IMF: Perang Dagang AS-China Tingkatkan Risiko - PENGUSAHA KHAWATIR PERLAMBATAN EKONOMI

Jakarta-Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund-IMF) mengingatkan, kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan perang dagang dengan China dapat meningkatkan risiko terhadap kondisi dalam negeri di negara Paman Sam sendiri, termasuk ancaman defisit yang makin bengkak. Sementara itu, pengusaha Indonesia mengkhawatirkan terjadi perlambatan ekonomi akibat situasi global tersebut.

NERACA

Menurut hasil pemeriksaan tahunan ekonomi AS seperti dikutip CNN.com belum lama ini, IMF telah memperingatkan tekanan ekonomi AS dari akibat pemotongan pajak US$1,5 miliar.

Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde mengungkapkan rangsangan pertumbuhan ekonomi ketika ekonomi suatu negara sudah cukup kuat bisa meningkatkan risiko terhadap negara terkait, termasuk ekonomi global. "Memperlebar defisit pada siklus ekonomi saat ini dapat memicu kenaikan inflasi yang lebih cepat dari yang diperkirakan," ujarnya.

Akibatnya, Lagarde menilai bank sentral AS (The Fed) bisa saja menaikkan suku bunga acuannya lebih cepat. Bahkan, pekan lalu, The Fed memutuskan untuk menaikkan lagi suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin.

Kenaikan bunga acuan bank sentral AS tersebut merupakan kedua kalinya pada tahun ini dan mengisyaratkan akan mempercepat kenaikan suku bunga acuannya sebanyak dua kali lagi sampai akhir tahun nanti.

Gubernur The Fed Jerome Powell memproyeksi inflasi AS akan melambung yang dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia. "Ini akan menjadi serius. Bukan hanya bila AS mengambil tindakan, tetapi negara-negara lain juga akan membalas, terutama mereka yang paling terpengaruh, khususnya Kanada, Eropa, dan Jerman," ujar Lagarde.

Tidak hanya itu. Lagarde mengatakan kebijakan-kebijakan perdagangan proteksionis Amerika Serikat terhadap China dan sejumlah negara lainnya membuat awan gelap menyelimuti ekonomi dunia. "Awan terbesar dan tergelap yang kita lihat adalah kemerosotan dalam kepercayaan yang dipicu oleh sebuah upaya untuk menantang cara perdagangan yang dilakukan," ujarnya.

Dia membuat pernyataan setelah pertemuan tahunan di Berlin dengan Kanselir Jerman Angela Merkel dan pemimpin organisasi-organisasi ekonomi dunia, termasuk Bank Dunia (World Bank), Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), dan Bank Pembangunan Afrika.

IMF memproyeksi ekonomi global akan tumbuh 3,9% pada tahun ini dan 2019 nanti. Angka ini tumbuh tipis dibandingkan realisasi tahun sebelumnya 3,8%. "Awan semakin jelas, semakin gelap dari hari ke hari sejak enam bulan lalu," ujarnya.

Akhir pekan lalu, pada KKT G7, Presiden AS Donald Trump secara mengejutkan menarik dukungan bagi deklarasi bersama tentang perdagangan bebas yang ditandatangani di Kanada. Menurut Merkel, keputusan Trump pada menit-menit terakhir menyadarkan sekaligus mengecewakan, dan mengancam Uni Eropa melakukan pembalasan perang dagang.

IMF menambahkan bahwa kondisi saat ini menjadi tantangan perdagangan dunia dan menempatkan ekonomi global dalam risiko, setelah Presiden AS Donald Trump resmi mengibarkan bendera perang dagang dengan China. Hal tersebut tersirat dari persetujuan Trump untuk meningkatkan tarif bea masuk untuk daftar produk perdagangan dengan China senilai US$50 miliar.

Persetujuan kenaikan tarif terbit setelah Trump melakukan pertemuan dengan pejabat ekonomi, termasuk Menteri Keuangan Steven Mnuchin, Sekretaris Perdagangan Wilbur Ross, dan Perwakilan Perdagangan AS Robert Lighthizer.

Sumber di lingkungan kepresidenan AS mengatakan, langkah ini menegaskan ketegangan hubungan dagang antara dua negara dengan ekonomi raksasa tersebut. Sebelum dengan China, genderang perang dagang Trump juga ditabuhkan ke Kanada, Meksiko, dan negara-negara di Uni Eropa, terutama mengenai tarif impor baja dan aluminium.

Trump pertama kali mengumumkan perang dagang dengan China pada Maret 2018. "Kami memiliki masalah pencurian kekayaan intelektual yang luar biasa. Ini akan membuat kami menjadi negara yang jauh lebih kuat, lebih kaya," ujar Trump saat itu.

Ketika itu, Beijing menanggapi rencana kebijakan Trump dengan membalas pengenaan tarif selangit untuk produk-produk asal AS, seperti mobil, pesawat, dan kedelai. Namun, alih-alih ketegangan mereda, Trump malah memperingatkan mengerek tarif produk China sebesar US$100 miliar.

Trump melanjutkan AS akan menyelesaikan daftar barang yang akan dikenakan tarif 25% pada 15 Juni dan akan segera efektif diberlakukan.

Perlambatan Ekonomi

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan akan fokus dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi kenaikan suku bunga acuan yang kembali dilakukan The Fed pekan lalu.

