Indo Straits Raih Kontrak Baru Rp 121 Miliar

Belum lama ini, PT Indo Straits Tbk (PTIS) medapat kontrak baru senilai Rp 121 miliar berupa penyediaan crane barge untuk dredging, lifting dan additional work (Paket B) yang berlokasi di Kalimantan. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Disebutkan, periode kontrak baru tersebut memiliki periode selama tiga tahun dimulai sejak 1 Juli 2018 hingga 31 Juni 2021 mendatang. perseroan tidak menyebutkan klien pemberi kerja dalam kontrak baru tersebut, namun PTIS menyatakan kliennya tersebut tidak memiliki hubungan afiliasi dengan perseroan.

Perolehan kontrak baru untuk segmen usaha di jasa rekayasa kelautan terintegrasi tersebut diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap kegiatan operasional perseroan. Selain itu, kontrak baru tersebut dinilai mempu memberikan kepercayaan kepada potensial klien lainnya untuk menggunakan jasa perseroan.

Perolehan kontrak baru juga mendorong kepastian atas sumber pendapatan yang dapat diraih kedepannya. Sehingga kelanjutan usaha perseroan serta kinerja keuangan dan usaha perseroan menunjukkan ke arah yang lebih baik. sebelumnya, sejak tahun 2014, Indo Straits memang diketahui mengalami kerugian. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, kerugian cenderung menurun sejak 2016.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, Indo Straits mencatatkan laba bersih sebesar US$ 3,44 juta pada tahun 2013. Setelahnya, perusahaan mengalami kerugian hingga kuartal III tahun lalu. Sebagai informasi, tahun ini PTIS menargetkan total pendapatan sebesar US$ 20,91 juta. Operations Director PT Indo Straits Tbk, Sutina menyampaikan, optimistis pada tahun ini kinerja perusahaan akan lebih baik. Pasalnya perusahaan potensi mendapatkan kontrak selama tiga tahun dari PT Pertamina Hulu Mahakam. Kontrak itu rencananya akan dimulai pada 31 Juli 2018 sampai tiga tahun mendatang.

Untuk menggenjot penjualan, Direktur Utama PT Indo Straits Tbk, Tan Kim Leng pernah bilang, ada empat hal yang saat ini dilakukan oleh perusahaan. Pertama, mengamankan kontrak-kontrak jangka panjang. Kedua melakukan efesiensi biaya dan strategi ketiga yaitu mengurangi pinjaman di bank. “Kami saat ini ada pinjaman di bank, secara bertahap kami kurangi lantaran dengan pinjaman bank kan bunganya cukup besar,” tuturnya.

Terakhir, dengan memaksimalkan penggunaan alat yang dimiliki perusahaan. Pada tahun ini, perusahaan tidak ada rencana untuk menambah alat. “Aset yang kami miliki lebih didayagunakan untuk proyek baru dan menambah produksi,”ungkapnya.

BERITA TERKAIT

Metrodata Serap Capex Rp 181 Miliar

NERACA Jakarta – Selain mencatatkan pertumbuhan laba 23,25 di kuartal tiga 2018, PT Metrodata Electonics Tbk (MTDL) juga menyampaikan telah…

Urban Jakarta Bidik Penjualan Rp 240 Miliar - Harga IPO Rp 1000-1250 Per Saham

NERACA Jakarta – Tren pengembangan proyek properti berbasis transit oriented development (TOD) cukup menjanjikan kedepannya, apalagi pembangunan LRT yang digarap…

Protelindo Bagikan Dividen Rp 100 Miliar

NERACA Jakarta - PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) mengumumkan akan membagikan dividen interim tunai kepada para pemegang saham Protelindo. Sekretaris Protelindo,…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Perdagangan Saham DIGI Disuspensi

Lantaran terjadi peningkatan harga saham yang signifikan, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian sementara atau suspensi perdagangan saham PT…

BEI Dorong Perusahaan di DIY Go Public

Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Daerah Istimewa Yogyakarta mendorong perusahaan di daerah itu baik milik swasta maupun badan usaha…

MAYA Bagi Dividen Interim Rp 223,19 Miliar

PT Bank Mayapada International Tbk (MAYA) akan membagikan dividen tengah tahun sebesar Rp35 per lembar saham. Hal itu sesuai dengan…