Kebijakan BBM Terkait Kehidupan Masyarakat

Apapun keputusan pemerintah menetapkan kebijakan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sangat terkait erat dengan kehidupan masyarakat. Semakin mendekati tenggat pelaksanaan pada 1 April 2012 sesuai dengan amanat UU APBN 2012, program pembatasan maupun kenaikan harga BBM harus jadi satu opsi pilihan strategis pemerintah.

Awalnya pemerintah berwacana melarang kendaraan pribadi roda empat di Jabodetabek mengonsumsi BBM bersubsidi jenis premium. Semua mobil pribadi di Jabodetabek didorong beralih ke BBM nonsubsidi (Pertamax) atau ke bahan bakar gas (BBG) yang lebih murah. Namun, gaung wacana tersebut belakangan makin memudar karena ribet dan rawan penyalahgunaan dalam pelaksanaannya nanti. Lalu muncul opsi menaikkan harga BBM bersubsidi, yang dianggap lebih realistis walau menjadi beban kehidupan masyarakat lebih berat.

Pasalnya, kenaikan harga BBM setidaknya berpengaruh terhadap harga-harga bahan pokok pangan dan lain-lain, akibat biaya transportasi terdorong ikut naik. Pengalaman pada 2005 saat pemerintah menaikkan harga BBM, daya beli masyarakat umumnya menjadi menurun.

Kita mengakui kenaikan harga BBM akan menyelamatkan beban APBN dengan menekan subsidi hingga Rp 40 triliun. Untuk itu, pemerintah akan menyiasatinya dengan melakukan perubahan di APBN-P, atau melalui alternatif menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu).

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri mengakui betapa sulitnya menetapkan kebijakan BBM. Namun SBY menilai kenaikan harga minyak dunia memberi tekanan terhadap APBN, sehingga pemerintah tak menutup kemungkinan mengambil opsi menaikkan BBM. Meski demikian, rencana membatasi konsumsi BBM dan konversi ke bahan bakar gas (BBG) akan tetap terus dijalankan.

Kebijakan jangka panjang pemerintah di bidang energi yang terbaik adalah konservasi dan diversifikasi. Sebelumnya, program pembatasan BBM bersubsidi berulang-ulang mengalami penundaan dengan berbagai alasan. Tampak sekali pemerintah ragu-ragu atas pilihan kebijakan yang bertujuan mengurangi tekanan subsidi terhadap anggaran.

Semula, direncanakan akan diterapkan pada pertengahan 2011, kemudian ditunda menjadi sekitar awal 2012, dan selanjutnya ditetapkan akan dimulai pada April 2012. Namun, kelihatan rencana tersebut juga akan kembali molor, terutama karena pemerintah belum mempersiapkan infrastruktur pendukungnya secara memadai, antara lain SPBU untuk BBM nonsubsidi dan SPBG. Banyak pihak yang khawatir, jika kebijakan itu tetap dipaksanakan, berpotensi menimbulkan gejolak sosial.

Kemudian awal 2012 muncul wacana menaikkan harga BBM ketimbang pembatasan BBM bersubsidi sembari mendorong konversi ke gas. Opsi kenaikan harga tersebut dianggap berisiko lebih rendah dan bisa diterima oleh semua pihak. Komentar sejumlah pihak yang terkait dengan kebijakan BBM pun cenderung mendukung kenaikan harga. Tetapi perkembangan berikutnya menunjukkan hingga kini tetap belum ada kepastian mana yang dipilih, padahal April tinggal dalam hitungan hari. Apakah masih menghitung-hitung untung dan ruginya dari segi politik?

BERITA TERKAIT

Berbagai Kebijakan Disiapkan Tarik Investasi Manufaktur

NERACA Jakarta – Pemerintah terus berupaya mendorong peningkatan investasi di industri manufaktur, karena sektor tersebut berperan penting dalam menopang pertumbuhan…

Optimalkan Program CSR - Holcim Libatkan Masyarakat Dalam Rumuskan Program

Sejatinya progam tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) harus berjalan berkesinambungan dan berkelanjutan dalam membangun dan memberdayakan…

Pers Membangun Peradaban Masyarakat Papua

Peranan pers di era perkembangan digital saat ini tidak saja berfungsi untuk menyebarkan informasi, melakukan kontrol sosial serta menyalurkan aspirasi…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Esensi Pembangunan Perkotaan

Di tengah hiruk pikuk arus urbanisasi dari daerah ke kota, urgensi pembangunan perkotaan dan esensi tata ruang menjadi mediator untuk…

Tarif Pesawat vs Disiplin Penumpang

Meningkatnya harga tiket pesawat low cost carrier (LCC) belakangan ini cukup membuat masyarakat terkejut. Pasalnya, sejak beberapa bulan terakhir industri…

Teror Pinjaman Online

Belakangan ini masyarakat resah di tengah maraknya tawaran pinjaman berbasis teknologi (online) akibat teror yang dilakukan pihak perusahaan Fintech. Teror…