Pembangunan Dermaga 3 PPNP Mundur

Neraca. Pembangunan dermaga 3 Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu (PPNP) terus diundur karena terhambat pembebasan lahan oleh Panitia Pembebasan Tanah (P2T) Pemkab Sukabumi. Sampai Kamis (12/1) P2T belum tuntas menyelesaikan ganti rugi dengan sebagian warga yang menguasai bakal lahan dermaga 3.

Pada proses pembebasan lahan terdapat segelintir warga yang mengklaim sebagai penggarap masih berselisih paham dengan P2T soal luas lahan yang akan dibebaskan. Walaupun telah dilakukan verifikasi dan mediasi, P2T belum dapat mencapai kesepakatan dengan para penggarap.

“Karena belum juga tuntas pembebasan lahannya, pembangunan dermaga 3 ditunda,” kata Kepala PPNP Arief Rahman Lamatta kepada wartawan.

PPNP, lanjut Arief, terus berkoordinasi dengan P2T untuk memantau perkembangan di lapangan. Dia juga ikut membantu proses fasilitasi dan mediasi agar pembebasan lahan dapat berjalan dengan lancar. Sebagai penanggung jawab area pelabuhan, Arief harus melaporkan setiap perkembangan dalam pembebasan lahan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI.

Semula KKP RI memberikan batas waktu sampai dengan tanggal 29 Januari untuk menuntaskan pembebasan lahan. Jika sampai batas waktu yang ditentukan, proses pembebasan lahan belum beres juga, KKP akan menarik dana yang sudah dipersiapkan untuk membangun dermaga 3.

Namun, batas waktu diperpanjang setelah P2T memperlihatkan kesungguhan untuk menuntaskan pembebasan lahan, khususnya pada lahan yang belum tercapai kesepatan. Bahkan beberapa hari sebelum batas akhir, P2T melakukan pengukuran ulang pada lahan dermaga 3.

Ketua P2T yang jabatannya menempel pada jabatan Sekda Pemkab Sukabumi Ajo Sardjono bersama para anggota terus melakukan pendekatan persuasif kepada para penggarap untuk mencapai kesepakatan. Ajo mengimbau para penggarap untuk mendahulukan kepentingan umum terkait penggunaan lahan milik negara.

P2T, ujar Ajo, sudah bekerja dengan maksimal sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku. Dia dan jajarannya selalu berupaya agar di lapangan tidak muncul masalah. Ajo mempersilakan warga untuk bertanya langsung kepada P2T mengenai seluk-beluk pembebasan lahan untuk mencegah salah pengertian.

Kerja keras P2T sudah menghasilkan gambar lokasi hasil ukur dan harga taksir kompensasi serta rincian penggarap yang sah. Penyelesaian pembayaran kompensasi terhambat oleh perbedaan penafsiran mengenai luas lahan yang diajukan oleh beberapa orang penggarap. (agus/dbs)

BERITA TERKAIT

Pendanaan Pembangunan Berbasis Pasar

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Saving and investment gap tetap menjadi isu penting dalam pembangunan. Dan gap…

Pembangunan Jalan Layang Cisauk Dinilai Solusi Atasi Kemacetan

Pembangunan Jalan Layang Cisauk Dinilai Solusi Atasi Kemacetan NERACA Tangerang - Legislator Kabupaten Tangerang, Banten menilai proyek pembangunan jalan layang…

Pembangunan Infrastruktur Tak Dijadikan “Dagangan Politik”

NERACA Jakarta-Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu mengungkapkan, pembangunan infrastruktur seperti jalan tol hendaknya tidak dijadikan sebagai 'dagangan politik'. Sebab,…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Media dan Tantangan Teknologi Milenial

Indonesia merupakan negara di dunia yang memiliki banyak media dengan perkiraan berjumlah 47 ribu media yang terbagi dari berbagai model,…

Pers dan Usaha Mendorong Ekonomi Digital

Pers memiliki peran vital mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan berbasis digital di Indonesia. Melalui pemberitaan, pers dapat mempromosikan sekaligus mengedukasi pelaku…

Pers di Era Digital: Idealisme Versus Industri

Pers di Indonesia lahir dari idealisme para pendiri bangsa guna menyuarakan semangat memperjuangkan kemerdekaan kepada masyarakat luas, sejak zaman penjajahan…