Pemerintah Prioritaskan Penurunan Bunga KUR

NERACA

Jakarta--- Kementerian Koperasi dan UKM mengungkapkan saat ini penurunan tingkat suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi agenda utama setelah dipangkasnya tingkat suku bunga acuan atau BI rate menjadi 5,75%. "Penurunan suku bunga KUR itu menjadi agenda kami sekarang ini," kata Deputi Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM Choirul Djamhari di Jakarta,

Lebih jauh kata Choirul, tingkat suku bunga KUR terutama untuk KUR skala mikro yang ditetapkan sebesar 22% per tahun masih tergolong membebani dan memberatkan pelaku KUMKM di daerah-daerah. Terlebih suku bunga KUR untuk ritel telah diturunkan satu persen sebelumnya bahkan sebelum BI rate dipangkas, yakni dari 14% pertahun menjadi 13% per tahun. "Kami mendorong perbankan untuk melakukan efisiensi agar bisa memprakarsai penurunan suka bunga setelah BI rate diturunkan," tambahnya

Menurut Choriul, prakarsa yang baik itu harus dirintis agar juga diikuti oleh bank-bank yang lain. Pihaknya sangat mengharapkan pemangkasan tingkat suku bunga acuan atau BI rate sebesar 0,25 basis points menjadi 5,75% akan menjadi pemicu turunnya suku bunga KUR. "Kita berharap ini menjadi pemicu bunga KUR yang selama ini memiliki banyak faktor kendala dan pertimbangan," terangnya

Dikatakan Choirul, dengan turunnya suku bunga acuan secara otomatis "cost of fund" akan menjadi lebih rendah. "Dengan begitu, ke dalam, bank kita minta untuk meningkatkan efisiensi sehingga net interest margin tetap terjaga,” tuturnya.

Choirul sendiri merasa yakin dengan adanya penurunan bunga acuan, maka bank-bank yang ditunjuk untuk menyalurkan KUR segera melaksanakan himbauan tersebut. “Dan ke luar, bank pelaksana KUR sekali lagi kami minta untuk memprakarsai penurunan bunga yang biasanya akan diikuti bank lain," tukasnya

Sebelumnya, pihaknya menyatakan sampai saat ini masih sulit untuk menurunkan tingkat suku bunga program KUR khususnya KUR sektor mikro yang dipatok maksimal 22% pertahun efektif. Sedangkan KUR ritel dipatok maksimal 13% pertahun efektif.

Sejumlah pertimbangan yakni pada sisi perbankan yang mengharuskan adanya spread atau selisih tingkat suku bunga simpanan/deposito dengan suku bunga pinjaman untuk menjaga agar bank tidak kekurangan likuiditas.

Choirul juga mengatakan, ada risiko lain yang harus dihadapi perbankan penyalur KUR bila suku bunga KUR dibuat lebih rendah. "Jika tingkat suku bunga KUR dibuat rendah maka itu dikhawatirkan akan mengorbankan portofolio produk bank yang lain," ucapnya

KUR mikro sendiri merupakan pinjaman debitur KUR yang jumlahnya maksimal Rp20 juta, sedangkan KUR ritel besar pinjamannya di atas Rp20 juta-Rp500 juta. **cahyo

BERITA TERKAIT

Strategi Pemerintah Atasi Defisit Neraca Migas

      NERACA   Jakarta - Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Djoko Siswanto membeberkan sejumlah strategi…

Eksportir Wajib Konversikan 50% DHE - PEMERINTAH SIAPKAN ATURAN KHUSUS (PP)

Jakarta-Pemerintah akhirnya siap menerbitkan aturan yang mewajibkan eksportir mengkonversi devisa hasil ekspor (DHE) yang semula berbentuk mata uang asing ke rupiah.…

Realisasi Penyaluran KUR 70,9% - Sampai Agustus 2018

      NERACA   Jakarta - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat jumlah penyaluran KUR hingga 31 Agustus 2018 mencapai…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Mandiri Inhealth Tingkatkan Kualitas Layanan - HUT Ke 10

    NERACA   Bogor - Menyambut Hari jadinya yang ke 10 pada 6 Oktober mendatang PT Asuransi Jiwa Inhealth…

BNI Dukung Perhelatan Asian Para Games 2018

  NERACA   Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) kembali berpartisipasi sebagai Official Prestige Digital Banking Partner…

Industri Asuransi Jiwa Optimistis Pertumbuhan Unit Link

  NERACA   Denpasar - Perusahaan asuransi jiwa Prudential Indonesia optimistis pertumbuhan produk asuransi jiwa yang menggabungkan investasi atau "unit…