Upacara Panen Kopi Sengon di Blitar

"Perkebunan Sengon pinaringana lestari, widodo mugi angsal ridhone Gusti ingkang maha suci.." (Perkebunan Sengon berilah kelestarian, kesejahteraan semoga memperoleh kerelaan Tuhan yang Maha Suci)

Sayup-sayup Suwari, sesepuh perkebunan Sengon-Kawisari, melafalkan doa dan permohonan dalam bahasa Jawa. Suasana magis semakin terasa berkat aroma kemenyan yang sengaja dibakar. Suwari bersama para mandor besar dan beberapa karyawan Perkebunan Kopi Sengon di Blitar, Jawa Timur duduk mengitari sebuah batu berukuran sedang atau akrab disebut Punden Mbah Gandul.

Di dekat batu diletakkan aneka rupa makanan mulai dari nasi sampai ayam bumbu kuning beserta serundengnya (parutan kelapa disangrai dengan rasa manis). "Nggih (ya/amin)," kata para karyawan menjawab doa yang diucapkan Suwari.

Ritual ini mengawali tradisi upacara panen kopi Sengon-Kawisari, salah satu perkebunan kopi tertua di Indonesia. Dijelaskan Suwari, ritual sudah dilakukan sejak ratusan tahun silam. Punden dipercaya sebagai titik tempat roh suci pelindung berada, sehingga ritual bertujuan untuk memohon kelancaran prosesi acara panen kopi.

Doa secara Kejawen atau budaya Jawa kemudian disusul dengan doa secara Islam oleh Moh. Da'I. Rangkaian doa ditutup dengan makan bersama. Ada seorang yang membagikan daun pisang yang dialasi dengan kertas koran. Dua orang lainnya bertugas membagikan nasi.

Nasi tidak diambil dengan centong, melainkan dengan piring, disusul dengan sepiring aneka lauk pauk. Semua makan, semua lahap, semua menikmati. Yang tidak makan di lokasi memilih membungkus dan membawanya pulang. Mereka menyebutnya sebagai 'berkat'. Setelah ritual di Punden Mbah Gandul, ritual doa dilanjutkan di Punden Selo Tumpuk atau secara harfiah berarti batu bertumpuk.

Jika punden sebelumnya terletak di tengah perkebunan, maka Punden Selo Tumpuk berada tak jauh dari pabrik kopi. Sampai di lokasi, para perempuan pemetik kopi menyambut. Mereka yang mengenakan kebaya warna-warni, bercaping dan menggendong bokor bambu, berdiri berjajar. Saat musik dari gamelan mulai terdengar, mereka mulai menari.

Para lalu menghampiri pohon-pohon kopi dan mulai memetik biji kopi sebagai simbol dimulainya musim panen. Tak berapa lama, musik dan tarian berhenti, kemudian ritual di Punden Selo Tumpuk dimulai.

Ritual memiliki warna berbeda sebab nuansa adat Hindu begitu kental lewat aroma dupa, persembahan berupa buah-buahan yang ditumpuk serta beberapa wadah berisi bunga-bunga. Ditemani empat laki-laki berpakaian serba putih dan dua perempuan berkebaya, pemimpin doa dari komunitas Hindu, Bedande Suyanto, merapalkan doa.

Rangkaian doa secara Hindu lalu disusul dengan doa secara Kejawen dan Islam. Lagi-lagi peserta ritual menikmati sesi makan bersama setelah doa usai.

Prosesi perkawinan Sri Gondel dan Joko Gondel

Prosesi dilanjutkan dengan ritual petik kopi. Pada salah satu pohon kopi, terdapat janur yang ditata mengitari pohon. Di sini disiapkan dua sisir pisang raja serta seekor ayam kampung masak. Suwari yang bertindak sebagai dukun manten memetik biji kopi dari empat penjuru mata angin dan memasukkannya ke dalam wadah yang disakralkan, bokor kencono.

Biji kopi yang dipetik sebanyak 14 butir mewakili hari pemetikan sesuai primbon Jawa yakni, Sabtu Legi. Sebanyak 14 butir kopi sebagai hasil petik perdana mewakili sepasang pengantin, Sri Gondel dan Joko Gondel. Sri berarti perempuan dan Joko berarti laki-laki.

Bokor selanjutnya digendong oleh Suharmanto, mandor pabrik. Ia bersama rombongan termasuk dukun manten dan sepasang pria berpakaian Jawa lengkap yang membawa sepasang kembar mayang. Kembar mayang berupa batang pisang dengan hiasan berupa janur, aneka daun serta manggar atau bunga kelapa.

