Bank Mutiara Tak Dilego ke Sembarang Investor

Bank Mutiara Tak Dilego ke Sembarang Investor

Jakarta--- Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menolak menjual PT Bank Mutiara Tbk kepada pihak yang dinilai kurang prudent, meskipun harganya sudah dianggap cocok. Alasanya karena kemungkinan besar pembeli tersebut takkan lolos dari aturan ketat Bank Indonesia (BI). "Intinya kita tak akan lepas pada pihak yang tidak prudent, karena juga tidak akan lolos dari Bank Indonesia (BI)," kata anggota Dewan Komisioner LPS Mirza Aditya Swara di Jakarta, Kamis (16/2)

Lebih jauh MIrza mengungkapkan investor yang tertarik ingin membeli Bank Mutiara harus terlebih dahulu lolos fit and proper test BI, setelah itu harus lolos syarat-syarat yang sudah ditetapkan LPS. "Meski harga sesuai kalau tidak lewat fit and proper test BI ya tidak akan bisa. Jadi jangan khawatir," imbuhnya

Sebelumnya, Yawadwipa Companies yang sudah tertarik ingin membelu Bank Mutiara memang haus mencari cara lain, agar tak terganjal adanya aturan yang mengharuskan 3 tahun pengalaman. Karena itu Yawadwipa melakukan manuver dengan mencoba menggandeng bank lain yang sudah ada di Indonesia. "Kami tidak menutup kemungkinan bermitra dengan Bank yang sudah beroperasi di Indonesia," kata Direktur Operasional Yawadwipa Prasetyo Singgih di Jakara,14/2

Sayangnya, Prasetyo tak bersedia mengungkap ke publik terkait bank yang akan menjadi mitranya ke depan guna mengakuisisi Bank Mutiara seharga Rp 6,7 triliun.

Sebelumnya, Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga menyarankan agar Yawadwipa mengambil langkah lain. "Kalau terbentur masalah perusahaan keuangan harus 3 tahun pengalaman dsb, opsinya masih banyak. Jadi kalau Yawadwipa serius, mungkin bisa pakai cara lain," kata Firdaus Djaelani.

Trik-trik agar lolos dari jeratan aturan tersebut seperti disampaikan Firdaus antara lain bisa saja Yawadwipa membeli Bank Mutiara atas nama perusahaan lain, atau atas nama pemiliknya langsung. Ini mengingat Yawadwipa Companies adalah perusahaan equity fund yang merupakan tempat mengelola dana-dana saja atau bisa disebut SPV.

LPS awal Februari lalu memang membuka lagi lelang penjualan Bank Mutiara. Penjualan Bank Mutiara dalam 2 kali kesempatan gagal karena tidak berhasil menemukan pembeli yang memenuhi syarat, terutama soal harga yang mencapai Rp 6,7 triliun.

Nah, awal pekan ini, perusahaan equity fund, Yawadwipa Companies membuat heboh karena mengumumkan rencananya membeli Bank Mutiara pada harga mahal Rp 6,7 triliun. Niat yawadwipa itu mendapatkan banyak respons miring karena baru berdiri pada 9 Januari 2012, namun sudah berani koar-koar membeli Bank Mutiara pada harga mahal. **cahyo

BERITA TERKAIT

BPKN SOROTI KASUS OVO DAN BANK MANDIRI - Insiden Konsumen E-Commerce Diduga Meningkat

Jakarta-Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) memperkirakan insiden perlindungan konsumen (PK) terkait e-commerce akan meningkat pesat di tahun mendatang, seiring dengan…

Meski Sudah Normal, Bank Mandiri Blokir Sementara 2.670 Rekening

NERACA Jakarta-Meski memastikan layanan perbankan normal, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memblokir sementara 2.670 rekening nasabah terdampak akibat kesalahan sistem…

Jangkau Investor Ritel - Barito Pacific Raih Izin Stock Split Saham 1:5

NERACA Jakarta – Perkuat likuiditas saham di pasar, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) bakal menggelar stock split saham 1:5. Pada…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BI Tegaskan Penurunan Suku Bunga Kembali Terbuka

  NERACA   Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo melontarkan sinyalemen kuat bahwa Bank Sentral bisa saja kembali menurunkan…

DPLK BRI Naik 40%

    NERACA   Jakarta - Dana kelolaan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) BRI hingga Juni 2019 mencapai Rp12,03 triliun…

Banyak Lembaga Pembiayaan Kerjasama dengan Dukcapil, Perlindungan Data Dipertanyakan

  NERACA   Jakarta – Lembaga pembiayaan banyak yang bekerjasama dengan pemerintah dalam hal ini Kementerian Dalam Negeri (Kemendag) lebih…