Melestarikan Kuliner Asli Budaya Jawa - Owner Pendopo 21 Authentic Javanese Foods : Ratna Suhartono

Neraca. Kelezatan hidangan, keramahan pelayanan, dan suasana yang nyaman memang dimiliki Pendopo 21, sebuah restoran yang mengusung masakan Jawa dengan cita rasa keaslian yang terjaga. Adalah Ratna, perempuan asal Kota Semarang kelahiran 48 tahun silam, sosok di balik sukses restoran yang berdiri sejak tahun 2009 lalu.

Ratna menuturkan bahwa sebenarnya dia hanya ingin mengambil nama “Pendopo” saja. “Tapi karena sudah ada yang menggunakan nama itu, kami pakai Pendopo 21,” ujar Ratna. Namun bagi Ratna dan keluarga, angka 21 memiliki makna yang spesial. Selain beralamat di Jalan Kelapa Hybrida Raya Blok RB 1 No 21 Kelapa Gading, Ratna dan salah seorang dari dua orang putranya juga lahir pada tanggal 21, “Namanya jadi terdengar enak,” ungkapnya sambil tersenyum.

Ia pun bercerita, bahwa pilihan mengangkat kuliner asli Jawa dengan konsep tradisional sekaligus modern yang dikemas dalam suasana yang bersih dan nyaman menjadi ciri keberadaan Pendopo 21.

Dalam hal menu, jelas Ratna, dia berusaha menyajikan semua jenis makanan memiliki rasa aslinya, “Namun kami tetap menyesuaikan taste bagi masyarakat umum,” ujarnya seputar Pendopo 21 yang kini telah memiliki dua cabang di Jakarta.

Menurut Ratna, menjaga cita rasa setiap masakan adalah hal mutlak. “Kami selalu menyajikan yang terbaik disetiap hidangan. Baik bumbu, cara pengolahan dan cara penyajian menjadi faktor yang senantiasa ia jaga, sehingga setiap hidangan akan memiliki taste yang tetap terjaga bagi penikmat rasa. Bahkan untuk beberapa jenis bumbu, sengaja ia datangkan dari Jawa, “Kami ingin yang terbaik bagi pelanggan Pendopo 21,” ujarnya.

“Kunci agar pelanggan tetap setia adalah taste yang selalu terjaga,” ungkap istri Suhartono, pria asal Brebes Jawa Tengah dan telah dikaruniai dua orang putra-putri tercinta, Stefan Adrianto, 24 tahun, dan Stefani Silviana, 18 tahun.

Selain puluhan jenis menu bercita rasa tinggi, Pendopo 21 juga memiliki menu spesial minuman, yakni Es Jelly Pendopo dan Es Jahe Kelapa yang dapat dinikmati dengan harga rata-rata Rp 17.000. Seperti kualitas menu lain yang disajikan Pendopo 21, jelas Ratna, Es Jahe Kelapa tersaji dengan menjaga kemurnian bahan yang berasal dari rempah-rempah terbaik. “Khasiat kesehatan dari Es Jahe Kelapa pun dapat dinikmati oleh para pengunjung,” ungkapnya.

“Kami juga melayani order catering, baik dalam bentuk sajian prasmanan maupun dalam boks,” jelas Ratna. Kata Ratna Pendopo 21 telah menjadi pilihan dan kepercayaan sejumlah tokoh nasional dalam menyediakan makanan yang berkualitas. “Kami pernah diminta untuk menyiapkan hidangan buat Mas Guruh (putra Proklamator Bung Karno, Guruh Soekarno Putra-red), dalam jamuan perayaan ulang tahun Mas Guruh,” jelas Ratna.

Bahkan beberapa corporate besar seperti RRI, Bursa Efek Jakarta, atau Astra International dan sejumlah anak perusahaannya telah menjadi pelanggan tetapnya. “Dengan rasa yang terjaga baik, harga kami memang terbilang murah,” ujar Ratna. Menu seperti Soto Kudus, Ayam Penyet, Ayam Kalasan, Nasi Liwet, Pindang Ayam, dan puluhan menu lainnya, baik makanan dan minuman menjadi hidangan yang sangat menggiurkan dengan harga terjangkau.

Ia menilai bila saat ini banyak sekali masakan Indonesia yang dimodifikasi, sehingga memiliki rasa yang tidak sesuai aslinya. Karena itu ia bertekad untuk melestarikan warisan leluhur dalam hal kuliner untuk menyajikan hidangan pilihan asli Jawa dengan cita rasa yang original.

Untuk dapat menyajikan sebuah hidangan yang terbaik, menurut Ratna, kita harus mendasarinya sebagai sebuah hobi dan menyukai pekerjaan yang kita tekuni. “Menjalankan sebuah restoran memang tidak gampang, yang terpenting kita jangan menyerah,” tegas Ratna. Intinya bila kita mampu menyajikan sebuah hidangan yang dapat mengobati kerinduan orang yang menikmati hidangan dengan kampung halamannya, maka keberhasilan awal sudah dapat kita raih.

Ratna pun berprinsip bila kita harus menjalani hidup dengan apa adanya. “Jalani hidup seperti air yang mengalir,” ungkapnya. Ia pun teringat pesan sang orangtua. “Kalau ingin survive dalam hidup, kita harus mau bekerja dengan sepenuh hati dengan menjaga kredebilitas kita,” ujarnya, karena semua yang kita harapkan sesungguhnya dapat kita raih. “Itu pun bila kita meraihnya dengan cara-cara yang baik dan benar,” ungkapnya.

BERITA TERKAIT

Komisi III DPR Minta KPK Serius Hilangkan Budaya Korupsi

Komisi III DPR Minta KPK Serius Hilangkan Budaya Korupsi NERACA Jakarta - Wakil Ketua Komisi III DPR Desmond J Mahesa…

Angka Kemiskinan Jawa Barat Turun

Angka Kemiskinan Jawa Barat Turun NERACA Bandung - Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2017 menunjukkan, angka kemiskinan di…

Proses Politik, Ekonomi dan Sosial Budaya Harus Selaras

Fauzi Aziz, Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri Transformasi Indonesia memang tidak bisa lepas dari proses politik, proses ekonomi dan proses…

BERITA LAINNYA DI PROFIL

Proses Belajar Tak Mengenal Batas - Diding Sudirdja Anwar, Presdir Perum Jamkrindo

“Jangan pernah berpikir untuk berhenti belajar. Meski sudah berada di posisi puncak sebuah perusahaan, jangan pernah berpuas diri. Teruslah belajar,…

Tanto Darmawan Sutjipto Pemilik, PT Metro Taruna Agency - Menuai Sukses Dimulai Dari Tukang Antar Koran

Sejatinya hiruk pikuk dan branding sebuah media tidak lepas dari jasa para pengecer, loper, hingga agen sebuah surat kabar. Oleh…

Ade Sudrajat Usman, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) - Industri Tekstil Siap Bersaing di Pasar Global

Industri tekstil mengaku yang paling siap menyongsong Indonesia kembali bergabung dalam perdagangan bebas Trans Pacific Partnership (TPP). Namun, ada beberapa…