Mahakarya yang timbul dari ide dan insting seorang Arsitek - Green House

Neraca. Di tengah isu soalgreen attitudesaat ini, seorang arsitek dituntut untuk merancang hunian berdasarkan bentuk dan fungsi. Dengan kata lain, hasil rancangan seorang arsitek yang umumnya berbentuk hunian untuk manusia haruslah berfungsi dengan sangat baik dan nyaman digunakan. Di sisi lain, rancangan itu harus indah dipandang sekaligus ramah lingkungan.

Ridwan Kamil, arsitek ternama Indonesia saat ini, menerapkan pakem itu dengan sangat baik pada rumah pribadinya yang dikerjakan beberapa tahun dan diselesaikan pada 2007 silam. Yang menjadikan rumah itu unik adalah pemakaian 30.000 botol bekas minuman energi sebagai elemen estetika utama. Pemakaian botol bekas itu selain mengurangi limbah yang tak mudah terurai, juga menghasilkan estetika bangunan yang luar biasa. Terletak di kawasan atas Kota Bandung, tepatnya di Cigadung Selatan, rumah Ridwan yang dijuluki Rumah Botol itu sungguh nyaman, indah, bahkan sangat hijau dan unik.

Pada awalnya, kata pria kelahiran Bandung, 4 Oktober 1971 itu, ide untuk membuat rumah botol timbul lantaran para pekerja yang membangun rumahnya sering mengkonsumsi minuman berenergi, sehingga botol-botol bekas minuman berenergi tersebut berserakan di mana-mana. Ditambah lagi dengan instingnya yang tajam sebagai arsitek, dia melihat warna coklat dari botol bekas tersebut senada dengan warna kayu.

Botol-botol bekas minuman energi itu ditata Ridwan dengan pembingkaian batang besi sehingga menghasilkan sebuah jajaran merata yang berwarna coklat. Di sisi rumah yang lain, jajaran botol itu dibagi-bagi lagi dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil. Botol disusun dan ditata seperti pola papan catur menyelimuti dinding utama bangunan yang menggunakan kaca bening (sebagai kulit kedua dari dinding). Sehingga hasilnya adalah bidang-bidang partisi transparan.

Memang, di tengah isu soalgreen attitudesaat ini, pembangunan rumah botol ini menerapkan konsep cinta lingkungan. Menurut Ridwan, Rumah pribadi harus sesuai dengan keinginan pribadi, rumah botol ini juga mewakili segenap pikiran dan proses hidup dirinya.

Rumah yang dibangun dengan memakai 30.000 botol bekas ini berjalan tanpa diawali dengan rancangan gambar, sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan arsitek. Dia mengaku, bahwa dalam tahap pengerjaannya hanya berdasarkan perasaannya saja dan melalui perintah lisannya yang ditujukan kepada para pekerja dalam bertindak. Satu demi satu blok diselesaikan sesuai dengan dana yang ada, jika ada dana lagi barulah Ridwan membuat bagian yang lainnya.

Selama enam bulan penyelesaian rumah itu tertunda karena perlu sekitar 30.000 botol yang dikumpulkan dari seluruh pemulung yang bisa dijumpai Ridwan di Jawa Barat. Harga per botolnya memang hanya Rp 50, tetapi mencari botol bekas begitu banyak memang perlu waktu tak sedikit.

Pada umumnya orang yang belum melihat rumahnya secara langsung atau setidaknya belum melihat foto rumahnya, tentu yang terbayangkan tentang rumah Ridwan Kamil adalah bentuk aneh dan tak wajar. Maklum, tumpukan botol bekas umumnya menimbulkan bayangan akan sampah yang tak karuan bentuknya.

Namun, pada kenyataannya secara umum, rumah yang berdiri di atas tanah seluas 373 meter persegi, di kawasan Cigadung Selatan adalah rumah yang indah bahkan terpuji secara arsitektur modern . Selain ramah lingkungan, rumah botol juga berjasa dalam penghematan energi. Sirkulasi udara yang sangat baik terjadi di sana, juga pemakaian cahaya alami yang sangat efisien. Dindingnya yang terbuat dari kaca, membuat sinar matahari lebih mudah masuk sehingga tidak perlu menyalakan lampu pada siang hari.

Tidak cukup mendapat acungan jempol saja , ide kreatif Ketua Bandung Creative City Forum (BCCF) ini juga mendapat sambutan luar biasa dan gelar juara dalam Green Design Award 2009, yang diselenggarakan oleh BCI Asia (Building Construction Information Asia).Rumah tinggalnya yang memanfaatkan botol bekas minuman berenergi itu, berhasil menyisihkan karya delapan puluh peserta lain dari delapan negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Hong Kong, dan China.

Sebelum mendapat penghargaan ini, rumah botolnya sudah mendapat perhatian dari media internasional. Media dari Singapura, Thailand, dan Amerika Serikat, telah mempublikasikan karya arsitek urban lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.

Apa yang dilakukan Ridwan, bisa menjadi acuan untuk para arsitek lainnya dalam menerapkan konsep green di Indonesia dan juga menjadi solusi alternatif soal sampah yang tak kunjung usai. Ide kreatif bisa menyulap barang tak berguna menjadi mahakarya, yang tidak hanya indah dipandang mata tetapi juga bermanfaat. (yuan)

BERITA TERKAIT

Sejarah Perdamaian Dunia Dimulai dari Singapura

Oleh: Yunianti Jannatun Naim Konflik antara Amerika Serikat dengan Korea Utara yang terus memanas dalam sebulan terakhir akhirnya mereda setelah…

Layanan BOLT Hadir di Serang dan Cilegon

Dalam rangka perluas penetrasi pasar, BOLT sebagai pionir operator 4G-LTE di Indonesia kembali memperluas jangkauan jaringannya ke kota-kota baru. Dua…

Pengawasan Perbankan dan Teknologi Nano

  Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis   Hong Kong sebagai salah satu pusat keuangan di…

BERITA LAINNYA DI HUNIAN

Yestarland Operasikan Cilegon Center Mall

Yestarland Operasikan Cilegon Center Mall  NERACA Cilegon - PT Yestarland Karya Utama (Yestarland), perusahaan pengembang properti, mulai mengoperasikan Cilegon Center…

Indonesia-Vietnam Jalin Kerja Sama Konstruksi dan Properti

Indonesia-Vietnam Jalin Kerja Sama Konstruksi dan Properti  NERACA Jakarta - Indonesia dan Vietnam menjalin kerja sama konstruksi dan properti dengan…

Paramount Tawarkan Rumah untuk Kalangan Menengah

Paramount Tawarkan Rumah untuk Kalangan Menengah NERACA Jakarta - Paramount Land, perusahaan pengembang properti yang berpusat di Gading Serpong, Kabupaten…