Tekan Impor Barang Modal, Pemerintah Ingin Pacu Produksi Lokal - Terkait Neraca Perdagangan

NERACA

Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan produksi barang subtitusi impor perlu didorong untuk mengurangi kebutuhan barang modal dan bahan baku/penolong yang tidak dihasilkan di dalam negeri. Terkait ekspor, Airlangga menjelaskan kebijakan oleh pemerintah dalam mendorong ekspor yaitu melalui insentif untuk investasi tambahan dan pendidikan agar tenaga kerja lebih siap.

"Kalau bicara (industri) tekstil, katun itu impor. Subtitusinya rayon, dan itu sedang dibangun. Industri seperti rayon ini yang kita harus dukung," kata Airlangga di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, disalin dari Antara.

Pernyataan Airlangga tersebut menanggapi impor barang modal dan bahan baku/penolong yang meningkat pada April 2018 menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS). Di satu sisi, ia juga menilai bahwa impor golongan barang modal dan bahan baku/penolong secara jangka panjang positif karena hal tersebut menunjukkan realisasi investasi.

"Kalau realisasi investasi itu kan positif, tentu nanti harapannya ke depan kita akan memacu ekspor. Salah satu yang dibahas adalah bagimana kita memacu ekspor dan fasilitas apa yang diberikan untuk memacu ekspor," tutur Airlangga.

Ia juga mengatakan bahwa pemerintah saat ini tengah membahas untuk memberikan insentif untuk industri hulu dan pionir. "Itu sedang dibahas, pendalaman industri dan mendorong ekspor. Kemarin Presiden ke Tanjung Priok untuk melihat ekspor yang langsung dari Jakarta ke Los Angeles. Tentu nanti didorong lagi dari Jakarta ke Rotterdam," kata dia.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan impor bahan baku dan penolong yang tercatat meningkat pada April 2018 akan mempunyai dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi ke depan. "Ekspornya naik 9 persen lebih (year-on-year/yoy) dan kita impor bahan baku meningkat. Sisi positifnya adalah untuk pertumbuhan (ekonomi) berikutnya," kata Enggartiasto ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, disalin dari Antara.

Mendag juga menyampaikan bahwa pertumbuhan impor barang konsumsi pada April 2018 tinggi karena menjelang Lebaran. "Konsumsi tinggi menjelang Lebaran," kata Enggartiasto.

Menurut data perkembangan ekspor oleh Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor pada April 2018 mencapai 14,47 miliar dolar AS atau tumbuh 9,01 persen dibandingkan April 2017 yang sebesar 13,27 miliar dolar AS.

BPS juga mencatat nilai impor bahan baku pada April 2018 sebesar 11,96 miliar dolar AS, tumbuh 33 persen dibandingkan nilai impor pada April 2017 (yoy) atau tumbuh 10,73 persen dibanding Maret 2018 (month-to-month/mtm).

Sementara nilai impor barang konsumsi pada April 2018 mencapai 1,51 miliar dolar AS tercatat tumbuh 38,01 persen (yoy) atau 25,86 persen (mtm).

Terkait struktur impor menurut penggunaan barang, peran golongan bahan baku 74,32 persen dari total impor April 2018, sementara barang modal 16,29 persen dan konsumsi 9,39 persen. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2018 sebesar 5,06 persen (yoy), lebih menjanjikan daripada periode sama 2017 yang hanya tercatat 5,01 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai neraca perdagangan Indonesia pada April 2018 mengalami defisit sebesar 1,63 miliar dolar AS. Kepala BPS Kecuk Suhariyanto pada konferensi pers di Jakarta, disalin dari Antara, memaparkan defisit neraca perdagangan April 2018 dipicu oleh defisit sektor migas sebesar 1,13 miliar dolar AS dan non migas sebesar 495 juta dolar AS. "Neraca perdagangan pada bulan April 2018 ini di luar ekspektasi, yaitu mengalami defisit sebesar 1,63 miliar USD," kata Kecuk.

Ia menjelaskan defisit neraca perdagangan juga dipicu peningkatan impor bulan April 2018 yang juga sangat tinggi, yakni sebesar 16,09 miliar dolar AS atau naik 11,28 persen dibanding Maret 2018. Sementara itu, nilai ekspor Indonesia pada April 2018 mencapai 14,47 miliar dolar AS. Dengan demikian, total defisit menjadi 1,63 miliar dolar AS.

Neraca perdagangan pada April 2018, menurut Kecuk, di luar ekspektasi karena melihat kinerja pada Maret 2018 yang sempat surplus sebesar 1,12 miliar dolar. Sementara itu jika dilihat secara kumulatif periode Januari-April 2018, neraca perdagangan mengalami defisit 1,31 miliar dolar AS.

Defisit neraca perdagangan periode Januari-April 2018 lebih dipengaruhi pada sektor migas, di mana hasil minyak masih defisit sebesar 4,5 miliar dolar AS dan minyak mentah 1,6 miliar dolar AS.

Hanya ekspor gas yang meningkat sehingga terjadi surplus 2,4 miliar dolar AS. Di sisi lain, ekspor-impor non migas surplus 2,5 miliar dolar AS. Dilihat dari negara tujuannya, Indonesia mengalami surplus terhadap Amerika Serikat sebesar 2,78 miliar dolar AS; India sebesar 2,6 miliar dolar AS dan Belanda sebesar 920 juta dolar AS.

BERITA TERKAIT

Konsisten Konservasi Hutan - APP Berhasil Tekan Dampak Kebakaran Hutan

Menyadari keberlanjutan bisnis usahanya tidak lepas dari menjaga kelestarian alam, Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas selalu konsisten melakukan…

Volkswagen Segera Mampu Produksi 15 Juta Mobil Listrik

Volkswagen mengumumkan akan memiliki kapasitas untuk membangun hingga 15 juta mobil listrik selama beberapa tahun ke depan, berdasarkan laporan Reuters…

Batasi Barang di Kabin Pesawat

Kami mendengar berita otoritas penerbangan di Australia sudah bertindak tegas terhadap barang/tas yang dibawa penumpang ke dalam kabin pesawat. Selain…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Industri Minuman Ringan Sudah Terapkan Teknologi HPP

NERACA Jakarta – Industri makanan dan minuman di Indonesia semakin siap menerapkan revolusi industri 4.0 dengan pemanfaatan teknologi terkini. Berdasarkan…

Memacu Manufaktur Lewat Percepatan Industri 4.0

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan pihaknya berkomitmen untuk membangun industri manufaktur nasional yang berdaya saing global melalui…

Pemerintah Serahkan Bantuan ke 47 Usaha Kreatif

  NERACA Jakarta – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) telah menyerahkan secara simbolis Bantuan Pemerintah untuk 47 pelaku di sektor kreatif.…