Bank Dihimbau Turunkan Bunga KUR Mikro

NERACA

Jakarta--- Perbankan nasional yang diberi tugas pemerintah guna penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR) dihimbau menurunkan tingkat suku bunga KUR Mikro. Karena saat ini bunga KUR yang ditetapkan maksimal 22% pertahun. "Kami mendorong dan mengimbau perbankan penyalur KUR untuk menurunkan suku bunga KUR terutama KUR mikro yang dibebarapa daerah dinilai masih terlalu memberatkan," kata Deputi Bidang Pengambangan dan Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM, Choirul Djamhari, di Jakarta, Rabu.

Hal itu menurut Choirul Djamhari, harus dilakukan setelah sebelumnya KUR untuk ritel yang bunganya ditetapkan 14 persen pertahun diturunkan menjadi 13% pertahun bahkan sebelum suku bunga acuan BI rate dipangkas menjadi 5,75%.

Lebih jauh kata Choirul, penurunan BI rate itu diharapkan menjadi pemicu untuk penurunan suku bunga KUR terutama KUR mikro. "Penurunan suku bunga KUR saat ini menjadi agenda permanen kami supaya UKM lebih berdaya saing karena di beberapa tempat yang kami kunjungi suku bunga yang 22 persen pertahun itu dinilai membebani pelaku usaha mikro," ujarnya

Namun, pihaknya hanya dapat mengimbau penurunan suku bunga tersebut kepada perbankan pelaksana KUR sekaligus agar mereka dapat melakukan efisiensi demi menurunkan biaya operasional. "Jika bank bisa melakukan efisiensi maka itu akan membuat biaya operasian perbankan turun sehingga berkontribusi terhadap penurunan suku bunga terhadap portofolio perbankan termasuk KUR," ucapnya]

Choirul berpendapat, saat ini hal yang paling dibutuhkan adalah bank pemrakarsa atau perintis penurunan bunga KUR. Dengan adanya bank yang berani memprakarsasi penurunan suku bunga KUR sangat potensial bank-bank lain akan menjadi "free rider" alias mengikuti pemangkasan suku bunga tersebut.

Sebelumnya, pihaknya menyatakan sampai saat ini masih sulit untuk menurunkan tingkat suku bunga program KUR khususnya KUR sektor mikro yang dipatok maksimal 22% pertahun efektif. Sedangkan KUR ritel dipatok maksimal 13 persen pertahun efektif.

Sejumlah pertimbangan yakni pada sisi perbankan yang mengharuskan adanya spread atau selisih tingkat suku bunga simpanan atau deposito dengan suku bunga pinjaman untuk menjaga agar bank tidak kekurangan likuiditas.

Choirul juga mengatakan, ada risiko lain yang harus dihadapi perbankan penyalur KUR bila suku bunga KUR dibuat lebih rendah. "Jika tingkat suku bunga KUR dibuat rendah maka itu dikhawatirkan akan mengorbankan portofolio produk bank yang lain," paparnya

KUR mikro sendiri merupakan pinjaman debitur KUR yang jumlahnya maksimal Rp20 juta, sedangkan KUR ritel besar pinjamannya di atas Rp20 juta-Rp500 juta. **rin

BERITA TERKAIT

Penyaluran KUR 2018 Capai 95,2%

    NERACA   Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan bahwa kinerja penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR)…

Bank Nagari Didorong jadi Bank Syariah

    NERACA   Padang - Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Sumatera Barat (Sumbar) mendorong percepatan konversi Bank Pembangunan Daerah Sumatera…

Bank Banten Dukung Bapenda Permudah Layanan Masyarakat

      NERACA   Banten - PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (Bank Banten) mendukung Badan Pendapatan Daerah (Bapenda)…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Industri Properti Perlu Waspadai Suku Bunga dan Likuiditas

      NERACA   Jakarta – Industri properti dihimbau untuk mengantisipasi terhadap dua tantangan penting yaitu ketidakpastian ekonomi global…

Bank Muamalat Kerjasama Remitansi dengan Al Rajhi Bank Malaysia

      NERACA   Jakarta - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk bersama Al Rajhi Bank Malaysia menandatangani perjanjian kerjasama…

Masalah Fintech, LBH dan OJK Masih Deadlock

      NERACA   Jakarta - Pertemuan antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta belum…