Pengawasan Perbankan dan Teknologi Nano

Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Hong Kong sebagai salah satu pusat keuangan di dunia terkenal akan pengawasan perbankannya dan juga perkembangan teknologi nano-nya. Hal ini terjadi bukan karena kebetulan. Perkembangan teknologi nano dapat dilihat di Hong Kong Science of Technology dimana teknologi nano dipelajari dengan sangat serius dan berada pada tingkat penelitian yang sangat tinggi. Perang dagang antara Amerika Serikat dan RRC akan menghantam teknologi nano dan industry yang terkait di Hong Kong dan pada gilirannya akan mengancam stabilitas perbankan.

Deskripsi awal dari nanoteknologi mengacu pada tujuan penggunaan teknologi untuk memanipulasi atom dan molekul untuk membuat produk berskala mikro. Deskripsi yang lebih umum adalah manipulasi materi dengan ukuran maksimum 100 nanometer. Hal ini tidak lepas dari satu negara dua sistem yang telah berlaku selama ini. Tahun 1982, Deng Xioping secara resmi menyatakan bahwa dua sistem dalam satu negara pada dasarnya adalah diperbolehkan. Hong Kong kemudian ditempatkan dalam status Daerah Administratif Khusus yang menikmati otonomi tingkat tinggi untuk jangka waktu 50 tahun ke depan dihitung mulai pengembalian kedaulatan Hong Kong dari Britania Raya. Jangka waktu 50 tahun ditetapkan karena pemikiran Deng yang beranggapan bahwa sebuah negara tidak akan mungkin diperintah satu generasi kepemimpinan melebihi 50 tahun.

Terbukti hasilnya luar biasa, dimana Hong Kong masih menjadi pusat keuangan dunia dan perkembangan teknologi nano juga sangat pesat. Sebagai salah satu pusat keuangan dunia, Hong Kong memiliki sistem ekonomi kapitalis yang ditandai dengan pajak rendah dan perdagangan bebas. Teknologi nano membantu pengawasan perbankan di Hong Kong. Konsol permainan video dan komputer pribadi lebih murah, cepat, dan memori lebih tinggi berkat teknologi nano. . Molekul silinder karbon dari teknologi nano ini memiliki sifat yang tidak biasa dan sangat bermanfaat di bidang nanoteknologi,elektronik, optik, dan berbagai bidang ilmu dan teknologi material. Karena mereka memiliki konduktivitas termal maupun sifat mekanis dan listrik yang dimiliki, tabung nano karbon dapat diaplikasikan untuk berbagai macam bahan struktur.

Suatu tabung nano secara alami akan menyesuaikan diri membentuk ikatan yang dipertahankan oleh gaya van der Waals. Gaya Van der Waals bersifat permanen sehingga lebih kuat dari gaya london. Baling-baling kapal laut dengan nano karbon membuat pemakaian energi menjadi lebih efisien. Gaya Van Der Waals terdapat pada senyawa Hidrokarbon dengan perbedaan keelektronegatifan yang sangat kecil. Dengan demikian secara sadar atau tidak sadar, teknologi nano yang dikembangkan juga berdampak positif bagi pengawasan perbankan melalui penciptaan perangkat keras pengawasan itu sendiri.

Fokus penting dari pengawasan perbankan di Hong Kong terhadap teknologi nano adalah efek pergeseran industri akibat perkembangan teknologi nano. Dapat dipastikan akan banyak industri yang akan kehilangan daya saing karena tidak dapat bersaing dengan industry yang mampu menerapkan industri nano. Dalam sektor industri tekstil, penggunaan nanopartikel akan membuat tekstil dan pakaian menjadi mudah untuk dibersihkan. Dan dengan penambahan nano partikel silver pada kaos kaki akan mempunyai pengaruh pada pengurangan bau kaki. Dengan nanoteknologi, manusia juga bisa membuat pesawat ruang angkasa dari bahan komposit yang sangat ringan, tetapi memiliki kekuatan seperti baja. Bahkan juga bisa memproduksi mobil yang beratnya hanya 50 kilogram.

Implikasinya teknologi nano juga dapat menjadi katalis bagi pelarian modal ke luar RRC yang pada gilirannya juga pelarian modal keluar Hong Kong. Pelarian modal yang dipercepat oleh kebangkrutan sistem perbankan akibat perkembangan bisnis teknologi nano yang tidak dapat diantisipasi dengan baik. Sementara itu teknologi nano juga mempercepat kapasitas computer untuk membantu pelarian modal dalam hitungan yang sangat cepat. Wabah yang sering terjadi dari krisis keuangan dalam beberapa tahun terakhir telah memicu diskusi baru tentang fenomena pelarian modal di negara-negara berkembang yang cepat tumbuh seperti Thailand, India, dan Malaysia.

