Gapuraprima Anggarkan Capex Rp 350 Miliar - Danai Akuisisi Lahan

NERACA

Jakarta – Tambah landbank dalam mendongkrak pertumbuhan penjualan, emiten properti PT Perdana Gapuraprima Tbk (GPRA) tahun ini menganggarkan belanja modal atau capex sebesar Rp 350 miliar. Dana tersebut salah satunya akan digunakan untuk penambahan landbank atau tanah seluas 20 hektare (ha)-50 ha.

Direktur PT Perdana Gapuraprima Tbk, Alvin F Iskandar mengatakan, saat ini total landbank yang dimiliki sekitar 250 ha. "Sebanyak Rp 350 miliar tersebut juga akan digunakan untuk menyelesaikan proyek tahap akhir," katanya di Jakarta, kemarin.

Untuk lahan perumahan GPRA misalnya, masih ada seluas 70 ha yang belum dikembangkan. Selain itu, proyek seperti apartemen Bellevue Place Mt Haryono, Grandpark Valley Pakuan, Bhuvana Ciawi dan Metro Cilegon masih dalam tahap pengerjaan. Alvin mengatakan dengan belanja modal tersebut, marketing sales di tahun ini ditargetkan mencapai Rp 400 miliar-Rp 500 miliar. Hingga kuartal I-2018, marketing sales GPRA telah mencapai Rp 130 miliar.

Menurut Alvin, marketing sales di awal tahun 2018 ini sedikit stagnan dibandingkan dengan tahun lalu. Melihat dari laporan keuangan perusahaan, pendapatan perusahaan memang menurun. Di kuartal pertama tahun ini, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 80,4 miliar turun 1,225 dari periode yang sama tahun 2017 yang sebesar Rp 81,4 miliar. Saat ini komposisi pendapatan terbesar GPRA berasal dari penjualan rumah dan kapling dengan kontribusi sebesar 67,41% di kuartal I-2018. Sisanya pendapatan berasal dari penjualan apartemen dan kantor, apartemen service, dan sewa.

Tahun lalu, Gapuraprima Group menjual GP Hotel Mega Kuningan. Perusahaan menargetkan perolehan dana sekitar Rp 100 miliar dari penjualan satu gedung hotel tersebut. Disebutkan, penjualan hotel tersebut merupakan bagian dari strategi bisnis grup. Semua proyek proyek properti yang sudah dikembangkan arahnya akan dijual.

GP Hotel sudah beroperasi sejak tahun 2013. Semula nama hotel ini adalah Best Western Mega Kuningan. Hotel tersebut kemudian berganti nama setelah habis masa kontrak dengan operator hotel tersebut. Alvin pernah bilang, penjualan hotel tersebut bukan lantaran tingkat okupansi rendah melainkan lebih kepada sisi strategis bisnis perusahaan tersebut. Saat ini, tingkat keterisian hotel berkapasitas 67 unit kamar itu mencapai 70%.

BERITA TERKAIT

Chandra Asri Rilis Obligasi Rp 500 Miliar - Danai Pelunasan Utang

NERACA Jakarta – Jelang tutup tahun, emisi penerbitan obligasi masih ramai dan salah satunya PT Chandra Asri Petrochemical Tbl (TPIA)…

Pool Advista Bidik Pendapatan Rp 87 Miliar

NERACA Jakarta – Sukses mencatatkan saham perdananya di pasar modal, PT Pool Advista Finance Tbk (POLA) langsung mematok target bisnis…

KPK: Pengembalian Suap DPRD Sumut Rp8 Miliar

KPK: Pengembalian Suap DPRD Sumut Rp8 Miliar NERACA Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menerima pengembalian sekitar Rp8 miliar dari…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pefindo Beri Peringkat AA- Chandra Asri

NERACA Jakarta - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menegaskan rating untuk PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) pada AA-. Prospek…

Bakrieland Raup Untung Rp 3,1 Triliun

NERACA Jakarta – Emiten properti, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) mencatat laba bersih sebesar Rp 3,1 triliun hingga kuartal III-2018…

Pefindo Beri Peringkat A Semen Baturaja

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menegaskan peringkat idA PT Semen Baturaja Tbk (SMBR), serta surat utang jangka menengah atau Medium…