Presiden: Segera Hilangkan Penghambat Ekspor! - NERACA PERDAGANGAN APRIL DEFISIT US$1,63 MILIAR

Jakarta-Presiden Jokowi menginstruksikan seluruh menteri ekonomi untuk memastikan tidak ada penghambat daya saing ekspor mendatang. Pasalnya, ekspor merupakan salah satu cara meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. "Berbagai hambatan ekspor naik di perizinan, perbankan, pembiayaan termasuk pajak dan kepabeanan harus segera dihilangkan," ujarnya dalam rapat terbatas di Kantor Presiden, Selasa (15/5).

NERACA

Instruksi Presiden tersebut terkait dengan adanya sejumlah hambatan baik dalam hal biaya maupun perizinan, yang harus dihilangkan menyeluruh di pemerintahan pusat dan Pemda. Apalagi Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan terbarunya, mencatat neraca perdagangan April 2018 defisit sebesar US$1,63 miliar. Kondisi ini berbanding terbalik dengan posisi Maret 2018 yang surplus sebesar US$1,09 miliar.

Sebelumnya, neraca perdagangan Indonesia pada Januari dan Februari 2018 juga terlihat defisit masing-masing US$ 756 juta dan US$ 52,9 juta. Kemudian pada Maret 2018 membukukan surplus yaitu senilai US$ 1,09 miliar. Dan pada April 2018 kembali defisit untuk yang ketiga kali tiga pada tahun ini.

Karena itu, Presiden menginstruksikan seluruh menteri perekonomiannya berani melakukan terobosan. "Jangan ragu mendesain insentif yang tepat. Segera lakukan dan diharapkan manfaatnya segera datang," ujarnya.

Meski demikian, Jokowi mengingatkan Indonesia harus tetap waspada terhadap ketidakpastian global. Pasalnya, dunia saat ini tengah menuju pada keseimbangan baru di sektor ekonomi. Saat ini seluruh dunia tengah menghadapi masalah ketidakpastian dan volatilitas keuangan. Hal tersebut dipicu oleh kebijakan ekonomi di Amerika Serikat (AS).‎

"Kita harus selalu waspada terhadap risiko, terutama ketidakpastian global, ketidakpastian ekonomi global, volatilitas keuangan global yang dipicu kebijakan normalisasi moneter di AS," tutur Kepala Negara.

Normalisasi kebijakan moneter AS ini berdampak secara langsung terhadap depresiasi mata uang negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Meski, menurut Jokowi, pelemahan yang dialami rupiah jauh lebih baik dibandingkan mata uang negara lain. "Telah banyak mengakibatkan depresiasi mata uang negara-negara di dunia tidak terkecuali di Indonesia. Tapi Alhamdulillah dibandingkan negara-negara yang lain kita masih jauh lebih baik," ujarnya seperti dikutip CNNIndonesia.com.

Namun demikian, Jokowi tetap meminta menteri dan kepala lembaga terkait untuk melakukan mitigasi dari gejolak yang terjadi di dunia. "Faktor eksternal yang lain seperti harga minyak potensi barang dagang Amerika-Tiongkok serta kondisi geopolitik internasional juga terus harus Kita waspadai. Kita juga perlu menyiapkan mitigasi ketidakpastian global ini serta antisipasi pergerakan menuju keseimbangan baru-baru ekonomi global," ujarnya.

Dalam ratas pembahasan kebijakan ekonomi makro dan pokok kebijakan fiskal, Jokowi juga menyinggung dampak ketidakpastian global terhadap Indonesia. "Volatilitas keuangan global yang dipicu kebijakan normalisasi moneter di Amerika Serikat banyak mengakibatkan depresiasi mata uang negara di dunia tidak terkecuali di Indonesia,” ujarnya.

Sebelumnya BPS mencatat neraca perdagangan April 2018 defisit sebesar US$1,63 miliar, . Kondisi ini berbanding terbalik dengan posisi Maret 2018 yang surplus sebesar US$1,09 miliar.

Impor Naik Signifikan

Menurut Kepala BPS Kecuk Suhariyanto, neraca perdagangan yang defisit disebabkan oleh jumlah impor yang naik signifikan sebesar 11,28% menjadi US$16,09 miliar dibandingkan dengan Maret 2018 yang hanya US$14,46 miliar. "Kenaikan impor ini baik dari sisi migas dan non migas, terutama barang konsumsi tapi itu wajar karena jelang bulan puasa ya," ujarnya, kemarin.

Suhariyanto mengungkapkan, untuk impor barang konsumsi mencapai US$1,51 miliar atau naik 25,86% dibandingkan Maret 2018. Kemudian, impor dari bahan baku atau penolong dan barang modal masing-masing naik 10,73% dan 6,59% secara bulanan (month to month). "Tapi secara kontribusi barang konsumsi sebenarnya kecil hanya 9,39%, paling banyak masih dari bahan baku atau penolong sebesar 74,32% dan barang modal sebesar 16,29%," ujarnya.

Kendati jumlah impor lebih tinggi dari ekspor, Suhariyanto menilai kenaikan impor dari bahan baku atau penolong dan barang modal akan lebih menggerakkan industri dalam negeri dan kegiatan ekspansi perusahaan.

Sementara itu, jumlah ekspor pada April 2018 turun 7,19% menjadi US$14,47 miliar dibandingkan dengan Maret 2018 yang mencapai US$15,59 miliar. Penurunan itu terjadi baik dari ekspor migas dan nonmigas. "Untuk migas sendiri turun 11,32% secara bulanan menjadi US$1,19 miliar," tutur dia.

