Konsolidasi HIMKI untuk Menghadapi Tantangan Global

Konsolidasi HIMKI untuk Menghadapi Tantangan Global

NERACA

Jakarta – Rapat Kerja Nasional (Rakernas) HIMKI yang digelar kemarin dan hari ini (Selasa, 15/5) membahas berbagai permasalahan yang memperlemah daya saing industri mebel dan kerajinan nasional dan solusi yang harus dilaksanakan. Berbagai kendala yang dihadapi membuat industri ini tidak dapat tumbuh sebagaimana yang diharapkan.

Sekretaris Jenderal HIMKI, Abdul Sobur mengatakan rapat ini sangat penting diselenggarakan mengingat industri mebel dan kerajinan nasional merupakan bantalan ekonomi yang kuat pada saat krisis ekonomi seperti saat ini dan menjadi jalan keluar negara dalam penyerapan tenaga kerja. Industri ini tetap eksis dan menghasilkan devisa bagi negara di saat industri lain terkena imbas krisis, karena industri ini didukung oleh local content yang cukup besar.

“HIMKI optimistis bahwa industri ini akan terus mengalami pertumbuhan. Dengan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki bisa dikelola dengan baik, Indonesia bisa menjadi leader untuk industri mebel dan kerajinan di Kawasan Regional ASEAN. Dengan ketersediaan bahan baku hasil hutan yang melimpah, sumber daya manusia yang terampil dalam jumlah besar, industri ini mestinya menjadi industri yang tangguh,” kata dia.

Menurut dia, masih adanya kebijakan yang kontraproduktif membuat industri mebel dan kerajinan Indonesia kurang berkembang, di atara kebijakan itu adalah adanya sistem verifikasi dan legalitas kayu

(SVLK) yang diberlakukan pemerintah. Hal ini membuat harga bahan baku bagi industri kayu tak kompetitif dibanding pesaing kita seperti Malaysia dan Vietnam karena untuk mengurus SVLK dan beberapa ijin pendukungnya membutuhkan biaya yang sangat besar.

Untuk itu, lanjut dia, kalangan pengusaha yang bergerak di sektor industri mebel dan kerajinan yang tergabung di HIMKI telah meminta agar pemerintah menghapus pemberlakuan SVLK untuk industri mebel dan kerajinan. Penerapan kebijakan SVLK berdampak pada tidak maksimalnya kinerja ekspor nasional. Padahal saat ini industri mebel tengah bersaing ketat dengan pelaku industri mebel internasional seperti Malaysia, Vietnam, China dan negara-negara produsen di kawasan Eropa dan Amerika.

“Masalah lain yang dibahas di Rakernas HIMKI adalah masih adanya pihak-pihak yang menginginkan dibukanya ekspor log dan bahan baku rotan dengan berbagai alasan. Mereka menginginkan ekspor log dan bahan baku rotan karena menganggap lebih praktis dan menguntungkan dengan mengekspor bahan baku ketimbang ekspor barang jadi berupa mebel dan kerajinan,” ujar dia.

Padahal, kata dia, jika mengacu pada matrik pengembangan industri mebel dan kerajinan nasional mengenai pengamanan bahan baku sebagai jaminan penunjang utama terjadinya pertumbuhan industri, yang digagas HIMKI, maka adanya rencana membuka kembali keran ekspor bahan baku rotan harus dicegah karena bahan baku tersebut pada akhirnya akan diekspor habis-habisan seperti yang terjadi beberapa tahun lalu. Ekspor bahan baku sangat bertentangan dengan program hilirisasi yang telah dicanangkan pemerintah. Di sisi lain, saat ini industri mebel dan kerajinan rotan masih dalam tahap recovery.

Adanya desakan dibukanya kran ekspor log dan bahan baku rotan menimbulkan keresahaan bagi pelaku usaha yang bergerak di bidang barang jadi, mengingat bahan baku kayu dan rotan yang ada di Indonesia sangat dibutuhkan oleh para pelaku industri di dalam negeri, bahkan saat ini sudah semakin susah untuk mendapatkan bahan baku yang berkualitas. Dengan demikian, apabila kran ekspor bahan baku dibuka akan terjadi penurunan daya saing industri didalam negeri.

