Meskipun Dibantah, Saham JAWA Ibarat ‘Peri Cantik Yang Siap Dipinang’

NERACA

Jakarta - Direktur Utama PT Jaya Agra Wattie Tbk (JAWA), Harijadi Soedarjo menegaskan bahwa pihaknya membantah jika ada dua investor dari perusahaan ban besar Indonesia yang ingin membeli saham JAWA. “Informasi itu tidak benar. Saya juga kaget berita itu muncul darimana. Beberapa investor juga menanyakan hal yang sama. Saya tegaskan sekali lagi, itu tidak ada sama sekali,” jelas dia kepada Neraca kemarin.

Sementara itu, berdasarkan data dan informasi yang dirangkum Neraca, ada beberapa perusahaan ban besar yang masuk daftar ‘pengamatan’ yaitu PT Goodyear Indonesia Tbk (GDYR) asal Amerika Serikat (AS), PT Bridgestone Tire Indonesia (bagian dari grup Bridgestone Corporation, Jepang), serta PT Hankook Tire Indonesia (bagian dari grup Hankook Tire Co Ltd, produsen ban terbesar ketujuh di dunia asal Korea Selatan).

Mengapa demikian, karena perusahaan ban yang ingin membeli sebagian saham JAWA adalah perusahaan yang tidak memiliki perkebunan karet di Indonesia. Artinya, mengarah ke perusahaan asing. Sudah menjadi rahasia umum kalau ingin memproduksi ban dalam jumlah besar maka membutuhkan pasokan karet besar pula.

Oleh karena itu harus mempunyai perusahaan pemasok karet di tempat perusahaan itu beroperasi. Selain ongkos produksinya rendah juga bisa mengendalikan harga karet karena telah menjadi pemegang saham. Ditambah lagi mengantisipasi lonjakan harga karet dunia di pasaran. Dipilihnya JAWA, menurut Managing Research Indosurya Asset Management, Reza Priyambada ada tiga faktor.

Harga premium

Pertama, skala produksi dan lahan perkebunan karet dan kelapa sawit yang dimiliki JAWA cukup besar, sekitar 6.000 hektar. Selain itu, perseroan juga membangun pabrik karet bernilai investasi Rp 20 miliar. Tidak hanya karet, JAWA melakukan penanaman sawit 1.000 hektar, di mana harga per hektar Rp 18 juta dan pembangunan pabrik sawit mentah (crude palm oil/CPO) senilai Rp 100 miliar.

“Semuanya dilakukan di Kalimantan Selatan,” tandas dia kepada Neraca. Kedua, terkait valuasi harga. Reza mengatakan, harga saham JAWA pada penutupan perdagangan Rabu (15/2), turun 5 poin ke level Rp 375 per lembar, dari harga pembukaan sebesar Rp 380 per lembar. Frekuensi perdagangan JAWA sangat kecil, hanya 59 kali dengan volume perdagangan sebanyak 1,32 juta lembar saham.

Hal ini, kata Reza, jauh di bawah harga penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) sebesar Rp 500 per lembar saham yang dilaksanakan Mei 2011 lalu. Ketiga, untuk mendongkrak harga saham JAWA, maka investor baru harus bernegosiasi dengan manajemen perseroan menentukan harga premium. “Tergantung proses negosiasi. Ini kan akuisisi. Yang pasti, harga beli diatas harga pasar. Saya prediksi kisaran Rp 400-Rp 500 per lembar saham,” tegasnya.

Dia menggarisbawahi, seandainya JAWA dibeli investor asing diprediksi harga jual sahamnya bakal melesat. Pasalnya, diantara lima besar perusahaan kelapa sawit dan karet, JAWA berada di urutan buncit. “Kalau ingin besar mereka harus mengejar kapitalisasi saham PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP). Saya optimis JAWA bisa mengejar. Nilai kapitalisasi tertinggi masih dipegang PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI),” tukas Reza.

Seperti diketahui, muncul rumor yang menyebutkan dua pabrik ban besar nasional berencana membeli sebagian saham JAWA. Beberapa pelaku pasar menyebutkan bahwa saham perseroan sangat aktif ditransaksikan, salah satunya, Nomura Securities sebagai pembeli (buyer) saham terbanyak. "Target harga saham JAWA antara Rp 415-450 per lembar," kata sumber pasar tersebut.

