Bank Of Cina Pengendali Utama Danamon

Belum Kantongi Informasi Resmi Peralihan Kepemilikan

Kamis, 03/03/2011

NERACA

Jakarta – Kabar kepemilikan saham mayoritas PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) berpindah tangan dari Temasek Holdings Ltd kepada Bank of China semakin santer terdengar. Namun sayangnya, perseroan belum menerima pemberitahuan dari pemegang saham utama mengenai rencana pengalihan kepemilikan.

Hal ini disampaikan Corporate Secretary Danamon, Dini Herdini dalam keterbukaan informasinya ke BEI, Rabu (2/3). Dijelaskan, sampai akhir Januari 2011, Asia Financial (Indonesia) Pte Ltd (AFI) memiliki 67,42% saham di Danamon dan sisanya dikuasai publik. Sementara 100% saham AFI dikuasai Temasek secara tidak langsung melalui anak usahanya antara lain Fullerton Financial Holdings Pte Ltd.

Sebelumnya diberitakan PT Bank Danamon Tbk (BDMN) telah menjadi objek kepentingan intens. Mengutip Financial Times, Bank of China melihat bank ini menjadi sasaran potensi investasi. Konon melalui pembelian bank Danamon, China menjadi semakin agresif di panggung dunia, terutama di pasar sumber daya yang kaya seperti Indonesia.

Bahkan tidak hanya bank Cina yang ingin membeli Danamon, namun beberapa bank Korea Selatan, dan beberapa investor non-keuangan seperti Jardine Matheson juga berminat untuk meminang bank tersebut. DBS juga disebut-sebut ikut melirik bank ini meskipun telah mengatkan tidak akan membeli Danamon.

Kini bank Danamon menjadi rebutan investor asing. Pasalnya, pertumbuhan kredit mikronya yang luar biasa yang bersedia membayar margin yang lebih tinggi daripada yang dibayar oleh perusahaan-perusahaan besar lainnya.

Keberhasilan bank Danamon berawal setelah bank tersebut dibailout pemerintah pasca krisis keuangan Asia ditahun 1999. Kemudian para kreditur bank telah mengubah bank ini menjadi bank yang mencetak laba besar oleh tim dari Fullerton, perusahaan yang dikendalikan Temasek yang memegang 67% saham pengendali di Danamon. "Ini adalah sebuah bank besar," kata Helge Trapness, kepala lembaga keuangan Barclays Capital di Hong Kong.

Kinerja Danamon 2010

Sebelumnya, dalam laporan kinerja keuangannya, Bank Danamon mencatatkan total kredit Bank Danamon Tbk mencapai Rp82,65 triliun pada Desember 2010 atau tumbuh 31% dari Rp63,27 triliun pada periode sama sebelumnya. Kredit bagi nasabah di segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mencatat pertumbuhan sebesar 24% secara setahunan mencapai Rp26,56 triliun dan mencakup 32% dari total kredit Bank Danamon pada akhir Desember 2010. "Kondisi ekonomi makro Indonesia sepanjang 2010 kondusif bagi pertumbuhan kredit di semua lini usaha," ujar Direktur Utama Bank Danamon Henry Ho.

Sedangkan kredit korporasi dan komersial Bank Danamon mencatatkan peningkatan sebesar 21% menjadi Rp16,27 triliun dari Rp13,39 triliun pada 2009. Hal ini didukung dari bisnis trade finance yang tumbuh 74% menjadi Rp3,1 triliun dari Rp1,8 triliun pada tahun sebelumnya.

Pembiayaan alat berat melalui unit aset based finance juga tumbuh 49% dari Rp1,05 triliun pada akhir 2009 menjadi Rp1,57 triliun. Sektor kendaraan bermotor di Indonesia mencatatkan pertumbuhan yang signifikan pada 2010 di mana penjualan sepeda motor dan mobil naik masing-masing sebesar 26% dan 57%.

Bank Danamon juga mencatatkan return on average asset (ROAA) sebesar 2,8% pada 2010. Return on averaga equity (ROAE) mencapai 18,5%. Pada akhir Desember 2010, rasio kecukupan modal Bank Danamon berada di posisi 16%.

Targetkan Kredit 20% 2011

Kemudian ditahun ini, perseroan juga menargetkan pertumbuhan kredit capai 20%. Sepanjang 2010, kredit Danamon tumbuh hingga 31% atau mencapai Rp 82,6 triliun. "Danamon mempertimbangkan inflasi yang tinggi pada tahun ini dan diperkirakan inflasi tahun ini sebesar 7,2%. Ini menjadi perhatian kami tetapi kami juga optimis dengan kondisi pertumbuhan kredit tahun 2011 berkisar 15-20%,"kata Chief Financial Officer dan Direktur Danamon Vera Eve Lim.

Pertumbuhan kredit tersebut, lanjut Vera akan ditopang oleh semua lini manajemen dan anak usaha Danamon. Vera mengatakan, selain kredit, Danamon juga akan menargetkan pertumbuhan pendapatan non bunga diposisi 15-20%. "Selain itu kita akan menurunkan NIM yang berada diposisi 11,3% menjadi 10,5% dan penurunan NIM ini didorong pertumbuhan kredit yang baik di 2011," tuturnya.

Danamon berhasil membukukan laba bersih selama tahun 2010 sebesar Rp 2,883 triliun atau tumbuh 88% dari tahun 2009. Perolehan laba bersih tersebut didukung oleh pendapatan non bunga dan pertumbuhan kredit di semua segmen. "Selain pertumbuhan sebesar 5% pada pendapatan bunga bersih yang mencapai Rp 9,9 triliun dari Rp 9,4 triliun di akhir tahun sebelumnya, kinerja keuangan Danamon untuk tahun 2010 didukung oleh pendapatan non bunga, antara lain dari credit related fees termasuk transaction services, trade finance, asuransi serta keuntungan dari penjualan surat-surat berharga,” kata Vera.

Kredit korporasi dan komersial Danamon mencatatkan peningkatan sebesar 21% menjadi Rp 16,2 triliun dari Rp 13,3 triliun di 2009 yang didukung oleh bisnis trade finance yang tumbuh 74% menjadi Rp 3,1 triliun dari Rp 1,8 triliun pada 2009.

Kata Vera, pertumbuhan diseluruh lini usaha 2010 juga disertai kualitas aset yang terjaga. "Rasio Kredit Bermasalah (NPL) tercatat sebesar 3% di akhir Desember 2010 yang turun dari 4,5% di 2009," ungkapnya. (bani)