Namun, khusus untuk non migas terdiri dari ekspor industri pengolahan yang turun 4,83%, pertambangan turun 16,03%, sedangkan pertanian naik 6,11%. "Ekspor non migas menyumbang nilai ekspor mencapai 91,8%," kata Suhariyanto. Secara kumulatif, menurut dia, neraca perdagangan Januari-April tercatat masih defisit sebesar US$1,31 miliar.

Adapun penyebabnya? Antara lain Indonesia masih dibanjiri oleh produk impor dari China. Hal ini terbukti dari neraca perdagangan Indonesia dengan China yang tercatat defisit hingga US$1,93 miliar pada April 2018.

Menurut Suhariyanto, bila dikalkulasi sejak awal tahun hingga April (year to date), maka jumlah neraca perdagangan dengan China mencapai US$5,76 miliar. Angka itu naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$4,06 miliar. "Impor ke Indonesia utamanya berasal dari China atau kontribusinya 27,28% sebesar US$13,92 miliar," ujarnya.

Beberapa barang impor China yang mengalami kenaikan merupakan barang konsumsi. Impor bawang putih misalnya, naik US$61,5 juta, apel naik sebesar US$36,1 juta, dan pir naik sebesar US$26,3 juta. Walhasil, nilai impor yang berasal dari barang konsumsi secara keseluruhan naik 25,86% secara bulanan (mom) menjadi US$1,51 miliar. Sementara, secara tahunan (yoy) impor dari barang konsumsi naik 38,01%. "Tapi sebenarnya kontribusi dari barang konsumsi termasuk kecil dari keseluruhan impor hanya 9,39%," ujarnya.

Ketika impor bertambah, jumlah ekspor ke China kian menurun karena beberapa permintaan, seperti bahan mineral, besi, baja, lemak dan minyak hewan nabati turun. US$537 juta. “Ekspor ke China turun karena situasi perdgangan dunia masih tidak menentu, ada kecenderungan China agak menahan produksi karena itu permintaan barang ekspor dari Indonesia jadi tertahan," tutur dia.

Selain dengan China, neraca perdagangan Indonesia pada April 2018 juga tercatat defisit dengan Thailand sebesar US$404 juta dan Australia sebesar US$191 juta.

BPS juga mencatat nilai ekspor nonmigas Indonesia pada April 2018 ke negara-negara Uni Eropa mengalami penurunan sebesar 9,09%. Tercatat, nilai ekpor nonmigas pada April 2018 ini mencapai US$ 1,38 miliar, lebih rendah jika dibanding Maret 2018 yang tercatat US$ 1,52 miliar.

Menurut Suhariyanto, penurunan ekspor nonmigas terbesar terjadi di negara tujuan Italia. Di mana ekspor nonmigas ke negara tersebut mengalami penurunan sebesar 15,03% atau tercatat sebesar US$ 165,9 juta, lebih rendah dibanding Maret 2018 yakni sebesar US$ 195,3 juta.

"Penurunan lainnya juga terjadi di negara tujuan Belanda sebesar 18,8%. Pada April 2018 tercatat ekspor nonmigas ke negara tersebut US$ 322,9 juta. Sementara di Maret 2018 sebesar US$ 341,7 juta," ujarnya.

Dia mengatakan, penurunan terbesar ekspor nonmigas April 2018 terhadap Maret 2018 terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$416,4 juta (18,18%), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada kendaraan dan bagiannya US$72,5 juta (12,59%).

Selain Uni Eropa, penurunan ekspor nonmigas juga terjadi di negara utama lainnya seperti China, yakni sebesar US$ 537,0 juta (22,81%), Amerika Serikat US$ 158,7 juta (9,89%), India US$155,1 juta (13,25%).

Dari 13 negara tujuan ekspor nonmigas Indonesia, secara keseluruhan ekspor Indonesia menurun 8,9% menjadi US$9,36 miliar pada April 2018. Ekspor Indonesia hanya bertumbuh positif ke negara Malaysia, Australia, Korea Selatan dan Taiwan. bari/mohar/fba

BERITA TERKAIT

Menkeu : Aturan Tarif Pajak UMKM Segera Diterbitkan

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan revisi Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 yang…

Indo Barometer: Soeharto, Presiden Paling Berhasil di Indonesia

Indo Barometer: Soeharto, Presiden Paling Berhasil di Indonesia NERACA Jakarta - Presiden RI Kedua HM Soeharto dinilai sebagai presiden yang…

Trias Join Venture Perusahaan Jepang - Bidik Pasar Ekspor Ke Jepang

NERACA Sidoarjo – Ditengah terkoreksinya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, PT Trias Sentosa Tbk (TRST), perusahaan yang produksi packaging…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

MASIH MENUNGGU LANDASAN HUKUM PP - Sistem OSS Potong Jalur Birokrasi Izin

Jakarta- Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai, penyederhanaan regulasi perizinan melalui online single submission (OSS) diharapkan mampu memotong jalur…

HARGA MINYAK DUNIA MELAMBUNG TINGGI - Keuangan PLN dan Pertamina Jadi Fokus Pemerintah

NERACA Jakarta – APBN 2018 menetapkan asumsi harga minyak sebesar US$48 per barel. Akan tetapi, harga minyak dunia yang menjadi…

Molornya Sistem Perizinan Online Usaha Terpadu

  NERACA   Jakarta – Perizinan masih menjadi salah satu pokok masalah kurang berkembangnya dunia usaha, lantaran proses perizinan yang…