Kinerja Q3

Berdasarkan laporan keuangan kuartal III-2011, akibat melonjaknya harga karet dan minyak sawit dunia telah mendorong laba bersih JAWA melejit hingga 176% sepanjang Januari-September 2011 menjadi Rp 152,44 miliar dari periode yang sama tahun lalu Rp 55,27 miliar.

Kenaikan keuntungan ini sejalan dengan penjualan bersih perseroan yang naik 68% menjadi Rp 502,25 miliar dari sebelumnya Rp 298,37 miliar. Harga rata-rata jual karet naik menjadi Rp 42.800 per kilogram (kg) dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010, Rp 28.190 per kg.

Demikian halnya dengan minyak sawit yang naik menjadi Rp 7.650 per kg dari sebelumnya Rp 5.950 per kg. “Harga karet di bursa berjangka Singapura yang menjadi acuan kami mengalami kenaikan. Sepanjang tahun ini, harga jual rata-rata karet perusahaan naik 52%,” ujar Direktur Keuangan JAWA, Bambang S. Ibrahim di Jakarta, kala itu.

Dia mengatakan pendorong kedua adalah volume penjualan karet dan minyak sawit yang meningkat sepanjang Sembilan bulan pertama tahun kemarin. Dari total penjualan Rp 502,25 miliar, terdiri dari ekspor karet Rp 82,74 miliar dari sebelumnya Rp 27,97 milar. Adapun penjualan domestik di antaranya penjualan karet Rp 245,93 miliar, minyak dan biji sawit Rp 163,14 miliar, teh Rp 3,32 miliar, kopi Rp 3,78 miliar, kakao Rp 76,60 juta, dan lain-lain menyumbang Rp 3,24 miliar.

Kontribusi karet, baik ekspor dan domestik mencapai 65% dari total penjualan perseroan. Jika melihat laporan keuangan JAWA, maka perseroan menjual kepada pihak ketiga di atas 10%, yakni ke PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMART) Rp90,50 miliar, PT Sarana Karindo Rp59,52 miliar, CV Wirajaya Rp55,23 miliar, PT Wilmar Nabati Indonesia Rp52,88 miliar, dan PT Wilson Tunggal Perkasa Rp23,95 miilar.

Bambang juga menambahkan, hingga 30 September 2011, JAWA baru menyerap dana hasil IPO sebesar Rp 43 miliar, dari total Rp 566,20 miliar. Lebih lanjut dia mengatakan, perseroan telah mulai melakukan pembebasan lahan (land clearing) untuk 1.000 hektar tanaman sawit, dan persiapan bibit karet dan kelapa sawit. [ardi]

BERITA TERKAIT

Baru Dua Anggota Apindo Yang Siap IPO - Momentum Tepat Gelar IPO

NERACA Jakarta – Melesatnya pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) hingga mencapai rekor baru, dinilai menjadi momentum yang tepat untuk…

Putusan Mahkamah yang Dinilai Aneh

Oleh: Maria Rosari Beberapa waktu lalu Mahkamah Konstitusi (MK) memutus tiga perkara permohonan uji materi atas pasal 79 ayat (3)…

Sky Energy Bidik Pendapatan Rp 539 Miliar - Lepas 203 Juta Saham Ke Publik

NERACA Jakarta – Tahun ini, PT Sky Energy Indonesia Tbk menargetkan pendapatan sebesar Rp539 miliar dan Rp627 miliar pada tahun…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Semen Baturaja Terbitkan MTN Rp 400 Miliar

PT Semen Baturaja (Persero) Tbk atau (SMBR) menerbitkan surat hutang (MTN) senilai Rp400 miliar dengan jangka waktu selama tiga tahun…

Pelanggan Diminta Registrasi Nomor Prabayar

Telkomsel mengimbau pelanggan untuk segera melakukan registrasi nomor prabayar yang divalidasi sesuai dengan data kependudukan yang berlaku. Batas akhir masa…

BEI Resmikan Galeri Investasi di Untan

Direktur Pengembangan Bisnis PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Nicky Hogan meresmikan galeri investasi BEI di Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura (Untan)…