarai untuk di jalan perkotaan. Dengan skuter perjalanan cenderung lebih santai sehingga saya dan teman-teman bisa lebih menikmati pemandangan sekeliling jalanan.

Selama perjalanan menuju Berastagi, sesekali terasa hembusan angin cukup kencang dari kiri dan kanan. Efeknya bagi pengendara motor cukup terdorong ke sisi kanan dan sebaliknya. Bagi yang berencana ke sana menggunakan roda dua, disarankan untuk menyiapkan perlengkapan berkendara hingga jas hujan mengingat kondisi cuaca yang tidak menentu.

Keindahan alam dan suasana di sekitar masih sangat alami dan tak bisa dipungkiri seperti mengajak saya untuk merasakan ketenangannya. Rasa capai, pegal dan bergelut dengan waktu seakan terobati oleh hadiah Ilahi yang begitu indah.

Setelah menempuh perjalanan hampir 3,5 jam, kami memutuskan singgah di Berastagi, sebuah kota kecil yang menghubungkan antara Medan dan Danau Toba. Setelah selesai berisitirahat, kami kembali melanjutkan perjalanan.

Matahari semakin meninggalkan sore, namun saya masih harus menempuh sekitar tiga jam perjalanan ke lokasi tujuan. Sensasi "menggoyang" roda dua semakin terbatas saat bergerak menuju "surga" yang berada di balik perbukitan.

Di situ saya agak kehilangan aura keindahan Danau Toba, yang ada hanya rasa dingin menyengat tubuh ini dan dihantui gelapnya malam. Perjalanan dari Berastagi menuju Silalahi sangat menantang adrenalin. Di sepanjang jalan tanpa penerangan memungkinkan pergerakan hanya dibantu lampu depan sepeda motor seadanya.

Selain gelapnya jalan, rombongan juga dihadapi situasi jalan yang jalan licin, berkelok-kelok, menanjak dan menurun. Hal itu menuntut konsentrasi bagi pengendara motor. Beruntung kondisi aspal mulus dan hanya beberapa berlubang dan rusak.

Pukul 9 malam kami akhirnya sampai di Silalahi dengan keindahan alamnya tertutup malam setelah menempuh jarak total sekitar 150 kilometer, dari Medan-Berastagi-Paropo-Silalahi. Kami bermalam di penginapan sederhana untuk beristirahat demi menikmati panaroma Danau Toba dari sisi Toba Samosir esok paginya.

Hari kedua, sunrise Danau Toba mulai menampakkan dirinya sekitar pukul 5 pagi. Rasa letih akibat menempuh perjalanan jarak jauh yang cukup menantang akhirnya terjawab setelah menikmati sinar matahari pagi Danau Toba. Di depan Debang Resort--nama hotel tempat saya menginap, terlihat Pulau Samosir.

Untuk sampai ke sana turis harus menyeberang menggunakan perahu yang dioperasikan oleh warga setempat. Namun kami lebih memilih ke Air Terjun Sipiso-Piso di Desa Tongging yang lokasinya tak jauh dari Silalahi, sekitar 30 menit perjalanan. Perjalanan menuju air terjun juga cukup menantang adrenalin, sebab kami harus melewati jalan berbatu dengan tanjakan dan turunan yang tajam.

Di sana pemandangan juga terlihat. Rasanya ini menjadi "surga" kedua setelah daerah Silalahi. Dari kejauhan kami masih bisa menyaksikan hamparan luas Danau Toba, meski daya tarik Air Terjun Sipiso-piso dengan ketinggian sekitar 120 meter tak kalah menarik.

BERITA TERKAIT

KPPU Awasi Kemitraan Cegah Kerugian Usaha Kecil

KPPU Awasi Kemitraan Cegah Kerugian Usaha Kecil NERACA Medan - Komisi Pengawas Persaingan Usaha terus mensosialisasikan pengawasan kemitraan untuk mencegah…

Hasil Riset Sebutkan Rupiah Punya Risiko Kecil - Krisis Mata Uang

    NERACA   Jakarta - Riset terbaru dari Nomura Holdings Inc menyatakan Indonesia merupakan salah satu dari delapan negara…

Kematian Massal Ikan Danau Toba, KKP Terjunkan Satgas Penanganan - Akuakultur

NERACA Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menerjunkan Tim Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Penyakit Ikan dan Lingkungan guna menindaklanjuti…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Kemenpar Perluas Pasar Wisata Lewat Pameran di Luar Negeri

Kementerian Pariwisata serius menggarap potensi MICE (Meeting, Incentive, Convention, dan Exhibition), salah satunya dengan mengikuti pameran Incentive Travel & Convention,…

Pariwisata NTB Dipastikan Segera Pulih

Pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) dipastikan segera pulih karena proses pemulihannya berjalan sesuai rencana yang dikawal langsung oleh dua Menteri…

Desa Wisata di Tobasa Siap Sambut Pengunjung

Jalan-jalan ke Danau Toba, tidak lengkap rasanya jika belum mengunjungi desa adat, salah satunya Desa Wisata Meat, Kecamatan Tampahan di…