Hasil Bailout Yunani Tentukan Nasib IHSG

NERACA

Jakarta - Sesuai prediksi, indeks harga saham gabungan (IHSG) masih bertahan di zona hijau. Ditutup tidak bergerak (stagnan) 3,71 poin atau 0,09% ke level 3.980,25, IHSG sempat mencatatkan level tertingginya pada posisi 3.995,08 dan terendah di 3.961,35. Sementara indeks saham unggulan LQ45 menguat 1,627 poin atau 0,23% ke level 694,023. Indeks Jakarta Islamic Indeks (JII) naik 1,6 poin ke level 573,69, indeks ISSI naik 0,1 poin di posisi 134,06.

Hal ini karena adanya sentimen positif serta rasa optimisme kucuran second bailout Yunani sebesar 130 miliar euro oleh menteri-menteri keuangan zona Euro dan penurunan giro wajib minimum (GWM) perbankan China sebesar 50 basis poin menjadi 20,5% dari sebelumnya 21%, tidak direspon oleh pelaku pasar domestik. Akan tetapi, justru kenaikan harga minyak dunia mengantar IHSG ke zona hijau.

Analis Sekuritas Ekokapital Cece Ridwanullah mengatakan, dirinya sudah memprediksi sejak sesi pembukaan perdagangan saham, di mana indeks bergerak positif lalu sempat memasuki zona merah. “Dua sentiment positif itu (bailout Yunani dan GWM turun) sepertinya tidak direspon oleh IHSG. Meskipun begitu, posisi asing masih net buy,” ujar dia di Jakarta, Senin (20/2).

Kondisi ini, lanjutnya, dipicu oleh banyaknya prediksi dari para analis yang menyatakan bahwa laju IHSG akan variatif. Artinya, kenaikan dan penurunan IHSG akan tipis sehingga pasar tampak masih wait and see meskipun bursa AS, Eropa, dan Asia ditutup positif dan IHSG hanya naik tipis sebesar 3 poin. Pada saat yang sama, kata dia, pelaku pasar domestik juga masih menunggu kepastian soal penyesuaian bahan bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik (TDL).

“Yang menjadi perhatian, sentimen positif juga datang dari kenaikan harga minyak dunia yang mencapai US$ 104 per barel. Tapi ini hanya berimbas pada saham-saham minyak dan gas (migas) serta batu bara,” papar Cece. Kenaikan ditopang saham sektor perbankan dan pertambangan masing-masing yang naik 17,75 ke posisi 2.800, disusul sektor infrastruktur yang naik 6,5 poin ke 738,80, sektor manufaktur turun 2,81 poin. Sedangkan pelemahan terjadi di saham sektor perkebunan yang turun 27,6 poin ke 2.286,02.

Perdagangan berjalan dengan frekuensi transaksi mencapai 93.091 kali pada volume 3,98 miliar lembar saham senilai Rp 3,3 triliun. Perdagangan juga diwarnai dengan 137 saham melemah, 99 saham naik, dan 102 saham tidak bergerak. IHSG mengalami net foreign buy mencapai Rp 180,9 miliar dengan pembelian asing sebesar Rp 1,8 triliun, serta penjualan asing Rp 1,6 triliun.

Saham-saham yang bergerak menguat (top gainers) adalah PT Petrosea Tbk (PTRO) naik Rp 1.400 ke Rp 38.400, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naik Rp 1.000 ke Rp 43.400, dan PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) naik Rp 375 ke Rp 4.500.

Saham yang melemah (top losers) antara lain PT Supreme Cable Manufacturing Corporation Tbk (SCCO) turun Rp 725 ke Rp 2.400, PT Mayora Indah Tbk (MYOR) turun Rp 550 ke Rp 54.100, dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) turun Rp 450 ke Rp 22.250, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) turun Rp 550 ke level Rp 54.100.

Sementara saham-saham bursa Asia bergerak dua arah dengan indeks Shanghai naik 6,42 poin atau 0,27%, indeks Hang Seng turun 66,83 poin atau 0,31%, indeks Nikkei melaju 100,92 poin atau 1,08%, dan indeks Straits Times naik 8,35 poin atau 0,28%. Demikian juga bursa Eropa ikut menguat seperti indeks FTSE naik 0,5% ke 5.937, indeks CASC naik 0,5% ke 3.459, dan indeks DAX naik 0,4% ke 6.881.

Sebelumnya, pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG bergerak datar dan hanya turun tipis 2,764 poin (0,07%) ke level 3.973,778. Sementara Indeks LQ 45 menipis 0,248 poin (0,04%) ke level 692,148. Hal ini akibat aksi ambil untung atau profit taking. Indeks pun tertinggal dari bursa-bursa di Asia yang kompak menguat.

Aksi beli terjadi di awal perdagangan karena didorong harapan tercapainya kesepakatan untuk bailout tahap II Yunani. Namun setelah indeks naik tinggi malah kena aksi ambil untung. Saham-saham yang menjadi pemberat bursa kebanyakan berada di lapis dua di sektor aneka industri, dengan beberapa saham unggulan di sektor agrikultur.

Untungnya, saham-saham tambang mencetak poin cukup tinggi sehingga koreksinya bisa sedikit tertahan. Hanya tiga sektor yang mampu menguat, yaitu sektor tambang, infrastruktur dan perdagangan. Volume perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi mencapai 51.02 kali pada volume 2,461 miliar lembar saham senilai Rp 1,972 triliun.

Sebanyak 81 saham naik, sisanya 104 saham turun, dan 105 saham stagnan. Bursa-bursa di Asia kompak menyusul pelonggaran kebijakan moneter pemerintah China kepada perbankan guna mendorong pertumbuhan ekonomi negara lebih tinggi. Sayang, sentimen ini tidak bisa diserap dengan baik oleh IHSG.

BERITA TERKAIT

PTBA Raup Laba Bersih Rp 2,63 Triliun - Buah Hasil Efisiensi

NERACA Jakarta – Kerja keras PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menekan efisiensi, berbuah manis. Pasalnya, perusahaan batubara plat merah ini…

Tujuh Hasil Kerja Nyata 3 Tahun di Era Jokowi

  Oleh: Dhita Karuniawati, Mahasiswa IAIN Kendari Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (Jokowi-JK) akan memasuki periode…

Profit Taking Hambat Penguatan IHSG

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu ditutup turun sebesar 18,12 poin seiring…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Hary Tanoe Terima Gelar Kehormatan Sulsel

NERACA Makassar - Chairman MNC Group, Hary Tanoesoedibjo menerima gelar warga kehormatan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) yang diberikan…

BEI Suspensi Perdagangan Saham Malacca

Setelah masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), berikutnya perdagangan saham PT Malacca Trust Wuwungan Insurance Tbk (MTWI) dihentikan…

Panorama Bikin Anak Usaha Mitra Global

Menggeliatnya bisnis pariwisata saat ini memacu PT Panorama Sentrawisata Tbk (PANR) untuk lebih agresif mengembangkan bisnisnya. Teranyar, perseroan membentuk anak…