Tetap Optimis Indeks Menuju Zona Hijau

NERACA

Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Rabu (15/2) kemarin, ditutup menguat tipis 0,228 poin (0,01%) di level 3.953,045. Ini artinya, IHSG belum bergerak menuju level 4.000. Sementara indeks saham unggulan LQ45 ditutup turun tipis 0,976 poin (0,14%) ke level 3.953,045. Sektor properti memimpin penguatan dengan naik 1,57%, diikuti sektor pertambangan naik 1%, dan sektor perdagangan naik 0,71%.

Padahal sebelumnya, IHSG sempat mencatatkan level tertinggi pada 3.963,53 dan level terendahnya di 3.942,24. Sementara indeks LQ45 turun 2,49 poin ke 685,68, serta Jakarta Islamic Index (JII) terkoreksi 0,37 poin ke 570,37. Seperti dikutip melalui riset MNC Sekuritas menyebutkan, penguatan tipis ini disebabkan indeks Dow Jones yang nyaris tidak bergerak.

Selain itu, belum adanya sentimen positif dari dalam negeri membuat bursa Indonesia bergerak datar (flat), cenderung menguat terbatas di tengah masih adanya tekanan jual di sektor perbankan akibat kehawatiran tergerusnya marjin laba sektor perbankan.

Sebanyak 140 saham naik, 110 saham stagnan, dan 95 saham turun. Nilai transaksi tercatat Rp 3,88 triliun, dengan volume perdagangan 3,55 miliar lembar saham. Investor asing lebih memilih melepas saham dengan foreign sell Rp 2,12 triliun dan foreign buy Rp 1,73 triliun. Lalu, net foreign sell tercatat Rp 388,42 miliar.

Perlu dicatat, investor asing yang membeli saham bernilai transaksi Rp 1,73 triliun. Dari data yang dikutip Neraca, 10 saham terbesar yang diborong asing pada perdagangan kemarin yaitu Alam Sutera Realty (ASRI) sebanyak 22,26 juta saham, Mustika ratu (MRAT) sebanyak 16,86 juta saham, Perusahaan Gas Negara (PGAS) yang dibeli asing sebanyak 11,72 juta saham.

Kemudian diikuti Agung Podomoro Land (APLN) sebanyak 11,64 juta saham, Kawasan Industri Jababeka (KIJA) 11,4 juta saham, Clipan Finance Indonesia (CFIN) 11,18 juta saham, Bumi Serpong Damai (BSDE) 9,03 juta saham, Surya Semesta Internusa (SSIA) 8,9 juta saham, Bumi Resources (BUMI) 8,88 juta saham dan Salim Ivomas Pratama (SIMP) 8,83 juta saham.

Saham-saham berkategori top gainers antara lain, Modern International (MDRN) naik Rp 200 ke Rp 3.150, Harum Energy (HRUM) naik Rp 300 ke Rp 8.400, Jasa Marga (JSMR) naik Rp 150 ke Rp 4.775, Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp 1.100 ke Rp 41.650, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 500 ke Rp 55.300, HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 600 ke Rp 47.900, United Tractors (UNTR) naik Rp 200 ke Rp 29.100, Petrosea (PTRO) naik Rp 150 ke Rp 37.100.

Sisi lain, saham-saham yang tercatat sebagai top losers diantaranya, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 50 ke Rp 6.650, Telekomunikasi Indonesia (TLKM) turun Rp 100 ke Rp 6.800, Bank Central Asia (BBCA) turun Rp 100 ke Rp 7.300, Astra International (ASII) turun Rp 750 ke Rp 72.950, Indocement Tunggal Perkasa (INTP) turun Rp 350 ke Rp 17.450, dan Mayora Indah (MYOR) turun Rp200 ke Rp14.900.

