Kepastian Sektor Ekonomi

Oleh: Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Di tahun naga air ini menurut ahli fengshui akan mendatangkan kesuksesan, tetapi banyak pula akan ketidak pastian, baik itu rezeki, kesuburan ataupun bencana. Persoalan ketidakpastian ini yang tidak banyak diharapkan bagi pelaku ekonomi. Karena dalam dunia bisnis yang dibutuhkan adalah kepastian akan regulasi, biaya produksi dan juga kepastian hukum.

Mungkin pengalaman inilah yang sulit diprediksi bagi pelaku pasar tentang arah industri pasar modal dan termasuk rencana beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang disiapkan untuk penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO). Kala itu, Kementerian BUMN sempat sesumbar bila PT Semen Baturaja adalah BUMN yang disiapkan untuk segera listing di pasar modal. Namun toh, hingga tiga tahun berturut-turut, sejak dizaman Meneg BUMN Sofyan Djalil hingga Dahlan Iskan rencana tersebut belum terwujud.

Selain itu, ketidak pastian juga tejadi terhadap rencana IPO PT Pegadaian. Yang awalnya sudah disiapkan untuk IPO tahun ini, kemudian dibatalkan lantaran khawatiran akan jatuhnya perusahaan pembiayaan tersebut terhadap aksi para spekulatif yang mencari untung semata.

Bejalar dari pengalaman pahit IPO Krakatau Steel dan Garuda Indonesia yang menjadi bulan-bulanan para spekulan hingga pencucian uang, maka langka yang dilakukan pemerintah dinilai wajar. Namun adanya perubahan rencana di tengah jalan sangat disayangkan bagi para pelaku pasar yang sudah menaksir saham perusahaan pembiayaan plat merah tersebut.

Investasi di pasar modal sangat memperhatikan jelas adanya kepastian dari berbagai aspek dan termasuk timing atau waktu yang tepat. Semakin banyak pemerintah menunda-nunda pelaksanaan IPO BUMN, maka semakin sulit bisa mendapatkan keuntungan besar lantaran moment yang baiknya sudah terlewatkan.

Selain itu, ketidakpastian yang dilakukan pemerintah juga persoalan holding BUMN. Saat itu, pemerintah memiliki konsep untuk melakukan holding beberapa BUMN karya, perkebunan dan perbankan dengan alasan efisiensi dan bekerja maksimal. Namun gagasan tersebut tidak terdengar kabarnya dan di zaman Dahlan Iskan, rencana holding kembali dihidupkan dengan memprioritaskan tiga holding BUMN, yaitu kehutanan, farmasi dan perkebunan dengan menjanjikan ditahun ini selesai.

Apa yang disampaikan itu memiliki konsep yang bagus, namun yang ditunggu pelaku ekonomi dan pasar adalah aksi nyata dilapangan dan bukan memberikan janji-janji palsu serta ketidakpastian. Alhasil, bila hal ini terus terjadi yang ada pelaku pasar dan investor akan lari dari Indonesia.

Mungkin pelaku pasar dan ekonomi harus bisa memaklumi bila aksi holding dan BUMN IPO tidak semudah swasta, karena banyak pertimbangan aspek politik dan risiko untung dan rugi bagi negara yang imbasnya kondisi ini akan memicu perlambatan ekonomi, terlebih bila menyangkut industri perbankan.

Ada baiknya ketidakpastian pada sektor ekonomi harus disudahi agar bisa menggerakkan roda ekonomi, khususnya rencana kenaikan bahan bakar minyak (BBM) ataupun pembatasan BBM, dan jangan mengulangi hal buruk pada ketidakpastian penegakan hukum negara ini yang banyak merugikan orang lain.

BERITA TERKAIT

Indonesia-Inggris Perkuat Kerja Sama Sektor Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Indonesia-Inggris Perkuat Kerja Sama Sektor Lingkungan Hidup dan Kehutanan NERACA Katowice, Polandia - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sabtu, 8…

MESKI PENERIMAAN SEKTOR MINERBA MENINGKAT - KPK: Kepatuhan Pajak SDA Masih Rendah

Jakarta-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menegaskan, tingkat kepatuhan pajak di sektor sumber daya alam (SDA) khususnya sektor ekstraktif masih rendah. Perusahaan…

Perang Dagang Mulai Berdampak ke Sektor Finansial

      NERACA   Jakarta – Perang dagang antara China dengan Amerika Serikat (AS) mulai berdampak ke sektor finansial.…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

PEMERINTAH UBAH PROGRAM PRIORITAS KE PEMBANGUNAN SDM - Presiden: Tanpa Kerja Keras, Jangan Mimpi Negara Maju

Jakarta-Presiden Jokowi menegaskan, tahun depan (2019) pemerintah akan menggeser program prioritasnya dari pembangunan infrastruktur dalam empat tahun terakhir ke sumber…

Kontribusi Ekonomi Digital Bisa Mencapai 8,5% PDB

NERACA Jakarta-Presiden Jokowi optimistis kontribusi ekonomi digital terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini bisa mencapai 8,5%, lebih tinggi dibandingkan…

Jelang Evaluasi, Keberhasilan Kinerja Jokowi Patut Diapresiasi

  Oleh:  Aldo Indrawan, Pemerhati Ekonomi Politik   Sudah 4 tahun Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin…