Rupiah Melemah Tertekan Dolar

NERACA

Jakarta--Niilai tukar rupiah agak tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Akibatnya rupiah melemah tipis. Sementara dolar terus menguat. Tetapi tidak untuk rupiah karena kedua faktor tersebut, cenderung menguatkan mata dolar AS. Dari kajian Riset Samuel Sekuritas mengungkapkan sentimen global cenderung masih positif didukung data penjualan rumah AS yang membaik disertai keputusan bank sentral China menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) bank, sehingga pasar Asia akan positif.

Sementara informasi yahoofinance menyebutkan rupiah diperdagangkan di kisaran Rp9.014 per USD, dengan rata-rata perdagangan harian di kisaran Rp8.995-Rp9.032 per USD. Sementara menurut kurs tengah Bank Indonesia (BI) rupiah bercokol di Rp9.035 dengan rata-rata perdagangan Rp8.990-Rp9.080 per USD.

Disisi lai, Treasury Analyst Telkom Sigma Rahadyo Anggoro mengatakan rupiah cenderung bergerak sideways di level Rp8.985-9.025 per USD. Adapun yang mempengaruhi adalah pengaruh Federal Open Market Committee (FOMC) meeting pada Jumat yang menyatakan belum adanya kepastian tentang quantitative easing karena pemerintah masih melihat data-data ekonomi Amerika yang akan keluar. "Penyelesaian krisis Zona Eropa ikut berpengaruh terhadap pergerakan euro. Mundurnya jadwal pemberian paket bantuan Yunani sempat membuat euro bergerak untuk mencairkan dana talangan kepada Yunani," katanya.

Padahal sebelumnya, Treasury Analis Telkom sigma memprediksi dolar bergerak melemah, setelah pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu ditutup melemah di level Rp8.990-9.010 per USD. "Jumat kemarin mata uang rupiah terhadap dolar ditutup di level Rp8.990-9.010 per USD. Adapun untuk Senin, rupiah cenderung bergerak sideways di level Rp8.985-9.025 per USD," ujarnya

Adapun yang mempengaruhi adalah pengaruh Federal Open Market Committee (FOMC) meeting pada hari Jumat yang menyatakan belum adanya kepastian tentang quantitave easing karena pemerintah masih melihat data data ekonomi Amerika yang akan keluar. "Penyelesaian krisis Zona Eropa ikut berpengaruh terhadap pergerakan euro. Mundurnya jadwal pemberian paket bantuan Yunani sempat membuat euro bergerak untuk mencairkan dana talangan kepada Yunani," katanya.

Selain itu, mundurnya Presiden Jerman Christian Wulff membuat terganggunya stabilitas di Jerman. Sedangkan dari dalam negeri yag mempengaruhi adalah kekhawatiran pemerintah akan terganggunya angka ekspor. "Tren penurunan ekspor ini sudah dalam lima bulan terakhir. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat peranan ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi tahun lalu sebesar 26,3 persen. Melemahnya ekspor akibat krisis yang terjadi di Eropa," tandasnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Batal Pakai Dolar, Biaya Haji Ditetapkan Rp35 Juta

      NERACA   Jakarta - Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji tahun ini sempat diusulkan agar menggunakan kurs dolar AS…

Penguatan Rupiah

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Penguatan nilai tukar rupiah di akhir Januari 2019…

Penguatan Rupiah Masih Terbuka

  NERACA   Jakarta - Kantor Staf Presiden (KSP) meyakini peluang penguatan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu ke depan…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BPR Diminta Bantu Kemajuan Daerah

    NERACA   Jakarta - Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) harus terus mampu memberikan…

Tingkatkan Loyalitas Nasabah dengan CIMB Niaga Xtra Xpo

      NERACA   Jakarta - PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) kembali menggelar pameran perbankan ritel bertajuk…

Gandeng IKA ITS, BNI Life Tawarkan Program Asuransi

    NERACA   Jakarta - PT BNI Life Insurance (BNI Life) melakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara Ikatan Alumni…