Utang Luar Negeri Naik 8,7%

NERACA

Jakarta – Bank Indonesia mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada kuartal pertama tahun ini mencapai US$387,5 Miliar atau sekitar Rp5.425 triliun (kurs Rp14 Ribu per dolar AS). Angka tersebut naik 8,7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu US$330,04 miliar. Berdasarkan data statistik ULN yang dirilis BI, kenaikan terutama terjadi pada utang pemerintah yang naik 11,6 persen menjadi US$181,14 miliar atau sekitar Rp2.535 triliun. Sementara itu, utang luar negeri swasta hanya naik 6,3 persen menjadi US$174,05 miliar atau sekitar Rp2.437 triliun.

"ULN Indonesia pada akhir kuartal I 2018 tersebut tumbuh sebesar 8,7 persen, melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya yang mencapai 10,4 persen," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman dalam keterangan resminya yang dikutip, Rabu (16/5).

Agusman menjelaskan kenaikan utang luar negeri pemerintah bersumber dari penerbitan sukuk global sebesar US$ 3 miliar. Hingga akhir kuartal I 2018, ULN pemerintah didominasi Surat Berharga Negara (SBN) yang dimiliki oleh nonresiden sebesar US$124,8 miliar atau sekitar Rp1.747 triliun dan pinjaman kreditur asing sebesar US$56,3 miliar atau sekitar Rp788,2 triliun.

"Investor asing masih mencatatkan beli bersih SBN pada kuartal I 2018. Perkembangan ini tidak terlepas dari kepercayaan investor asing atas SBN domestik yang masih tinggi ditopang peningkatan peringkat utang Indonesia," terang Agusma.

Sementara itu, melambatnya pertumbuhan utang luar negeri swasta, menurut dia, terutama dipengaruhi oleh ULN sektor industri pengolahan dan sektor pengadaan listrik, gas, dan uap/air panas (LGA). Secara tahunan, pertumbuhan ULN sektor industri pengolahan dan sektor LGA pada kuartal I 2018 masing-masing tercatat sebesar 4,4 persen dan 19,3 persen.

Sementara itu, pertumbuhan ULN sektor pertambangan meningkat dan pertumbuhan ULN sektor keuangan relatif stabil dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal sebelumnya. Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 72,2%, relatif sama dengan pangsa pada triwulan sebelumnya.

Agusman menambahkan, perkembangan ULN total pada kuartal I 2018 juga tetap terkendali dengan struktur yang sehat. Hal ini tercermin antara lain dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir kuartal I 2018 yang tercatat stabil di kisaran 34 persen. "Rasio tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan rata-rata negara peers. Berdasarkan jangka waktu, struktur ULN Indonesia pada akhir kuartal I 2018 juga tetap didominasi ULN berjangka panjang yang memiliki pangsa 86,1 persen dari total ULN," jelas dia.

BERITA TERKAIT

Kadis Perdagin: Harga Sembako Kota Depok Stabil Tidak Naik Signifikan

Kadis Perdagin: Harga Sembako Kota Depok Stabil Tidak Naik Signifikan NERACA Depok - Harga kebutuhan bahan pokok (Sembako) di berbagai…

Pemerintah Jamin Harga Premium dan Solar Tak Naik - Harga Minyak Dunia Naik

  NERACA   Jakarta - Meskipun harga minyak dunia, termasuk harga minyak mentah atau Indonesia Crude Price (ICP) menunjukkan kecenderung…

Pemerintah Perluas Akses Pasar Produk Usaha Kecil Dalam Negeri - UKM Lokal

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan (Kemendag) berupaya memperluas akses pasar produk dalam negeri khususnya bagi pelaku usaha kecil menengah (UKM),…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

PB HMI akan Mencetak 15.000 Wirausaha Baru

  NERACA   Jakarta - Guna merealisasikan penciptaan lapangan pekerjaan, PB HMI menegaskan untuk mencetak 15.000 wirausaha baru. Presidium Majelis…

Pemerintah Masih Merancang Tax Holiday

      NERACA   Jakarta - Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Suahasil Nazara mengatakan pihaknya saat ini masih merancang…

Menkeu : Aturan Tarif Pajak UMKM Segera Diterbitkan

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan revisi Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 yang…