Memupuk Pertumbuhan Kredit

Oleh: Nailul Huda

Peneliti INDEF

Kinerja penyaluran kredit pada April 2018 mengalami perbaikan lebih baik daripada akhir tahun lalu dan awal tahun ini. Secara umum, pertumbuhan penyaluran kredit pada April 2018 tumbuh 8,9% (yoy), lebih tinggi jika dibandingkan Januari 2018 dimana hanya tumbuh 7,4%. Bahkan pertumbuhan tersebut lebih tinggi daripada akhir tahun 2017 dimana pertumbuhan kredit pada Desember 2017 hanya mencapai 8,2%.

Pertumbuhan kredit pada April 2018 ini banyak didorong oleh kredit untuk investasi dimana pertumbuhan kredit investasi tumbuh sebesar 7,5%, lebih tinggi daripada Februari 2018 yang tumbuh 4,6%. Di sisi lain, kredit untuk modal kerja dan konsumsi pertumbuhannya sedikit melambat. Pertumbuhan kredit untuk modal kerja melambat dari 8,5% (Februari 2018) menjadi 8,2% pada April 2018. Sedangkan kredit konsumsi melambat daripada bulan Maret 2018 yang sempat tumbuh 11,4% menjadi 11,1% (April 2018).

Data-data tersebut menunjukkan bahwa geliat investasi dan ekonomi mulai dirasakan oleh sektor korporasi Indonesia. Kebutuhan untuk berinvestasi semakin besar. Hal ini juga disebabkan oleh suku bunga kredit investasi secara rata-rata turun relatif lebih cepat dibandingkan dengan suku bunga kredit konsumsi maupun modal kerja. Rata-rata kredit investasi berada di angka 10,38%, kredit konsumsi (12,48%), dan kredit modal kerja (10,63%).

Pertumbuhan positif penyaluran kredit mempunyai tantangan yang berat pada tahun 2018 ini dimana pertumbuhan ditargetkan mencapai 12%. Faktor fluktuasi nilai tukar rupiah yang sangat dinamis bahkan cenderung melemah terhadap dolar US tidak boleh dianggap enteng bagi pengambil kebijakan. Untuk menguatkan, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI 7-Day Repo Rate) sebanyak dua kali sebesar 25 basis poin per kenaikan selama sebulan terakhir. Dikhawatirkan kenaikan suku bunga ini akan menghambat pertumbuhan kredit, meskipun banyak faktor lainnya.

Faktor kenaikan suku bunga acuan ini juga ditakutkan akan mempunyai dampak kepada sektor riil seperti perlambatan konsumsi masyarakat. Persoalan daya beli masyarakat yang masih melemah hingga kuartal pertama tahun ini masih juga belum terselesaikan. Hal ini juga dibuktikan dengan perlambatan pertumbuhan penyaluran kredit konsumsi. Padahal konsumsi masyarakat ini sangat menopang pertumbuhan ekonomi. Perlambatan sektor konsumsi masyarakat secara otomatis akan menekan juga pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah perlu membenahi ekonomi domestik seperti pelemahan daya beli untuk menghindari titik balik pertumbuhan kredit guna mencapai target pertumbuhan kredit 12%. Selain itu, perbaikan kemudahan berusaha menjadi salah satu faktor juga untuk meningkatkan pertumbuhan kredit. Melalui Online Single Submission (OSS) sebenarnya kemudahan berbisnis dan investasi bisa diterapkan. Namun lagi-lagi kesiapan sumber daya manusia (SDM) di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebabkan kebijakan ini berjalan sangat lambat dan tertunda terus menerus. Bahkan Peraturan Pemerintah sebagai landasannya juga masih belum ditandatangi oleh Presiden.

Masyarakat berharap pemerintah serius untuk melakukan perbaikan baik daya beli masyarakat dan kemudahan berusaha dan berinvestasi untuk dapat menopang pertumbuhan kredit.

BERITA TERKAIT

Dana Desa Disebut Mampu Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

  NERACA   Jakarta - Ekonom Ilya Avianti mengatakan bila pengelolaan dana desa mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga pertanggungjawaban…

Pertumbuhan Ekonomi Belum Merata - Oleh ; Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Beberapa waktu lalu Badan Pusat Statistik (BPS) merilis ekonomi kwartal III 2018 tumbuh 5,17%. Data itu juga menyebutkan kontribusi terbesar…

PNM Sosialisasikan Kredit Ultra Mikro ke UMKM Kalbar

PNM Sosialisasikan Kredit Ultra Mikro ke UMKM Kalbar NERACA Pontianak - PT Permodalan Nasional Madani (PNM) terus melakukan sosialisasi kredit…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Kampanye Simpatik

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo   Drama politik melalui kampanye nampaknya semakin memanas…

Revolusi Pertanian 4.0

  Oleh: Nailul Huda Peneliti INDEF   Sama seperti revolusi industri sebelumya, revolusi industri 4.0 merupakan suatu peristiwa yang tidak…

Pertumbuhan Ekonomi Belum Merata - Oleh ; Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Beberapa waktu lalu Badan Pusat Statistik (BPS) merilis ekonomi kwartal III 2018 tumbuh 5,17%. Data itu juga menyebutkan kontribusi terbesar…