Pertumbuhan Makro Positif, Bukit Asam Raup Untung Rp 3 Triliun

NERACA

Jakarta - PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) meraup laba bersih sebesar Rp 3 triliun pada 2011. Jumlah laba ini melonjak 50% dibandingkan pencapaian di 2010 senilai Rp 2 triliun. Menurut Direktur Utama PTBA, Milawarma, lonjakan tersebut didukung oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia. Peningkatan laba yang cukup signifikan ini berkat pertumbuhan ekonomi Indonesia 6%, volume penjualan 5%, serta efisiensi biaya.

Dia mengatakan, tahun ini PTBA mengincar pertumbuhan laba bersih 20% dan mematok pendapatan sebesar Rp 15 triliun yang ditopang oleh pengangkutan batu bara kereta api. Ini berarti, pendapatan perseroan meningkat 42,85% jika dibandingkan periode yang sama di 2010 senilai Rp 10,5 triliun. "Kenaikan pendapatan akan ditopang dari volume penjualan yang diperkirakan sebanyak 18,6 juta ton dengan produksi 16,3 juta ton," kata Milawarma di Jakarta, Senin (20/2).

Kenaikan volume penjualan ini bakal didominasi oleh pengangkutan batu bara kereta api, di mana hampir 95% pengangkutan perseroan dilakukan oleh kereta api. Sedangkan volume penjualan perseroan tahun lalu hanya naik 5%. Lebih jauh dia mengatakan, PTBA juga akan mengalokasikan investasi senilai Rp 1,4 triliun untuk membangun pelabuhan yang berasal dari kas internal.

Sementara dana eksternal untuk anorganik tergantung pada pengembangan perseroan. "Kita membangun pelabuhan. Sarana produksi tambang dengan peningkatan pelabuhan Tarahan di Lampung menjadi 2 kali lipat dari sebelumnya berkapasitas 13 juta ton per tahun. Lalu, pembangunan PLTU di Tanjung Enim 3x10 megawatt (MW) di mulut tambang, dan di pelabuhan Teluk Bayur 2x8 MW di luar mulut tambang," tukasnya.

Asal tahu saja, PTBA menargetkan volume penjualan batu bara sebesar 18,6 juta ton di tahun ini, atau naik 35% dari 2011 sebesar 13,5 juta ton. Volume penjualan ini diproyeksikan karena ditopang tingginya kebutuhan batu bara domestik, terutama penggunaan pembangkit listrik milik PT PLN.

Selain itu, dua negara asing yang masih tinggi mengkonsumsi batu bara yaitu China dan India. Khusus India, pembeliannya sebagian besar adalah jenis batubara berkualitas rendah. Mayoritas 65% komposisi penjualan di 2011 dikuasai sektor domestik. Sedangkan ekspor mencapai 35% dengan China sebesar 11,08% sebagai pembeli batu bara terbesar.

Harga batu bara untuk domestik hingga kuartal III-2011 adalah Rp 763.000 per ton. Sementara untuk ekspor adalah US$ 100,19 per ton. Volume produksi PTBA tahun ini menargetkan 16,3 juta ton atau naik 28% dibandingkan 2011 sebesar 12,9 juta ton. Begitu juga dengan volume angkutan sebesar 15,6 juta ton atau naik 32% dibandingkan 2011 yang mencapai 11,5 juta ton. [ardi]

BERITA TERKAIT

Puspayoga: "Pertumbuhan Pariwisata Harus Menjaga Kearifan Lokal"

Puspayoga: "Pertumbuhan Pariwisata Harus Menjaga Kearifan Lokal" NERACA Denpasar - Dalam pengembangan sektor pariwisata takkan pernah bisa lepas dari kaitan…

Infrastruktur Dukung Pertumbuhan

Melihat pengalaman di sejumlah negara yang berkembang pesat, pembuat kebijakan memahami bahwa pembangunan yang sukses memerlukan komitmen selama beberapa dekade…

Tunas Baru Lampung Rilis Obligasi Rp 1 Triliun

Lunasi utang, PT Tunas Baru Lampung (TBLA) akan menerbitkan obligasi berkelanjutan I Tunas Baru Lampung tahap I tahun 2018 dengan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laju IHSG Sepekan Kemarin Menguat 1,32%

NERACA Jakarta – Laju indeks harga saham gabungan (IHSG) sepekan kemarin mengalami kenaikan 1,32% ke posisi 6.591,58 poin dari 6.505,52…

Literasi Investasi Mahasiswa Harus Ditingkatkan

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kantor perwakilan Surakarta menyatakan, literasi keuangan dan investasi di kalangan mahasiswa harus ditingkatkan karena sektor…

IHSG Konsolidasi Menunggu Laporan Keuangan

Analis pasar modal menilai bahwa pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) cenderung bergerak konsolidasi mengantisipasi…