Perry mengatakan fokus tersebut akan dilakukan dengan menerapkan kebijakan antisipasi (preemptive) dengan memperhatikan perkembangan ekonomi global dan domestik. "Pre-emptive dapat berupa kebijakan suku bunga seperti yang sudah kami sampaikan, diikuti dengan relaksasi kebijakan makroprudensial dalam bentuk penyesuaian LTV," ujarnya.

Di sisi lain, pengusaha yang juga mantan Menteri Perindustrian MS Hidayat mengkhawatirkan pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Dia memperkirakan dalam tahun ini ekonomi dalam negeri akan melambat.

Hidayat memperkirakan ekonomi hanya akanmencapai 5,2%, di bawah target APBN yang sebesar 5,4%. Proyeksi tersebut didasarkan pada kebijakan kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS.

Menurut dia, kebijakan tersebut pasti akan diikuti kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI). Kenaikan suku bunga BI dikhawatirkan akan diikuti oleh kenaikan suku bunga kredit dan menurunkan permintaannya.

Alhasil ekonomi bisa melambat. "Memang menjadi dilema, di tengah tahun politik, pertumbuhan ekonomi tinggi diperlukan tapi kenyataannya seperti ini," katanya Jumat (15/6).

Seperti diketahui bank sentral AS kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 1,75% hingga 2% pada Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Rabu (13/6), waktu AS. Dengan keputusan tersebut berarti sepanjang tahun ini, The Fed telah menaikkan suku bunganya sebanyak dua kali.

Dalam konferensi pers, Gubernur The Fed Jerome Powell menyatakan kenaikan suku bunga acuan mengindikasikan perekonomian AS yang semakin baik. Tingkat pengangguran tercatat hanya 3,8%, terendah sejak 2000. "Sebagian besar masyarakat yang sedang mencari kerja berhasil mendapatkannya sehingga tingkat pengangguran turun, selain itu inflasi juga rendah," ujarnya.

Ekonom dan Profesor dari Universitas Notre Dame Jason Reed menilai keputusan The Fed juga dipicu oleh pergerakan inflasi yang sesuai harapan. Tingkat inflasi AS relatif rendah selama periode pemulihan ekonomi. Namun, tahun ini, inflasi AS telah menembus dua persen, level yang dianggap The Fed sehat.

Per Mei lalu, inflasi AS tercatat mencapai 2,2%. The Fed memperkirakan tingkat inflasi AS bakal tetap berada di atas dua persen dalam dua tahun ke depan.

Sementara itu, kebijakan suku bungan AS tersebut telah diantisipasi Bank Indonesia (BI) dengan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) sebanyak dua kali pada bulan lalu. Dalam rapat tersebut mereka memutuskan mengerek BI7 Days Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin sebanyak dua kali menjadi 4,75%.

Di Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB) juga mensinyalkan akan memperketat kebijakan moneter mereka. Mereka memberi sinyal, September 2018 nanti akan mulai mengurangi kebijakan pembelian obligasi. Perry mengatakan BI akan selalu mencermati kebijakan tersebut agar dampak yang bisa ditimbulkan dari kebijakan tersebut bisa diminimalisir. "Kami cermati semua perkembangan dan perkembangan itu tadi baru," katanya.

Walaupun demikian Perry mengatakan saat ini BI melihat bahwa perekonomian Indonesia dalam kondisi baik. Cerminan tersebut bisa dilihat dari laju inflasi dan defisit neraca transaksi berjalan yang masih terkendali. Cerminan tersebut juga bisa dilihat dari laju pertumbuhan ekonomi yang masih stabil di atas 5%. bari/mohar/fba

BERITA TERKAIT

Keseriusan China Buka Produk Impor Peluang Ekspor Indonesia - Niaga Internasional

NERACA Jakarta – Indonesia baru saja mengakhiri keikutsertaan pameran dagang importir terbesar di dunia "The 1st China International Import Expo"…

BMRS Lunasi 20% Saham DPM Ke Antam - Raih Dana Segar dari NFC China

NERACA Jakarta – Mengantungi dana segar senilai US$ 198 juta dari NFC China, mendorong PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)…

Gejolak Persaingan Ekonomi Global vs Cashflow yang Sehat - Studi Kasus Unrealized loss PLN

  Oleh: Sudimara Pati, Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Swasta Belakangan kita diberitakan bahwa Perusahaan Listrik Negara (PT PLN) milik BUMN…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

INDEF MINTA PEMERINTAH WASPADAI HARGA PANGAN - NPI Januari-Oktober Defisit US$5,51 Miliar

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, neraca perdagangan Indonesia (NPI) pada Oktober 2018 masih defisit US$1,82 miliar secara bulanan (mtm) dan…

Ketua BKBM: Kemaritiman Sediakan 45 Juta Lapangan Kerja

NERACA Jakarta - Ketua Badan Kerjasama Usaha Bidang Maritim (BKBM) Rokhmin Dahuri mengatakan bahwa sektor kemaritiman memiliki potensi lapangan kerja…

INDONESIA SEBAGAI NEGARA MARITIM DAN MEMILIKI TANAH SUBUR - Kepala Bappenas Prihatin Kondisi Nelayan Miskin

Jakarta-Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Prof Dr. Bambang Brodjonegoro mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi nelayan di Indonesia. Dia melihat petani dan…