Mereka berarak menuju pintu gerbang pabrik disambut dengan umbul-umbul dari batang bambu dihias janur layaknya acara pernikahan yang sesungguhnya. Rombongan berjalan perlahan diiringi tiga penari barong. Sampai di gerbang, mereka disambut dengan sepasang perempuan yang membawa kembar mayang. Perkawinan Sri Gondel dan Joko Gondel pun ditandai dengan pertukaran kembar mayang.

Perjalanan berlanjut menuju ke dalam pabrik atau lokasi penampungan hasil petik. Rombogan disambut oleh Suparto, pemimpin kebun. Bokor lalu diserahkan sebagai lambang penyerahan hasil kopi yang disertai rasa syukur dan harapan kesejahteraan warga perkebunan. Layaknya pernikahan pada umumnya, sepasang pengantin pun dibawa ke kamar pengantin.

Rombongan lalu meletakkan bokor serta kembar mayang di ruang grebusan kopi atau lokasi untuk memilah ukuran biji kopi.

Ungkapan Syukur pada Leluhur

Rasa syukur tak hanya diungkapkan pada Tuhan sang pemberi hidup, tetapi juga para leluhur yang menjadi cikal bakal pengelolaan kopi di Sengon dan Kawisari. Selamatan leluhur kopi dilakukan di depan lukisan seorang pria berkumis.

Menurut pemilik Tugu Group sekaligus pemilik perkebunan, Widya Juliawati, pria dalam lukisan itu adalah salah satu leluhur yang menyebarkan tanaman kopi di wilayah Blitar. Meski tak mengetahui nama sang tokoh, Widya menyebut ia masih keturunan Sultan Hamengkubuwono II. "Ia bersama pangeran-pangeran lain yang membawa tanaman kopi ke wilayah Blitar. Makam mereka pun ada," katanya dikutip CNNIndonesia.com.

Selamatan leluhur kopi ditandai dengan minum kopi di depan sang leluhur. Kopi yang diminum dibuat dari biji kopi terbaik dari Perkebunan Kopi Sengon. Di depan lukisan terdapat meja dengan cengkeh pilihan dan biji kopi terbaik sebagai "hidangan" untuk para leluhur. Di sekitar meja persembahan, terdapat beberapa perempuan yang sedang melakukan sortir cengkeh.

Selamatan pun dilanjutkan dengan membagikan aneka jajanan pasar sebagai ramah tamah. Ajakan syukur ini juga ditularkan pada seluruh warga perkebunan dengan selamatan di gudang kopi.

Diawali doa singkat secara Islam, acara pun ditutup dengan makan bersama. Perkawinan Sri Gondel dan Joko Gondel setiap tahunnya memang selalu membawa kegembiraan bagi warga dan tamu di tempat penginapan sekitar Perkebunan Kopi Sengon. Selain bersyukur atas panen tahun ini, segala doa yang dipanjatkan sekiranya bisa membuat biji-biji kopi bermekaran lebih lebat di tahun mendatang.

BERITA TERKAIT

Luas Panen Padi di Sumsel Berkurang 37 Persen

Luas Panen Padi di Sumsel Berkurang 37 Persen NERACA Palembang - Luas panen padi di Sumatera Selatan (Sumsel) berkurang 513.210…

Menkop Lepas Ekspor Kopi ke California

Menteri Koperasi dan UKM Puspayoga melepas ekspor kopi perdana dari Jakarta ke California, Amerika Serikat (AS), seiring ajang Rembug Kopi…

Simac Gelar Diskusi dan Launching Kedai Kopi Abah

Bekasi, Santri Millenial Center (SIMAC) mengadakan diskusi dan launching kedai Kopi Abah dengan mengusung tema Membumikan Gerakan Santri Wirausahawan (GUS…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Destinasi Jelajah Gua di Gunungkidul

Bagi pecinta petualangan sekaligus sejarah dan keindahan alam, kegiatan menjelajahi gua paling tepat dijadikan agenda berlibur. Jika ingin menikmati keindahan…

Pulau-pulau Eksotis di Timur Indonesia

Selama ini Bali dan Lombok adalah dua nama pulau yang kerap menjadi pilihan wisatawan mancanegara untuk menghabiskan waktu berliburnya. Padahal…

Kemenpar Siap Kembangkan Ekowisata Hutan Gede Pangrango

Dalam siapkan ekowisata hutan, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) akan menggelar bimbingan teknis (bimtek), salah satunya untuk pengelola Taman Nasional Gunung Gede…