Idul Fitri Momentum untuk Instropeksi Diri

Oleh : Sulaiman Rahmat, Mahasiswa Lancang Kuning Pekanbaru

Momen Idul Fitri bagi masyarakat Indonesia menjadi salah satu moment penting untuk berkumpul bersama keluarga dan kerabat. Di Indonesia sendiri setiap lebaran ada tradisi tahunan yakni mudik ke kampung halaman.

Biasanya orang yang telah hidup lama di perantauan akan kembali ke kampung halaman untuk merayakan lebaran Idul Fitri di Kampung. Dalam mempersiapkan mudik ini, tidak hanya individu yang mempersiapkan bekal atau keperluan lain yang akan di bawa selama mudik. Namun, pemerintah juga disibukkan dengan berbagai hal terkait mudik. Di mulai dari dinas perhubungan yang perlu mempersiapkan jalur untuk mudik yakni jalur darat, udara maupun laut. Tak ketinggalan pula dinas pekerjaan umum yang juga disibukkan dengan perbaikan-perbaikan jalan raya supaya bisa dilalui para pemudik dengan nyaman.

Selain itu, polisi dan juga TNI juga dipersiapkan di beberapa titik untuk mengawal para pemudik. Kebutuhan akan BBM pun meningkat menjelang mudik. Selain itu BI juga mempersiapkan uang baru yang juga menjadi kebutuhan masyarakat selama lebaran idul fitri. Karena memang tradisi Idul Fitri juga tidak lepas dari bagi-bagi uang baru kepada anak-anak maupun orang yang lebih muda dan sebagiannya kepada fakir miskin sebagai wujud rasa syukur kepada Allah.

Sebenarnya mudik pada Hari Raya Idul Fitri tidak hanya semata-mata balik kampung saja. Namun, maknanya akan lebih dalam ketika dikaji lebih jauh. Kegiatan mudik ini bisa menjadi bahan instropeksi ketika mau direnungkan. Biasanya orang-orang meninggalkan kampung halamannya dan datang ke kota-kota besar untuk bekerja dan mencari pengalaman. Ketika telah sukses, mereka tidak serta merta melupakan kampung halamannya. Tetapi, masih akan mengunjunginya lagi yang biasanya dilaksanakan pada Hari Raya Idul Fitri.

Nah, ketika banyaknya orang sukses yang kembali ke kampung halaman meskipun untuk sementara waktu, diharapkan dapat membawa perubahan bagi kampung halaman sehingga dapat semakin maju. Begitu pula sebaliknya, nilai-nilai luhur yang diterima sewaktu masih berada di kampung halaman bisa diingat kembali dan kemudian melekat lagi pada tiap orang. Nilai-nilai baik itupun akan terbawa ke kota dan diterapkan disana.

Tentunya masing-masing kampung memiliki adat istiadat dan tata cara yang berbeda. Namun, tetap memiliki nilai luhur yang dijaga oleh masyarakatnya. Ketika mudik di Hari Raya Idul Fitri, menjadi moment yang pas untuk semakin akrab dengan keluarga, kerabat, teman, dan juga semakin paham tentang betapa indahnya nilai-nilai yang diajarkan semasa kecil di kampung halaman.

Kehidupan di kota mungkin bisa merubah karakter dan sifat seseorang. Persaingan yang ketat di ibukota maupun kota-kota besar lainnya membuat seseorang harus tahan banting dalam menjalani kehidupannya. Kota metropolitan dengan segala gemerlapnya juga bisa mengubah pandangan hidup seseorang yang tadinya lurus menjadi terbawa arus dan terpengaruh lingkungan. Mudik dan untuk beberapa waktu kembali lagi ke kampung halaman bisa menjadi obat bagi jiwa-jiwa yang gersang dan lelah untuk bisa tahu kembali apa tujuan hidupnya.

Ketika telah lama jauh dari kampung halaman, maka ketika mudik ada rasa yang lebih bahagia saat akhirnya bisa kembali lagi ke tempat dimana kita dibesarkan. Bayangan tentang masa kecil yang masih polos tentu akan terputar kembali di dalam kepala. Ketika itu terjadi, maka proses merenung pun akan berjalan secara alami. Mudik di Hari Raya Idul Fitri bisa menjadi moment yang pas untuk menginstropeksi diri.

Hari raya idul fitri juga biasa disebut lebaran. Lebaran itu juga diartikan bubaran. Yang jika diperdalam cakupannya menjadi bubar Ramadhan. Seperti yang kita ketahui bahwa Ramadhan menjadi bulan istimewa dimana setiap muslim berusaha untuk meningkatkan ibadahnya. Ketika sudah masuk hari raya, maka Ramadhan pun telah usai. Namun, penting bagi kita untuk menginstropeksi diri apa saja yang sudah ditingkatkan selama bulan Ramadhan dan apa saja yang masih belum maksimal. Diharapkan meskipun Ramadhan telah usai, namun kebaikan-kebaikan yang dilakukan selama bulan ramadhan tetap dijalankan.

