Sejarah Perdamaian Dunia Dimulai dari Singapura

Oleh: Yunianti Jannatun Naim

Konflik antara Amerika Serikat dengan Korea Utara yang terus memanas dalam sebulan terakhir akhirnya mereda setelah kedua kepala negara sepakat bertemu di negara ketiga, Singapura.

Awalnya, banyak yang pesimistis dengan pertemuan itu, mengingat Presiden AS Donald Trump dan Pimpinan Korea Utara Kim Jong Un adalah sosok yang sulit dapat ditebak.

Namun, kedua kepala negara membuktikan komitmennya untuk mengakhiri konflik. Udara Singapura yang hangat menjadi saksi sejarah perdamaian dunia. Trump dan Kim bersalaman di depan ratusan awak media yang meliput dari berbagai penjuru dunia.

Keduanya juga terlihat nampak berbincang akrab, bahkan saling menyentuh satu sama lain.

Pertemuan diawali dengan perbincangan satu lawan satu antara Trump dan Kim, yang hanya didampingi seorang penerjemah. Kemudian pertemuan delegasi digelar.

Rangkaian pertemuan itu menghasilkan sebuah dokumen bersama yang ditandatangai Trump dan Kim, satu poin terpenting adalah komitmen Kim untuk menyelesaikan denuklirisasi di Semenanjung Korea.

Sebaliknya, Presiden Trump berkomitmen memberikan jaminan keamanan kepada Korea Utara.

Selain itu, dokumen juga menyepakati empat hal, yaitu Amerika Serikat dan Korea Utara berkomitmen untuk membangun hubungan baru, sesuai dengan keinginan masyarakat kedua negara demi menjaga perdamaian dan kemakmuran.

Kemudian, Amerika Serikat dan Kora Utara bersama-sama berupaya membangun perdamaian yang abadi dan stabil di Semenanjung Korea.

Lalu, penegasan kembali Deklarasi Panmunjom 27 April 2018, agar Korea Utara bekerja menyelesaikan denuklirisasi di Semenanjung Korea.

Dan yang ke empat, Amerika Serikat dan Korea Utara berkomitmen untuk memulihkan sisa tahanan perang, termasuk segera memulangkan mereka yang sudah diidentifikasi.

ASEAN menengahi Duta Besar Indonesia untuk Singapura, I Gede Ngurah Swajaya menyatakan ASEAN bisa menjadi penengah hubungan antara Pemerintah Amerika Serikat dengan Korea Selatan, demi menciptakan perdamaian di Kawasan Semenanjung Korea.

Dipilihnya Singapura, satu negara ASEAN sebagai lokasi pertemuan dua kepala negara itu sudah mengindikasikan peranan positif bagi penyelesaian konflik AS-Korea Utara. "Kita melihatnya, Singapura sebagai negara ASEAN dipercaya, meski tidak terlibat aktif. Ini menunjukkan hal yang positif," kata Dubes I Gede Ngurah Swajaya.

Ia memperkirakan, hasil pertemuan Trump dan Kim akan ditindaklanjuti dengan pertemuan-pertemuan selanjutnya dengan melibatkan pihak lain.

ASEAN, berkemungkinan ikut dilibatkan, bersama PBB dan International Atomic Energy Agency (IAEA).

Bahkan, Indonesia juga bisa dilibatkan, sebagai anggota dewan keamanan tidak tetap PBB. "Kalau bisa mengubah, kenapa tidak?," kata dia.

Singapura Sementara itu, meski menjadi lokasi pertemuan sangat penting, namun kehidupan sosial dan bisnis di Singapura tetap normal, seperti biasa.

Kawasan Pariwisata Pulau Sentosa tetap buka dan ramai oleh pengunjung saat pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Pimpinan Korea Utara Kim Jong Un berlangsung di hotel yang berlokasi di kawasan yang sama Pemerintah Singapura tetap membuka kawasan pariwisata itu untuk umum, meski ada pengetatan pengamanan.

Pengunjung bisa menggapai pulau itu dengan berjalan kaki melalui jembatan penghubung dari Harbour Front, atau menumpang monorail dari pusat perbelanjaan Vivo City.

Pelancong nampak ramai di sekitar wahana "Trick Eye Museum" dan di sekitar Universal Studio. Sekilas, tidak ada yang berbeda di pulau itu. "Saya malah tidak tahu ada Presiden Amerika Serikat di sini," kata pelancong dari Indonesia, Tasya.

Warga Singapura, Hannah juga mengatakan semua kegiatan berjalan normal pada hari itu, "Kami di Singapura sudah diberi tahu akan ada pertemuan di tempat ini dan ini, kami diminta untuk menghindari jalan-jalan tertentu pada waktu-waktu tertentu, begitu saja," kata warga Singapura, Hannah.

Hannah mengatakan semua warga tetap beraktivitas seperti biasa. Jika ada yang berbeda, hanya mereka yang bekerja di perkantoran dan pertokoan dekat dengan tempat menginap Trump dan Kim. "Mereka mungkin terkendala masuk kerja karena jalanan ditutup, namun saya yakin para bos akan memahaminya," kata dia.

Senada dengan Hannah, sopir taksi Singapura juga mengatakan pertemuan Trump dan Kim tidak mengubah kebiasaan masyarakat pada hari itu. "Beberapa jalan ditutup saat-saat tertentu, biasa," ujarnya. (Ant.)

BERITA TERKAIT

Mengapa Penetapan Capres-Cawapres 2019 dari Kubu Oposisi Seret?

  Oleh: Muhammad AS Hikam, Pengamat Politik dan Dosen di President University                   Sampai tulisan ini diposting, parpol-parpol yang…

Dunia Politik: Ketidakpastian Sumber Keresahan

Oleh: Erros Djarot, Budayawan Segala sesuatu yang tidak ada kepastiannya, pasti menimbulkan keresahan. Hal ini berlaku di seluruh lini kehidupan,…

Pemerintah Dorong Industri Farmasi Manfaatkan Bahan Baku dari Alam

NERACA   Jakarta - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mendorong industri farmasi dalam negeri untuk menciptakan produk obat-obatan berbahan baku dari…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Berebut Tahta Nomor Dua

  Oleh: Stanislaus Riyanta, Kandidat Doktor Kebijakan Publik Fakultas Ilmu Administrasi UI Menuju pelaksanaan Pilpres 2019, koalisi yang sudah mengkristal…

Ganjil-Genap sebagai Warisan Asian Games 2018

  Oleh :  Bayu Herlambang, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia   Sebagai dampak perhelatan Asian Games 2018 kebijakan…

Ikhtiar Melihat Indonesia-Tiongkok Secara Benar

Oleh: Edy M Yakub Melihat dan mendengar adalah dua kata yang berbeda dan perbedaan keduanya juga mengandung makna yang sangat…