Defisit dan Kerugian Besar

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri

Mendengar kata defisit, rasanya akan banyak pihak yang resah atau galau. Tapi begitu mendengar surplus bisa dibilang good news, dan banyak pihak akan bersyukur karena telah berbuat sesuatu yang ada faedahnya. Defisit bisa dibilang momok. Coba Anda bayangkan dalam liga sepak manapun di dunia jika terus menerus mengalami defisit gol, maka timnya akan pasti terdegradasi dari liga utama ke liga kelas dua. Ini pukulan telak. Reputasinya turun karena terdegadrasi gara-gara defisit gol, dan ini adalah sebuah kerugian besar.

Dalam ekonomi, semua negara di dunia memiliki potensi yang sama untuk mengalami defisit. Bisa terjadi dalam defisit anggaran, bisa pula terjadi dalam defisit neraca transaksi berjalan, neraca modal dan finansial, serta neraca pembayaran. Apapun itu, defisit adalah sebuah kerugian besar, dan apalagi jika defisitnya bersifat ganda, maka ini adalah ancaman untuk terjadinya krisis ekonomi yang bisa "membangkrutkan". Kalau kita pakai bahasanya orang di pasar, untung nggak malah buntung karena usahanya mengalami defisit terus menerus. Lama-lama usahanya dilikuidasi, tokonya di tutup dan asetnya di sita untuk menutup utangnya.

Kerugian besar adalah bukan prestasi yang baik. Begitu pula ketika kita selalu dalam kondisi terjebak pada lingkaran defisit, kerja menjadi tidak enak dan tidak nyaman. Sebab itu, kita tidak boleh mensimplifikasi persoalan ekonomi ketika menghadapi ancaman defisit. Sebagai bangsa dan negara besar, membangun ekonomi negeri ini pada dasarnya untuk menciptakan Surplus. Misal surplus pangan, surplus energi, surplus perdagangan dan sebagainya.

Dalam soal pangan dan energi, lebih realistik kalau kita bicara surplus, nggak perlu nggege mongso untuk melakukan swasembada pangan dan negeri. Karena itu, jika kita pakai bahasa ekonomi di pasar tradisional, maka sasaran pokok pembangunan ekonomi ke depan, tema utamanya adalah "menciptakan surplus ekonomi".

Semua sektor prioritas harus diagregasi ke arah itu, karena bangsa dan negara Indonesia tidak mau merugi. Apa kata dunia kalau negara besar dibilang tidak mampu mengelola perekonomiannya dengan baik karena hanya menghasilkan defisit ekonomi.

Tulisan ini sengaja dibuat agar kita mawas diri dan introspeksi bahwa tata kelola ekonomi dalam negeri ada sejumlah masalah yang harus ditangani dengan sebaik-baiknya Dengan menghasilkan surplus ekonomi, kita akan bisa lunasi utang tepat waktu, tanpa harus bolak balik meminta penjadwalan atau moratorium.

Kalau kita mengalami defisit ekonomi, maka bagaimana kita bisa membayar kembali utang-utang kita karena kita tidak memiliki cadangan devisa yang cukup. Ending-nya boleh jadi kita akan terjebak pada gali lubang tutup lubang, dan kembali menjadi pasiennya IMF atau lembaga keuangan internasional yang lain. Defisit bukanlah prestasi dan malah merusak reputasi. Sebaliknya Surplus adalah sebuah prestasi dan menaikkan reputasi.

BERITA TERKAIT

Habibie, Anwar Ibrahim, dan Momentum Peringatan Reformasi

Oleh: Budi Setiawanto Persahabatan dua bangsa serumpun, Republik Indonesia dan Kerajaan Malaysia, bisa digambarkan dengan keeratan persahabatan kedua tokoh dua…

Pusat Belanja Haji dan Umrah ThamrinCity

Pusat Belanja Haji dan Umrah ThamrinCity NERACA Jakarta - Trade Mall ThamrinCity Jakarta yang berada di bawah naungan Agung Podomoro…

Pjs Walikota Ajak Elemen Masyarakat Merajut Persatuan dan Kesatuan - Peringatan Harkitnas Tingkat Kota Sukabumi

Pjs Walikota Ajak Elemen Masyarakat Merajut Persatuan dan Kesatuan Peringatan Harkitnas Tingkat Kota Sukabumi NERACA Sukabumi - Pjs Walikota Sukabumi…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Teror di Tahun Politik

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Tahun politik nampaknya semakin rentan terhadap iklim sospol dan karenanya…

BI Kembali ke Khittah-nya

  Oleh: Firdaus Baderi Wartawan Harian Ekonomi NERACA   Menurut rencana pekan ini, jabatan Gubernur Bank Indonesia akan diserahterimakan dari…

Kawasan Produksi dan Pasar

Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Industri dan Perdagangan Apakah ini yang akan kita bentuk sebagai episentrum kedigdayaan ekonomi Indonesia di masa…