BI Minta Bank Besar Seimbangkan Likudiitas

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) meminta bank-bank bermodal besar untuk lebih memperhatikan arus dan keseimbangan likuiditas di pasar, salah satunya dengan berperan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas bagi bank-bank bermodal kecil. Gubernur BI Agus Martowardojo dalam pertemuan Perhimpunan Bank-Bank Nasional (Perbanas) di Jakarta, Selasa (15/5), mengatakan bank-bank besar harus membantu mengurangi fragmentasi kecukupan likuiditas antara bank-bank BUKU III dan IV dengan bank BUKU I dan II.

"Ada fregmentasi, bank BUKU III dan IV memiliki likuiditas longgar. Tetapi untuk bank buku II dan I itu tidak cukup longgar jika dilihat dari sisi industri. Kami mohon pertanggung-jawaban dari Bapak Ibu untuk bangun industri yang sehat. Bank-bank bisa 'extend facility', kan bisa menggunakan jaminan (underlying), bisa menggunakan Surat Berharga Negara ataupun Sertifikat Bank Indonesia," ujarnya.

Jika bank-bank kecil mengalami kesulitan likuiditas karena bank-bank besar menguasai pasokan likuiditas, maka dikhawatirkan bank kecil akan berlomba menaikkan bunga deposito. Bank BUKU IV dan III merupakan kelompok pemain utama di industri perbankan. Bank BUKU IV merupakan bank dengan modal inti di atas Rp30 triliun, sementara BUKU III, memiliki modal inti di rentang Rp5 triliun-Rp30 triliun. Sedangkan, Bank BUKU II memiliki modal inti di rentang Rp1 Triliun-Rp5 Triliun dan BUKU 1 hanya memiliki modal inti kurang dari Rp1 triliun.

Ketua Umum Perbanas Kartiko Wirjoatmodojo mengaku dalam pertemuan itu, BI memang meminta bank-bank besar untuk lebih aktif di pasar uang, agar dapat membantu pasokan bagi bank-bank kecil. Pilihannya, bank bisa membeli atau menerbitkan instrumen pendanaan, seperti NCD, maupun surat berharga komersial, ataupun pinjaman langsung (direct lines) antarbank dengan agunan.

Namun, kata Tiko, BI meminta bank-bank besar harus tetap mengedepankan kehati-hatian dan mitigasi risko. "Tapi tentunya BI ingin money market untuk memberikan nafas agar bank-bank tidak berloma-loma menaikkan bunga deposito, tapi dengan likudiitas itu mereka bisa masuk ke money market," ujar dia.

Namun begitu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengklaim meskipun pendanaan bank atau Dana Pihak Ketiga (DPK) menurun pada Maret 2018, perbankan justeru memiliki likuiditas yang berlebih untuk mencapai target pertumbuhan kredit di tahun ini. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) bank atau salah satu instrumen pendanaan bank menurun menjadi 7,66 persen (tahun ke tahun/yoy) di Maret 2018 dari 8,44 persen (yoy) pada Februari 2018, padahal pertumbuhan kredit bank naik menjadi 8,5 persen (yoy) dari 8,2 persen (yoy).

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan penurunan pertumbuhan DPK bank terjadi karena investor menyesuaikan alokasi pendanaannya ke instrumen lain. "Ada rebalancing dari investor," kata Wimboh. Namun, dia mengklaim, jumlah likuiditas perbankan saat ini masih mampu membuat perbankan untuk menumbuhkan penyaluran kredit sesuai target masing-masing bank.

Bahkan, kata Wimboh, likuiditas bank saat ini jika digunakan seluruhnya bisa mendorong pertumbuhan kredit perbankan hingga 20 persen (yoy). Padahal industri perbankan menargetkan pertumbuhan kredit pada tahun ini hanya 12,22 persen (yoy) sesuai Rencana Bisnis Bank (RBB). "Likuiditas bahkan sampai over likuid untuk mendukung kredit 15-20 persen," ujar dia. Wimboh juga mengklaim telah melakukan uji ketahanan terhadap bank menyusul tekanan eksternal akibat dana asing yang keluar dalam beberapa pekan terakhir dan membuat kurs rupiah menurun.

Hasilnya, kata dia, pelemahan nilai tukar yang pada pekan keempat April hampir menembus Rp14.000 per dolar AS tidak berdampak signifikan ke permodalan bank, kredit dan juga rasio kredit bermasalah bank. Rasio Kecukupan Modal (CAR) perbankan per Maret 2018 mencapai 22 persen (yoy). Hal itu jauh di tingkat CAR standar internasional di 18 persen. Bahkan, kata Wimboh, misalnya saja nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melebihi dari Rp14.000 per dolar AS, ketahanan perbankan domestik masih kuat.

"Bayangin Rasio Kecukupan Modal Inti (Capital Adequacy Ratio/CAR) bank mencapai 22 persen, sebelumnya mencapai 23 persen," kata Wimboh. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati selaku Ketua KSSK menilai stabilitas sistem keuangan pada triwulan I-2018 dalam kondisi stabil dan terkendali, meski terdapat tekanan pada pasar keuangan menjelang akhir April 2018.

BERITA TERKAIT

Bank DKI Raih Penghargaan Top Bank Bidang Fintech

      NERACA   Jakarta - Atas upaya mendorong penerapan transaksi non tunai, Bank DKI memperoleh penghargaan TOP Bank…

Investor Ritel Minta Keberpihakan Dari BEI - Tolak Reverse Stock ELTY

NERACA Jakarta – Menuntut adanya keberpihakan otoritas pasar modal dan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terhadap investor ritel, investor yang…

Laba Bersih Bank Pemata Anjlok 56,18%

Performance kinerja keuangan PT Bank Permata Tbk (BNLI) belum cukup memuaskan investor. Pasalnya, di paruh pertama tahun ini perseroan mencatatkan…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BI Yakin Dapat Kendalikan Rupiah

  NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) yakin dapat mengendalikan pelemahan nilai tukar Rupiah, dimana Senin inimelemah hingga level…

Penyaluran KUR Di Papua Capai Rp703 Miliar

      NERACA   Jayapura - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Papua dan Papua Barat mengungkapkan hingga semester I…

Asbanda Ingin BPD Berdaya Saing - Gelar Seminar Nasional

  NERACA   Jakarta - Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) menggelar seminar nasional bertajuk Strategic Positioning Bank Pembangunan Daerah sebagai…