Fenomena pelarian modal telah menarik perhatian dan minat banyak peneliti. Pada tahun 1980-an, fenomena pelarian modal telah berfokus pada Cina daratan. Namun, Hong Kong dikenal sebagai salah satu pusat keuangan yang dinamis di Asia dan memainkan peran penting dalam pengembangan pasar keuangan Cina. Sebagian besar modal dari Cina menggunakan sistem keuangan Hong Kong sebagai saluran untuk melarikan diri ke negara-negara lain. Selain itu, faktor-faktor penentu pelarian modal Hong Kong adalah penentuan mata uang yang kemahalan, defisit transaksi berjalan dan variabel dummy pengumuman Kebijakan Pintu Terhuka Cina pada tahun 1979.

Fenomena round-tripping antara Hong Kong dan China membutuhkan waktu sekitar satu-sepertiga dari total FDI Cina yang tercatat dari Hong Kong dan lebih dari setengah dari FDI Hong Kong yang tercatat ke China. Krisis utang tahun 1970-an dan awal 1980-an, para peneliti melihat arus keluar modal yang signifikan dari negara-negara yang ditunggangi krisis karena kinerja ekonomi yang buruk dan ketidakstabilan politik dan peneliti mengidentifikasi fenomena ini sebagai pelarian modal. Para peneliti percaya bahwa pelarian modal dibatasi pembangunan negara dan itu merupakan indikator kemampuan satu negara untuk membayar utang.

Penelitian pelarian modal menjadi kurang disebutkan setelah krisis utang 1980-an ketika modal mulai mengalir kembali ke negara asal mereka, isu-isu baru mulai muncul ketika sejumlah besar modal mengalir ke ekonomi yang berkembang pesat di tahun 1990-an. Misalnya, setelah krisis keuangan Asia 1997, sebagian besar dari modal tersebut menarik ekonomi seperti Thailand, Korea Selatan, Indonesia dan negara-negara Asia lainnya yang mengalami arus keluar modal besar yang selanjutnya membebani pemulihan pasca krisis ekonomi. Pelarian modal berkontribusi pada sejumlah besar sumber daya suatu negara yang dapat digunakan untuk perkembangan domestik. Ini membatasi kapasitas negara-negara yang terkena dampak untuk menggunakan sumber daya domestik dan akses ke sumber daya asing untuk pembangunan masa depan.

Ketika sebuah negara tidak stabil atau dalam waktu krisis, pelarian modal dapat menyebabkan dampak negatif terhadap negara-negara yang terkena dampak. Jika ada krisis di suatu negara, sumber daya modal akan terbatasi, dan negara juga menghadapi kemungkinan cut-off dari sumber dana eksternal. Ini mengakibatkan pembatasan lebih lanjut yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi negara-negara, dan menyebabkan pelarian modal lebih banyak ketika investor domestik memindahkan modal domestiknya ke luar negeri untuk menghindari kerugian finansial (Knoop, 2008).

Pelarian modal keluar Hong Kong tidak dapat dihindarkan apalagi di era nano teknologi saat ini, dengan demikian pengawasan perbankan di Hong Kong juga harus berorientasi kepada pertumbuhan ekonomi Hong Kong yang stabil agar masa depan pertumbuhan ekonomi Hong Kong tidak tergerus oleh pelarian modal. Selain itu, penelitian teknologi nano di Hong Kong harus juga mampu membuat pasar baru di industri dalam negeri agar pelarian modal dapat dikurangi.

BERITA TERKAIT

Saham MINA Masuk Dalam Pengawasan BEI

Lantaran terjadi peningkatan harga saham yang tidak wajar, perdagangan saham PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA) masuk dalam pengawasan PT Bursa…

Pertengahan Tahun, PBB dan BPHTB Sukabumi Sudah Mencapai Rp13 Miliar lebih - Usulan Kerjasama Pembayaran Pajak Via Minimarket

Pertengahan Tahun, PBB dan BPHTB Sukabumi Sudah Mencapai Rp13 Miliar lebih Usulan Kerjasama Pembayaran Pajak Via Minimarket NERACA Sukabumi -…

Hikmahanto: Hindari Eforia di Masyarakat - KESEPAKATAN PEMERINTAH RI DAN FREEPORT

Jakarta-Guru Besar Hukum Internasional UI Prof Dr. Hikmahanto Juwana mengatakan, penandatanganan Head of Agreement (HoA) antara pemerintah RI dan Freeport…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Berebut Tahta Nomor Dua

  Oleh: Stanislaus Riyanta, Kandidat Doktor Kebijakan Publik Fakultas Ilmu Administrasi UI Menuju pelaksanaan Pilpres 2019, koalisi yang sudah mengkristal…

Ganjil-Genap sebagai Warisan Asian Games 2018

  Oleh :  Bayu Herlambang, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia   Sebagai dampak perhelatan Asian Games 2018 kebijakan…

Ikhtiar Melihat Indonesia-Tiongkok Secara Benar

Oleh: Edy M Yakub Melihat dan mendengar adalah dua kata yang berbeda dan perbedaan keduanya juga mengandung makna yang sangat…