Moratorium Izin Perguruan Tinggi Baru Diperlukan - Orang Kaya Bikin Universitas

Pertumbuhan orang kaya di Indonesia cukup besar. Dengan melimpahnya dana, tak ayal membuat mereka mencari penyaluran dana dengan cara membuat program pendidikan bahkan membuat perguruan tinggi. Hal itu yang membuat Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro meminta agar diberlakukannya moratorium izin perguruan tinggi.

Menurut Bambang, izin perguruan tinggi baru perlu dimoratorium karena ada kecenderungan orang kaya di Indonesia bikin universitas dengan menggunakan namanya. "Iya kalau dia kaya terus atau keluarganya memiliki komitmen kuat untuk meneruskan universitas tersebut," ujar Bambang dalam diskusi publik Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) di Jakarta.

Bambang menambahkan, jika orang kaya tersebut sudah tua atau tidak bisa mengurus perguruan tinggi tersebut, maka kampus tersebut hanya bertahan saja. Salah satu caranya untuk bertahan hanya dengan mencari mahasiswa saja. Menurut Bambang, lebih baik orang kaya di Tanah Air tidak berlomba-lomba bikin universitas melainkan menyumbang kepada kampus yang sudah ada. "Misalnya untuk pembangunan laboratorium, menyumbang sekian miliar," kata dia.

Ia juga menambahkan dirinya juga menentang perguruan tinggi swasta menjadi negeri, karena akan menambah beban negara. Lebih baik memperkuat perguruan tinggi negeri (PTN) yang sudah ada dibandingkan harus menjadikan negeri kampus swasta. "Daripada harus menambah beban anggaran, lebih baik diperkuat saja PTN yang sudah ada," katanya.

Bambang menegaskan bahwa yang terpenting pada saat ini adalah bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. Indonesia memiliki sekitar 4.500-an perguruan tinggi, namun jika dibandingkan perguruan tinggi di Tiongkok masih kalah saing. "Jumlah universitas kita banyak, tapi belum tentu universitas terbaik kita mampu bersaing dengan Tsinghua University misalnya. Untuk itu kita dorong bagaimana kualitas perguruan tinggi kita semakin meningkat," kata dia.

Jika di Indonesia orang kaya yang memiliki uang berlebih lalu dialirkan untuk membuat kampus baru, namun di luar negeri orang kaya mengalihkan dananya untuk sumbangan kepada universitas. Harvard University menjadi salah satu kampus terbaik di dunia ini menjadi peringkat pertama sebagai kampus terkaya di dunia. Dana sumbangan yang diterima universitas bergengsi tersebut mencapai total 37 miliar dollar AS. Mengutip Bloomberg, Senin (20/11/2017), pada peringkat kedua adalah Yale University, yang mencatat kenaikan dana sumbangan sebesar 20 persen menjadi 27,2 miliar dollar AS. Adapun pada peringkat ketiga adalah Standfor University, yang mencatat pertumbuhan dana sumbangan 40 persen menjadi 24,8 miliar dollar AS.

Namun demikian, selama satu dekade terakhir, pertumbuhan dana sumbangan yang diterima Harvard kurang dari 2 persen. Sementara, kedua pesaingnya tersebut terus mencatatkan peningkatan perolehan dana sumbangan secara signifikan. Dalam 10 tahun terakhir hingga 30 Juni 2017, rata-rata imbal hasil investasi dana sumbangan yang diterima Harvard hanya 4,4 persen. Ini di bawah rata-rata yang diterima sejumlah kampus bergengsi lainnya di AS. Stanford mencatat rata-rata imbal hasil investasi dana sumbangan mencapai 5,8 persen. Adapun Yale 6,6 persen.

Harvard menggunakan sekitar 5 persen dana sumbangannya untuk subsidi kampus setiap tahun. Ini sejalan dengan praktik yang dilakukan universitas-universitas lainnya. Secara tradisional, dana sumbangan memang digunakan untuk mendorong kualitas universitas. Di samping itu, dana sumbangan juga digunakan untuk subsidi bantuan finansial dan operasional akademik. Semakin kaya sebuah universitas, maka semakin banyak dana yang digunakan untuk beasiswa dan meningkatkan kualitas fakultas.

Tahun lalu, Harvard menggunakan dana sumbangan mencapai 1,8 miliar dollar AS untuk keperluan tersebut. Harvard pun menerima dana hadiah sebesar 6,2 miliar dollar AS selama kurun waktu 2008-2016. Sementara itu, Stanford menerima 7,3 miliar dollar AS. Memiliki dana yang besar seperti itu juga dapat menarik lebih banyak mahasiswa dengan lebih baik. Dana tersebut dapat digunakan untuk membangun lebih banyak fasilitas dan memberikan lebih banyak beasiswa.

BERITA TERKAIT

Pacu Pertumbuhan Kinerja - Wismilak Raih Izin Kawasan Berikat Surabaya

NERACA Jakarta – Emiten produsen rokok, PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) menyambut baik ketetapan pemerintah yang memberikan izin atas…

Cosmobeaute 2019 Akomodasi Merek Kecantikan Baru

  NERACA   Jakarta - Sebagai pameran B2B (business-to-business) terbesar di Indonesia, Cosmobeauté Indonesia menghubungkan produsen, eksportir, distributor dan agen…

Perkuat Bisnis Logistik - Adi Sarana Bikin Perusahaan Patungan

NERACA Jakarta – Mengoptimalkan layanan bisnis logistik, PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) menggandeng penyedia platform dagang elektronik atau e-commerce…

BERITA LAINNYA DI PENDIDIKAN

Peran Ibu Tak Akan Tergantikan dengan Teknologi

    Peranan ibu dalam mendidik anak tidak dapat digantikan oleh kemajuan teknologi seperti pada era digital saat ini, kata…

Pendidikan untuk Si Kecil di Era Teknologi

      Pada era millenial seperti saat ini, teknologi digital menjadi realitas zaman yang tidak dapat dihindari. Seiring perkembangan…

Mengapa Anak Usia 7 Tahun Ideal Masuk SD

    Selain kemampuan intelektual, kesiapan mental anak juga harus dipertimbangkan dalam aktivitas kegiatan belajar di jenjang pendidikan Sekolah Dasar…