Rusia Disebut Pasar Ekspor Prospektif bagi Indonesia

NERACA

Jakarta – Rusia merupakan pasar ekspor yang prospektif untuk produk dan komoditas Indonesia, kata Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Rusia Muhammad Wahid Supriyadi.

"Rusia menawarkan peluang bagi masuknya produk dan komoditas Indonesia ke pasar dalam negeri Rusia," katanya usai "Sosialisasi Pendidikan di Rusia" di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, belum lama ini, disalin dari Antara.

Menurut dia, beberapa produk ekspor unggulan Indonesia dapat mengisi kebutuhan konsumsi dalam negeri Rusia, seperti minyak kelapa sawit, kopi, teh, cokelat, furnitur, dan produk makanan seperti buah-buahan tropis, ikan, dan produk laut lainnya.

"Seiring dengan perkembangan sistem ekonomi dan perdagangan Rusia yang semakin terbuka serta meningkatnya jumlah penduduk Rusia yang masuk ke dalam kategori 'middle-high income', peluang bagi produk Indonesia untuk memasuki pasar Rusia terbuka lebar," katanya.

Apalagi, kata Wahid, dengan adanya kebijakan Rusia untuk memberlakukan larangan impor produk pertanian dari Barat yang membuka peluang bagi negara-negara non-pemberi sanksi untuk memasuki pasar produk pangan di Rusia, termasuk Indonesia.

Ia mengatakan, kebijakan Rusia dalam beberapa tahun belakangan ini yang mendorong kerja sama regional dengan negara-negara Asia Timur, Asia Tenggara dan Pasifik, merupakan langkah Rusia untuk terus memperluas pembangunan wilayah.

"Selain itu juga membuka pasar yang baru yang lebih menjanjikan seperti di bidang energi, investasi, kolaborasi industri, dan ekspor nonenergi bekerja sama dengan berbagai negara," katanya. Menurut dia, hasil tindak lanjut penyelenggaraan Festival Indonesia 2016 di Rusia, telah dilakukan pembentukan "permanent display" produk makanan Indonesia di Food City Moskow, pusat grosir produk makanan terbesar di Rusia.

"Selain itu, pemerintah Rusia juga telah menunjuk maskapai penerbangan Utair untuk melayani jalur penerbangan langsung ke Indonesia, yang saat ini sedang dalam persiapan dan koordinasi," kata Wahid.

Belum lama ini, diwartakan, industri batik Indonesia dinilai telah menguasai pasar dunia sehingga mampu menjadi penggerak bagi perekonomian nasional. Hal ini terlihat dari capaian nilai ekspor batik dan produk batik pada tahun 2017 sebesar USD58,46 juta dengan negara tujuan utama meliputi Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa.

“Industri batik nasional memiliki daya saing komparatif dan kompetitif di pasar internasional. Indonesia juga menjadi market leader yang menguasai pasar batik dunia,” kata Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Gati Wibawaningsih di Jakarta, disalin dari siaran resmi.

Gati mengungkapkan, perdagangan produk pakaian jadi di dunia saat ini mencapai USD442 miliar. Ini bisa menjadi peluang besar bagi industri batik nasional agar meningkatkan pangsa pasarnya, mengingat batik sebagai salah satu bahan baku untuk produk pakaian jadi.

“Industri batik kita didominasi oleh sektor IKM yang tersebar di 101 sentra seluruh wilayah Indonesia. Dari jumlah tersebut, total penyerapan tenaga kerjanya mencapai 15 ribu orang,” paparnya. Potensi ini terus dikembangkan, seiring upaya pemerintah mendorong industri padat karya berorientasi ekspor.

Untuk itu, dalam rangka menggenjot produktivitas dan daya saing industri batik nasional, Kementerian Perindustrian telah menjalankan beberapa program strategis seperti peningkatan kompetensi sumber daya manusia dan pengembangaan kualitas produk. Selain itu, penerapan standardisasi, fasilitasi mesin dan peralatan produksi, serta promosi dan pameran baik di dalam maupun luar negeri.

“Salah satu, kegiatan yang kami lakukan berkat kerja sama dengan Yayasan Batik Indonesia (YBI), yaitu menyelenggarakan Pameran Batik Warisan Budaya XII di Plasa Pameran Industri,” tutur Gati. Pameran ini selain bertujuan untuk mempromosikan karya-karya unggulan dari para pengrajin batik dalam negeri, juga guna memperluas pasar mereka yang didominasi oleh pelaku IKM.

Pameran yang tahun ini mengangkat tema Cerah Ceria Pesona Batik Madura, diselenggarakan selama empat hari, mulai tanggal 15-18 Mei 2018, dengan diikuti sebanyak 48 pengrajin batik binaan YBI. Dari beberapa peserta, menampilkan batik dengan penggunaan zat warna alam sebagai upaya menghasilkan produk yang ramah lingkungan dan bernilai tambah tinggi.

“Pengembangan zat warna alam juga turut mengurangi importasi zat warna sintetik,” jelas Gati. Di tengah persaingan global yang semakin kompetitif dan dinamis, menurutnya, preferensi konsumen terhadap produk ramah lingkungan terus meningkat. “Sehingga batik warna alam ini hadir menjawab tantangan,” imbuhnya.

BERITA TERKAIT

Dana Desa Disebut Mampu Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

  NERACA   Jakarta - Ekonom Ilya Avianti mengatakan bila pengelolaan dana desa mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga pertanggungjawaban…

BI Siapkan Rekening Simpanan untuk Devisa Ekspor

    NERACA Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyiapkan rekening simpanan khusus untuk memudahkan pengelolaan devisa hasil ekspor menyusul kebijakan memperkuat…

Mendag: Potensi Ekspor ke China Makin Terbuka

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyebutkan potensi ekspor ke China semakin terbuka lebar dari partisipasi Indonesia pada China…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Produk Perkebunan - Agar Regulator Turunkan Pungutan Sawit untuk Daya Saing Ekspor

NERACA Jakarta – Pemerintah diminta menurunkan pungutan ekspor (PE) sawit untuk mendongkrak harga tandan buah segar (TBS) dan meningkatkan daya…

Harga Minyak Dipicu Penurunan Stok AS dan Pasokan OPEC

NERACA Jakarta – Minyak berjangka naik untuk sesi kedua berturut-turut pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), setelah penurunan tajam…

Kerjasama Internasional - Negara Anggota Sepakat Perundingan RCEP Bakal Tuntas di 2019

NERACA Jakarta – Negara-negara anggota Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) menyepakati menuntaskan negosiasi RCEP pada 2019. Komitmen tersebut tertuang dalam…