Kenaikan Harga: Agar Janji tidak Hanya Tinggal Janji

Oleh: Pril Huseno

Para ibu rumah tangga agaknya bisa sedikit tenang. Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukito menjamin, sampai dengan lebaran nanti harga kebutuhan pokok tak akan naik. Jaminan Mendag disampaikannya usai sidak ke sejumlah pasar tradisional di Cirebon (30/05) dan Kupang (NTT) mengecek harga-harga kebutuhan pokok beras, gula, daging sapi dan ayam serta minyak goreng.

Didapati, harga daging ayam memang cenderung bergerak naik dari semula Rp33 ribu menjadi Rp36 ribu per kilogram, sementara harga kebutuhan pokok lain cenderung stabil. Kenaikan harga daging ayam memang sempat mencapai Rp60 ribu per kilogram di beberapa tempat beberapa waktu lalu. Namun Enggartiasto menilai hal itu wajar mengingat permintaan yang tinggi dan kelangkaan pasokan saat ramadhan ini. Oleh karenanya dalam rangka mengendalikan harga, saat ini Mendag mengizinkan perusahaan besar untuk ikut menyuplai daging ayam ke pasaran. Ketentuan sebelumnya yang melarang perusahaan besar memasok daging ayam ke pasar tradisional, dicabut.

Tetapi, apa iya jaminan Mendag akan benar-benar membuat harga tidak naik menjelang lebaran ini? Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, lonjakan harga pasti terjadi pada saat Ramadhan dan menjelang Idul Fitri. Terlebih, bagi produk makanan dan minuman, juga produk lain yang mengandalkan bahan bakunya dari impor, di tengah fluktuasi kurs mata uang yang tidak menguntungkan saat ini.

Oleh karenanya mengingat gonjang-ganjing pelemahan rupiah saat ini, Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) menyatakan akan menaikkan harga-harga produk setelah lebaran. Begitu pula produsen obat-obatan dan besi baja. Penguatan sedikit nilai rupiah saat ini dipandang masih belum cukup aman dari risiko kembali melemahnya kurs ke depan. Padahal, anggota GAPMMI sudah mensiasati pelemahan kurs rupiah dengan mengimpor stok bahan baku sejak beberapa bulan lalu. Tapi, rupanya pelemahan rupiah terus berlangsung sampai sekarang.

Jika para produsen makanan dan minuman,obat-obatan dan besi baja serta produk lainnya jadi menaikkan harga jual setelah lebaran, apakah janji Mendag untuk tidak naiknya harga-harga tidak bisa diteruskan sampai setelah lebaran? Artinya, jika langkah-langkah menstabilkan harga yang dilakukan kemendag sekarang mestinya bisa dilanjutkan untuk mengantisipasi lonjakan harga pasca keputusan menaikkan harga dari para produsen.

Bagi konsumen atau masyarakat, kenaikan harga sejatinya adalah ‘pukulan berikutnya’ setelah kenaikan harga bahan bakar dan listrik serta pajak-pajak. Tingkat konsumsi masyarakat yang sejak setahun lalu tidak kunjung meningkat di angka 4,95 persen, diperkirakan akan semakin sulit untuk bisa diperbaiki. Bagi pengusaha, kenaikan harga bahan baku impor--meski akan coba ditutupi oleh kenaikan harga jual yang direncanakan setelah lebaran--masih harus was-was dengan cashflow perusahaan mengingat target penerimaan pajak pemerintah pada 2018 yang dinaikkan menjadi Rp1.424 triliun atau naik 24 persen dari realisasi penerimaan pajak 2017. Itu artinya, akan ada ekspansi pajak yang lebih besar dan pengusaha akan kembali merasa “dikejar-kejar” petugas pajak.

Siapkah Kementerian Perdagangan mengantisipasi gejolak kenaikan harga-harga menjelang hari raya Idul Fitri dan setelah produsen mengumumkan kenaikan harga jual? Langkah-langkah apa yang sebaiknya dilakukan untuk menyiasatinya? Apa-apa langkah berikutnya bagi pemerintah agar daya beli masyarakat tidak kembali tergerus? (www.watyutink.com)

BERITA TERKAIT

KABUPATEN SUKABUMI - Harga Telur dan Ayam Potong Semakin Melambung

KABUPATEN SUKABUMI  Harga Telur dan Ayam Potong Semakin Melambung NERACA Sukabumi - Harga telur dan ayam potong di wilayah Kabupaten…

Raperda LPJ APBD Rp3,3 Triliun Walikota Depok Ditolak Fraksi - Diusulkan Agar DPRD Bentuk Pansus

Raperda LPJ APBD Rp3,3 Triliun Walikota Depok Ditolak Fraksi Diusulkan Agar DPRD Bentuk Pansus NERACA Depok - Meski baru saja…

Kemensos Pede Kenaikan PKH Rp32 Triliun Disetujui DPR

    NERACA Jakarta – Kementerian Sosial optimistis kenaikan anggaran Program Keluarga Harapan (PKH) hingga dua kali lipat mencapai Rp32…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Kerusakan Lingkungan Hidup dan Pembangunan Infrastruktur

Oleh : Linda Rahmawati, Pengamat Masalah Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam            Sampai pertengahan Juni 2018, pengerjaan proyek kereta…

Kesenjangan Barat-Timur RI Tak Bisa Segera Berakhir

Oleh: Sarwani NKRI Harga Mati !!! yel yel  ini sering kita dengar sebagai reaksi atas munculnya gerakan separatisme atau ancaman…

Riak-Riak Permasalahan Pasca Pilkada 2018

  Oleh : Wulandari Dewi Setyaningsih, Pemerhati Sosial Politik              Setelah “berhasil” dilaksanakan tanggal 27 Juni 2018 yang lalu,…