Hari Raya Idul Fitri tidak hanya dimaknai sebagai perayaan berkumpul dan juga pesta kembang api. Tapi juga sebagai ajang untuk mengikat tali persaudaraan dan persatuan umat. Tradisi di Hari Raya Idul Fitri, biasanya orang-orng akan saling mengunjungi rumah-rumah keluarga, teman, dan kerabat entah itu dekat bahkan hingga di lain tempat. Tradisi tersebut tentunya bagus dan perlu dilestarikan. Dengan adanya Idul Fitri ini maka akan tercipta rasa saling menyayangi antar keluarga, teman, dan saudara.

Tradisi Idul Fitri lainnya yakni adanya acara halal bi halal. Moment ini menjadi ajang bagi setiap muslim untuk saling memaafkan satu sama lain. Idul fitri menjadi harapan bagi muslim untuk bisa kembali ke fitrah. Yakni bisa kembali suci seperti bayi yang terlahir ke dunia tanpa membawa dosa. Karenanya dalam idul fitri umum kita jumpai seorang muslim akan saling meminta maaf kepada saudara muslimnya. Hal tersebut tentunya merupakan sesuatu yang baik.

Ketika kita telah belajar untuk saling berlomba meminta maaf di moment Idul Fitri, ada baiknya hal itu juga menjadi kebiasaan di lain waktu. Tidak gengsi dalam meminta maaf dan juga mudah memaafkan kesalahan orang lain tentu akan menjadi pemandangan yang bagus jika itu diaplikasikan tidak hanya di moment Idul Fitri, tapi juga di hari-hari selanjutnya.

Setiap muslim umumnya akan bersuka cita menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri. Kegembiraan dan rasa syukur tersebut juga disunahkan dalam agama karena memang Ied berarti hari raya. Jadi, Idul Fitri merupakan hari besar yang patut dirayakan oleh umat Islam. Tidak hanya di Indonesia tapi juga di seluruh dunia. Lalu sebenarnya kegembiraan apa yang disyukuri muslim? Kegembiraan itu sebagai wujud syukur kepada Allah karena telah memberikan hidayah-Nya sehingga umat islam bisa melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan.

Kegembiraan itu disebabkan oleh upaya-upaya yang telah dilakukan dalam menjalankan kebaikan yang sesuai ajaran agama, bukan sebaliknya yang justru bangga dan gembira telah melakukan kemaksiatan.

Ketika Hari Raya Idul Fitri juga disunahkan untuk mengumandangkan takbir, tasbih, dan tahmid. Hal tersebut sesuai dengan ajaran Islam yakni meluapkan suka cita dengan menyebut nama Allah dan memuji keagungan-Nya. Di moment spesial itu juga disunahkan untuk selalu berdzikir agar dalam jiwa setiap muslim bisa selalu mengingat kebesaran Allah.

Tentunya masih ada banyak makna dalam moment idul fitri yang perlu menjadi perenungan bagi setiap muslim. Di momen tersebut sebaiknya kita senantiasa bersyukur atas segala kenikmatan yang sudah Allah berikan. Moment tersebut juga bisa menjadi ajang untuk saling mengakrabkan diri dengan keluarga besar. Dimulai dari keluarga, kemudian masyarakat sekitar, hingga satu kesatuan negara. Idul fitri bisa menjadi ajang persatuan umat untuk bersatu dan menjaga kerukunan. Selamat hari raya Idul fitri. Mohon maaf lahir dan batin.

BERITA TERKAIT

BI Bantah Pembatasan Valas untuk Atur Devisa

    NERACA   Padang - Bank Indonesia (BI) menyampaikan aturan tentang membawa valas atau uang asing ke dalam dan…

Momentum Tepat Saatnya Beli Saham Murah

Kepala kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Jayapura, Kresna Aditya Payokwa menilai, nilai tukar rupiah yang sedang melemah sekarang ini…

BI Masih Intervensi Pasar untuk Kuatkan Rupiah

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia masih melangsungkan kombinasi kebijakan moneter termasuk intervensi pasar agar nilai tukar…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Pemahaman Mahasiswa Patut Dipertanyakan

   Oleh : Rivka Mayangsari, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI) Demonstrasi puluhan mahasiswa di Kementerian Keuangan sebagai…

Siapapun yang Menang Pilpres 2019 : Tugas Berat Menantinya

  Oleh : Dedi Syaifullah Kurniadi Jamil, Pengamat Ekonomi Politik Kubu Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin maupun kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin…

Menghindari Akrobat Penempatan CEO BUMN

Oleh:  Karnoto Mohamad, Komisaris Infobank Institute Kementerian BUMN baru saja merombak direksi Garuda Indonesia. Pahala N Mansury yang menjadi chief…