Virus Herpes Salah Satu Pemicu Demensia

Studi terbaru yang dilakukan oleh peneliti menungkap adanya kaitan antara virus herpes dengan penyakit demensia. Temuan in isekalius membantu mengungkapa penyebab penyakit demensia yang kerap menyerang orang-orang lanjut usia.

Peneliti mengungkap adanya keterkaitan yang kuat antara virus herpes 6A dan 7 yang memengaruhi fungsi kognitif seseorang. Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Neuron itu melibatkan 622 fungsi otak orang-orang yang memiliki tanda-tanda seseorang mengidap demensia. Pengidapnya memiliki level virus herpes yang dua kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak memiliki tanda-tanda mengidap penyakit tersebut.

Peneliti mendapati sekitar 322 orang yang terlibat dalam studi tidak berpeluang mengidap Alzheimer. Dari hasil penelitian ini, tim peneliti menyimpulkan virus herpes berpengaruh besar dalam kerja otak.

Terlebih sebagian teori mengatakan alzheimer merupakan penyakit gabungan penurunan kinerja otak. Meski hingga kini, dokter dan sejumlah peneliti belum dapat memastikan penyebab dari penyakit tersebut. "Saya rasa kita belum mampu menjawab apakah virus herpes merupakan penyebab utama penyakit Alzheimer. Tapi yang jelas, virus ini mengganggu jaringan yang mempercepat kerja otak dan ada kaitannya dengan topologi Alzheimer," ungkap Joel Dudley, ahli genetika dan tim peneliti studi seperti dilaporkan CNN.

Lebih jauh, ia meyakini studi ini bisa membantu peneliti mengidentifikasi virus yang memengaruhi kerja otak untuk mendiagnosa risiko pengidap demensia. Meski begitu, Dudley dan tim mengingatkan agar orang tidak perlu khawatir dengan temuan mereka. Hal ini karena sekitar 90 persen orang dewasa tercatat telah terkena virus herpes hingga usia maksimal 50 tahun.

"Ini adalah bukti paling menarik soal penyebab Alzheimer. Meskipun temuan ini berpotensi membuka pintu untuk pilihan pengobatan baru, namun tidak mengubah risiko dan kerentanan penyakit ini atau kemampuan untuk mengobati Alzheimer," ungkap profesor neurologi dan spikiatri, Dr Sam Gandy.

Di sisi lain, terlalu banyak duduk memang tak baik untuk kesehatan misalnya peredaran darah dan penyakit jantung. Bukan hanya itu, duduk terlalu lama ternyata juga berdampak buruk bagi ingatan. Kebiasaan ini dapat mengakibatkan perubahan fungsi kognitif dan penyakit demensia.

Penelitian terbaru dari University of California, Los Angeles (UCLA) Amerika Serikat menghubungkan duduk terlalu banyak dengan masalah ingatan pada orang dewasa. Penelitian mengungkapkan bahwa 'perilaku' tubuh yang berdiam terlalu lama seperti duduk terlalu lama saat bekerja berhubungan dengan perubahan pada bagian otak yang mengatur soal memori.

Studi anyar yang diunggah di jurnal PLOS One (12/4) itu menemukan adanya salah satu bagian otak yang tidak berfungsi karena perilaku duduk terlalu lama. Dalam pernyataan resmi, peneliti menyebut perilaku diam dengan duduk terlalu lama berhubungan dengan menipisnya bagian lobus temporal medial pada otak. Bagian ini merupakan bagian yang membentuk dan menyimpan ingatan.

Riset ini dilakukan terhadap 35 partisipan dengan rentang usia 45 sampai 75 tahun. Awalnya, para peneliti menanyakan rutinitas aktivitas fisik yang mereka lakukan setiap jarinya termasuk rata-rata waktu yang dihabiskan untuk duduk dalam sehari pada beberapa pekan terakhir. Partisipan melaporkan mereka rata-rata dapat duduk tiga hingga tujuh jam per hari.

Para peneliti lalu mengambil gambar otak para partisipan dengan menggunakan scan MRI beresolusi tinggi. Hasilnya, peneliti menemukan duduk terlalu lama membuat dapat menipiskan bagian otak tertentu terlepas dari banyaknya kegiatan fisik yang dilakukan.

Peneliti bahkan menyatakan aktivitas yang tinggi sekalipun tak cukup mengimbangi efek duduk dalam waktu yang lama. "Kebiasaan berdiam terlalu lama berpengaruh signifikan terhadap penipisan bagian otak dan aktivitas fisik, bahkan untuk jumlah yang tinggi tak bisa membantu melawan bahaya duduk terlalu lama," kata peneliti dikutip dari Live Science.

Peneliti lalu menyimpulkan duduk terlalu lama dapat penipisan ini dapat menjadi awal dari penurunan fungsi kognitif dan penyakit demensia. Peneliti lalu berharap agar para ahli kesehatan dapat merancang pendekatan medis yang dapat meningkatkan kesehatan otak.

BERITA TERKAIT

BPS: Tarif Angkutan Pemicu Inflasi di Banten

BPS: Tarif Angkutan Pemicu Inflasi di Banten NERACA Serang - Badan Pusat Statistik mencatat kenaikan tarif angkutan antarkota dan udara…

Virus Korupsi di Birokrasi

Reformasi birokrasi yang digulirkan sejak pemerintahan masa lalu hingga saat ini, ternyata belum mampu memperbaiki budaya birokrasi, terutama menekan perilaku…

Satu Dekade, Kemenperin Raih Opini WTP Berturut - Laporan Keuangan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk laporan keuangan…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Kekurangan Vitamin D Bisa Bikin Tubuh Jadi Obesitas

Kekurangan vitamin D ternyata tak hanya berdampak bagi tulang atau gigi. Penelitian terbaru juga menemukan hubungan kekurangan vitamin D dengan…

Ini Alasan Kenapa Makan Cokelat Bikin Orang Bahagia

Di sore hari yang memusingkan, segelas cokelat panas bisa membantu melepaskan segala kepenatan yang mengganggu pikiran. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa…

Menguak Mitos Seks Populer

Tiap orang tumbuh dalam budaya yang mengajarkan hal-hal berbeda mengenai seksualitas. Selain belajar tentang seks dari lingkungan dan keluarga, banyak…