Alasan Filler Payudara Sebaiknya Tak Dilakukan

Tubuh indah dan sehat bisa didapat melalui latihan fisik dan dipadu dengan asupan gizi seimbang. Namun kemajuan teknologi memberikan wanita kemudahan untuk mendapat bentuk tubuh ideal termasuk dengan filler.

Filler biasanya hanya diaplikasikan untuk hidung agar tampak lebih mancung atau 'mengisi' garis senyum sehingga wajah terlihat lebih muda. Namun dalam perkembangannya, filler juga bisa diaplikasikan untuk payudara. Akan tetapi, Dokter Enrina Diah, spesialis bedah plastik dan craniofacial, menyarankan filler payudara tidak dilakukan karena cukup berisiko. "Ini tidak boleh, tapi sayangnya di luar sana banyak sekali praktik filler payudara," kata Enrina saat ditemui di Ultimo Clinic, beberapa waktu lalu dikutip dari CNN Indonesia.

Filler umumnya menggunakan cairan yang disebut hyaluronic acid, termasuk untuk payudara. Namun payudara memiliki banyak pembuluh darah sehingga suntik filler dapat menyumbat pembuluh darah. Penyumbatan dapat mengakibatkan benjolan atau infeksi dan dampak yang fatal adalah penyumbatan pembuluh darah ke jantung atau otak. "Penyumbatan bisa mengakibatkan kematian," imbuhnya.

Enrina mengatakan teknologi filler payudara di Amerika maupun Eropa sudah dilarang. Ia berharap ada kebijakan dari kementerian atau BPOM agar filler payudara tidak lagi dipraktikkan di Indonesia.

Dua cara aman demi bentuk payudara indah

Enrina menjelaskan ada dua cara yang dapat ditempuh para wanita untuk mendapatkan bentuk payudara yang diinginkan. Kedua cara ini yakni fat transfer atau transfer lemak dan implan. Masing-masing metode punya kelebihan dan kekurangan. Untuk fat transfer, lemak yang digunakan untuk mengisi payudara diambil dari lemak perut. Metode ini bisa memakan waktu cukup lama, mulai dari mengambil lemak, menyimpannya kemudian lemak diisi ke payudara.

Kelebihannya, lemak perut bukan merupakan benda asing bagi tubuh, sehingga wanita tak perlu merasa khawatir. Kekurangannya, kata Enrina, bentuk payudara tak selalu sesuai keinginan sebab lemak yang masuk berupa cairan dan langsung mengisi payudara. "Kelemahannya juga kalau dilakukan pengecekan untuk deteksi kanker payudara, ini bisa menyulitkan dokter untuk membedakan sel kanker atau kista berisi gumpalan sel lemak yang mati," katanya.

Lemak yang diinjeksikan ke payudara sebagian besar berupa sel lemak mati, sehingga biasanya ditambahkan sel lemak hidup agar payudara tetap pada ukurannya. Sedangkan metode implan, kata Enrina, jadi metode yang paling banyak diminati di klinik miliknya. Implan dilakukan dengan menyelipkan high strength cohesive gel atau gel dalam suatu wadah pada bagian bawah jaringan atau otot payudara.

Prosedur implan memiliki kelebihan antara lain, bentuk payudara sesuai dengan yang diinginkan, kemudian pasien dapat mengambil kembali implan jika diinginkan. Enrina berkata, implan tidak akan mengganggu proses deteksi kanker payudara dan proses menyusui pada ibu. "Tapi ya bagi sebagian orang, ini benda asing jadi mungkin ada rasa tidak nyaman kalau ada benda asing di dalam tubuh," lanjutnya.

Di sisi lain, Botoks ternyata tidak hanya bermanfaat bagi kulit wajah tetapi bisa juga digunakan untuk menyempurnakan payudara. Seorang ahli bedah plastik kota New York merintis satu metode mempergunakan botulinum untuk mempercepat proses penyembuhan lebih baik bagi pasiennya yang menjalani operasi payudara. “Metode ini masuk akal bagi saya,” kata Matthew Schulman, yang mempergunakan Botoks pada sekitar 500 pasiennya, seperti dikutip dari laman NY Daily News.

Metode ini sangat sederhana: Satu operasi pembesaran payudara mengharuskan dokter membedah otot dada perempuan sebelum mengangkatnya dan mengganti dengan implan. Tetapi, sebagian rasa sakit yang diderita pasien muncul ketika otot-otot itu dalam proses penyembuhan. Dengan menyuntikkan Botoks ke daerah tertentu, waktu penyembuhan menjadi cepat.

Banyak dokter mempergunakan Valium, obat anti cemas yang juga melemaskan otot, tetapi obat ini masuk dalam aliran darah sehingga berdampak pada seluruh tubuh. Sebaliknya, Botoks hanya beredar di sasaran suntikannya saja. Selain itu, Botoks juga mencegah payudara yang baru dibesarkan tampak terlalu “ranum”. Biasanya, implan payudara terletak terlalu tinggi setelah operasi hingga otot dibawahnya menjadi lemas secara alami. Dengan metode ini, Botoks membantu implan turun dengan cepat.

Botoks digunakan secara luas untuk wajah sejak 1990an, tetapi Schulman mengaku dia adalah dokter bedah plastik pertama yang mulai mempergunakannya sebagai standar prosedur dalam operasi kosmetik payudara. Badan Pengawas Obat dan Makanan Federal Amerika Serikat atau FDA mengatur bahwa Botoks adalah pengobatan untuk keriput atau gejala penuaan lain di sekitar alis, bibir dan leher. Tetapi ahli bedah bisa mempergunakannya tanpa menyebut label itu sesuai kebutuhan masing-masing.

Schulman pun telah berbagi teknik tersebut dengan dokter lain. “Saya tidak memerlukan kerahasiaan,” katanya. Dampak negatif dari prosedur ini adalah tambahan biaya sekitar US$500 atau sekitar Rp7 juta, namun Schulman mengatakan dokter lain menawarkan harga yang lebih murah lagi.

BERITA TERKAIT

Menteri LHK: Pemulihan Lingkungan Era Jokowi Dilakukan dengan Langkah Berani

Menteri LHK: Pemulihan Lingkungan Era Jokowi Dilakukan dengan Langkah Berani NERACA Jakarta - Masyarakat dapat melihat dan membuktikan langkah-langkah berani…

JICT Tak Toleransi Tindakan Melanggar Hukum Karyawan

JICT Tak Toleransi Tindakan Melanggar Hukum Karyawan NERACA Jakarta - PT Jakarta International Container Terminal (JICT) tidak akan pernah memberi…

Pembangunan Infrastruktur Tak Dijadikan “Dagangan Politik”

NERACA Jakarta-Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu mengungkapkan, pembangunan infrastruktur seperti jalan tol hendaknya tidak dijadikan sebagai 'dagangan politik'. Sebab,…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Peneliti Temukan Obat Baru untuk Kanker Stadium Lanjut

Peneliti memberikan harapan baru bagi penderita penyakit ganas, kanker stadium lanjut. Sekelompok peneliti di Inggris berhasil menemukan obat yang dapat…

Cegah Perubahan Iklim dengan Atasi Obesitas dan Kurang Gizi

Perubahan iklim tak cuma membuat cuaca jadi tak menentu, tapi juga berhubungan erat dengan masalah gizi seperti obesitas dan kelaparan.…

Kratom, Dilema Daun Ajaib dan Zat Berbahaya

Jika menyebut kopi bisa dipastikan hampir semua orang akan paham arah pembicaraan, namun ceritanya akan ketika bertemu dengan kata Kratom…