Adanya wacana ekspor kayu gelondongan (log) merupakan langkah mundur mengingat pemerintah telah menggalakkan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah dan dampak berganda (multiplier effect). Ekspor kayu bulat dan bahan baku rotan akan menguntungkan sebagian kecil pelaku usaha di bidang kehutanan, tetapi banyak pelaku usaha yang nilai ekspornya tinggi akan kekurangan bahan baku. Kebijakan pembukaan kran ekspor log dan bahan baku rotan juga akan menguntungkan negara-negara importir yang telah lama menunggu kebijakan itu untuk memenuhi pasokan bahan baku industri mereka. Di sisi lain, kebijakan ekspor log bertolak belakang dengan kebijakan yang ditempuh banyak negara di dunia sebagai penghasil kayu gelondongan seperti Brasil, Amerika Serikat, Ukraina, Malaysia, dan lain-lain.

Promosi, pemasaran dan penetrasi pasar sebagai langkah strategis untuk memperkenalkan produk ke pasar global sekaligus membangun citra positif produk Indonesia di mancanegara juga merupakan masalah penting bagi industri. Untuk itu diharapkan, terjadinya kegiatan-kegiatan promosi dan pemasaran yang terkelola dengan baik yang dilakukan di dalam maupun di luar negeri dengan jadwal yang terprogram sepanjang tahun untuk target market di seluruh dunia terutama untuk negara-negara yang perekonomiannya tumbuh.

Inovasi dan pengembangan desain dibahas juga di Rakernas 2018. Desain dan pengembangan produk sebagai kunci sukses bersaing di pasar global, yaitu deangan tersedianya fasilitas penunjang untuk melakukan kegiatan pengembangan desain (Design Center) dan perlindungan desain (HAKI) di wilayah-wilayah basis produksi sebagai syarat terjadinya kemandirian dalam hal suplai desain. Institusi desain dimaksud harus dikelola secara komperhensif dan berkesinambungan. Hal ini mutlak diperlukan sebagai syarat utama terbentuknya daya saing industri yang ditopang oleh kualitas desain produk yang layak pasar.

Mengingat pendidikan dan pelatihan peningkatan kompetensi SDM sangat penting bagi industri mebel dan kerajinan nasional, masalah ini juga menjadi bahasan penting Rakernas. Untuk itu diperlukan regulasi dalam upaya penyediaan dan pembinaan sumber daya manusia terampil. Yaitu program kerja yang disusun oleh pemerintah dan asosiasi dalam upaya menyediakan tenaga kerja trampil berpendidikan vokasi yang siap kerja di industri mebel dan kerajinan. Mohar

BERITA TERKAIT

Indonesia Dukung Global Perkokoh Energi Baru Baru Terbarukan

Oleh: Muhammad Razi Rahman Pengembangan energi baru terbarukan saat ini bukan sekadar tren yang dirasakan di berbagai negara, tetapi sudah…

Perang Dagang di Era Global

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi., Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Perang dagang antara AS vs Cina nampaknya semakin…

TPPU PT TRADHA Untuk Pembayaran Mobil Mewah

TPPU PT TRADHA Untuk Pembayaran Mobil Mewah NERACA Jakarta - Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah mengatakan Tindak…

BERITA LAINNYA DI EKONOMI DAERAH

Pemkab Sukabumi Kawal Pembangunan Bandara

Pemkab Sukabumi Kawal Pembangunan Bandara NERACA Sukabumi - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi, Jawa Barat akan mengawal pelaksanaan pembangunan bandar udara…

Bulog Tangerang Siapkan OP Antisipasi Lonjakan Harga Sembako

Bulog Tangerang Siapkan OP Antisipasi Lonjakan Harga Sembako NERACA Tangerang - Aparat Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Tangerang, Banten, mempersiapkan…

Pemkot Palembang Tingkatkan Promosi Potensi Daerah

Pemkot Palembang Tingkatkan Promosi Potensi Daerah NERACA Palembang - Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang, Sumatera Selatan berupaya meningkatkan kegiatan promosi potensi…