Mengawali perdagangan pagi, IHSG dibuka naik tipis 1,048 poin (0,03%) ke level 3.953,865, akhirnya berbalik ke zona hijau secara perlahan dibantu penguatan bursa Asia. Kabar positif datang dari Yunani yang segera mendapat dana penyelamatan. Indeks terus bergerak fluktuatif sejak pembukaan pagi namun sempat jatuh ke posisi terendah di 3.942,239. Setelah itu sempat juga menanjak ke posisi tertingginya di 3.963,530.

Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG turun tipis 6,859 poin (0,17%) ke level 3.945,958 sedangkan LQ45 merosot 2,49 poin (0,4%) ke level 685,68. Meskipun begitu, rencana China membantu krisis finansial di Eropa menjadi sentimen negatif regional akibat downgrade Eropa oleh Moody's sudah cukup tercermin dalam koreksi Indeks dan pasar sekarang lebih fokus ke bailout Yunani yang sebentar lagi cair.

Untuk sektor yang mengalami penurunan terbesar adalah sektor keuangan sebesar 1,2%, disusul infrastruktur sebesar 0,2%. Sedangkan sektor pertambangan dan properti mencatat kenaikan terbesar masing-masing 0,8% dan 0,5%.

Saham yang mengalami kenaikan (top gainers) antara lain Gudang Garam (GGRM) menguat Rp950 ke level Rp 55.750, Indo Tambangraya Megah (ITMG) menguat Rp 900 ke level Rp 41.450, dan HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 600 ke level Rp 47.900.

Kemudian, untuk saham turun (top losers) antara lain Astra International (ASII) turun Rp 650 menjadi Rp 73.050, Bank Central Asia (BBCA) merosot Rp 150 ke level Rp 7.250, serta Bank Negara Indonesia (BBNI) terkoreksi Rp 125 menjadi Rp 3.375.

Sementara itu, perkembangan bursa-bursa di Asia menanjak semakin tinggi setelah muncul kabar bank China siap membantu krisis utang Eropa. Bahkan, bursa saham Hong Kong, Hang Seng, dan Jepang, Nikkei, menguat lebih dari 2%. Indeks komposit Shanghai menguat 21,93 poin (0,94%) ke level 2.366,70, Hang Seng melompat 447,40 poin (2,14%) ke level 21.365,23. Dilanjutkan indeks Nikkei 225 melonjak 208,27 poin (2,30%) ke level 9.260,34 dan indeks Straits Times naik 19,29 poin (0,65%) ke level 3.006,70. [ardi]

BERITA TERKAIT

Industri Jasa Keuangan di Sumsel Tetap Tumbuh

Industri Jasa Keuangan di Sumsel Tetap Tumbuh  NERACA Palembang - Industri jasa keuangan di Sumatera Selatan (Sumsel) tetap tumbuh sepanjang…

DPR Optimis Target Prolegnas 2018 Tercapai

DPR Optimis Target Prolegnas 2018 Tercapai NERACA Jakarta - Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan optimis target Program Legislasi Nasional (Prolegnas)…

Puradelta Optimis Target Bakal Tercapai - Jual Lahan 60 Hektar

NERACA Jakarta - Pengembang lahan industri PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) optimistis bisa membukukan mar­keting sales 60 hektare lahan hingga…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Edukasi Literasi Keuangan - Asuransi Simas Sambangi Siswa Bukittinggi

NERACA Jakarta - Asuransi Sinar Mas (Simas) melanjutkan literasi keuangan untuk mendukung kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam rangka meningkatkan…

Bukalapak Sabet Tiga Piala Citra Pariwara

Bukalapak, pasar online terbesar di Indonesia berhasil memenangkan penghargaan Citra Pariwara 2017, salah satu penghargaan bergengsi bagi insan kreatif dan…

MNC Investama Bayar Utang US$ 215 Juta

Pangkas beban utang, PT MNC Investama Tbk (BHIT) berencana melunasi pinjaman berdenominasi dollar AS yang segera jatuh tempo. Perusahaan tercatat…