FREN Siap Buyback Obligasi 2007

NERACA

Jakarta – Emiten telekominikasi, PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) berencana membeli kembali obligasi I Mobile-8 Telecom Tahun 2007.

Hal ini disampaikan Corporate Secretary FREN Chris Taufik dalam keterbukaan informasinya ke BEI, Rabu (2/3). Dijelaskan, obligasi yang akan dibuyback ini memiliki tingkat bunga tetap.

Pembelian obligasi senilai Rp606,5 miliar ini akan mulai dilakukan pada 2 Maret hingga 2 Mei 2011. Mekanisme pembeliannya dilakukan dengan cara menerbitkan saham baru seri B kepada pemegang obligasi atas pembelian kembali obligasi yang nilainya setara dengan 105% dari nilai pokok obligasi. Harga konversinya sebesar Rp50 per saham dengan nilai nominal Rp50 per saham.

Sebelumnya, perseroan dikabarkan akan mengubah nama dan mengganti pengurus perusahaan pasca diakuisisi oleh pemegang saham mayoritas.

Direktur FREN Anthony C. Kartawiria pernah bilang, perseroan berencana merubah nama serta kepengurusan manajemen. “Dalam agenda RUPS yang dijadwalkan 23 Maret 2011 mendatang, agenda pembahasannya soal perubahan nama perseroan,”katanya.

Selain itu, RUPS juga mengagendakan perubahan pengurus dan Dewan Komisaris serta penentuan gaji anggota Direksi dan honorarium anggota Dewan Komisaris Perseroan. Rencana perubahan nama emiten tentunya memiliki korelasi terkait penggabungan usaha antara PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) dengan PT Smart Telecom. Pasalnya, kedua operator seluler itu kini memiliki pemegang saham mayoritas yang sama.

Tiga pemegang saham mayoritas Smart, PT Bali Media Telekomunikasi, PT Wahana Inti Nusantara dan PT Global Nusa Data telah mengambil alih 99,6% saham baru FREN yang diterbitkan dalam penawaran umum terbatas (PUT) I FREN. Dalam aksi korporasi tersebut, FREN menawarkan 74,072 miliar saham baru seharga Rp 50 per saham.

Kata sekretaris perusahaan FREN Chris Taufik, investor publik hanya membeli 297 juta saham, atau 0,2%. “Ketiga pemegang saham mayoritas Smart akan memiliki 55% saham FREN setelah PUT (penawaran umum terbatas) I," ungkapnya.

Sementara porsi kepemilikan Jerash Investment Ltd turun dari 17% menjadi 5% setelah PUT I. Porsi saham publik dengan kepemilikan di bawah 5% juga merosot dari 58% menjadi 21%. Porsi saham investor institusi FREN, yang memiliki kepemilikan saham di atas 5%, juga menyusut dari 35% menjadi hanya 9%

Dalam hasil penawaran saham, FREN berhasil memperoleh dana Rp 3,7 triliun. Sebagaimana diketahui, seluruh dana penerbitan saham baru akan digunakan FREN untuk mengakuisisi 57% saham Smart Telecom. Tapi karena pembeli siaganya adalah pemegang saham mayoritas Smart Telecom, praktis Smart Telecom yang mengakuisisi FREN.

Manajemen berharap hasil konsolidasi tersebut bisa mendongkrak kinerja FREN di masa depan. Perusahaan hasil penggabungan diharapkan juga bisa menggenjot penjualan dengan merilis berbagai produk dan layanan baru.

Analis Samuel Sekuritas, Adrianus Bias Prasuryo menilai, aksi korporasi tersebut berdampak positif bagi FREN yang selama ini mengalami kesulitan finansial. "Keuangan dan aset Grup Sinarmas yang besar sangat membantu FREN," tuturnya.

Smart Telecom juga akan menikmati manfaat penggabungan karena perusahaan tersebut bisa menikmati fasilitas infrastruktur FREN. Kendati yakin FREN akan membaik, Adrianus mengaku belum bisa menilai apakah FREN layak mendapat rekomendasi beli.

Pendapatan FREN selama sembilan bulan pertama tahun lalu adalah Rp 306,69 miliar, merosot 47,05% year-on-year. Di periode tersebut, rugi bersih FREN mencapai Rp 1,05 triliun, membengkak dari Rp 439,95 miliar di periode yang sama tahun lalu. Kas FREN di akhir September 2010 Rp 17,55 miliar.(bani/ardi)

BERITA TERKAIT

Marak di Semester Kedua - Pefindo Taksir Obligasi Capai Rp 135 Triliun

NERACA Jakarta – Memasuki semester kedua tahun ini, banyak sentimen positif yang bakal menjadi pemicu tren pasar obligasi kembali marak.…

Percepat Pembangunan di Jabar - Pemprov Jabar Terbitkan Obligasi Daerah

NERACA Jakarta –Besaranya minat pemerintah daerah untuk menerbitkan obligasi daerah, terus bertambah. Kali ini, pemerintah provinsi Jawa Barat kembali menyampaikan…

Investasi Obligasi untuk Kemandirian Finansial

  NERACA   Jakarta - Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman mengatakan peluncuran Savings Bond Ritel…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Volume Penjualan Terkoreksi 5,58% - Astra Terus Pacu Penjualan di Semester Kedua

NERACA Jakarta – Lesunya bisnis otomotif di paruh pertama tahun ini memberikan dampak terhadap bisnis otomotif PT Astra International Tbk…

Hartadinata Akuisisi Perusahaan E-Commerce

Kembangkan ekspansi bisnisnya, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) pada tanggal 15 Juli 2019 menandatangani akta perjanjian penyertaan modal yang pada…

Kasus Hukum Menimpa Tiga Pilar - Investor Ritel Minta Kepastian Hukum

NERACA Jakarta – Kisruh sengketa manajamen PT Tiga Pilar Sejahtera Tbk (AISA) masih menyisakan masalah bagi para investor, khususnya investor…