BI Inflasi Diprediksi 3,96% - Hingga Akhir 2012

Jakarta---Bank Indonesia (BI) berani mengklaim tekanan inflasi hanya 3,96% hingga akhir 2012. Karena itu BI berani menurunkan tingkat suku bunga acuan (BI rate) sebesar 25 bps di angka 5,75% bulan ini. "Kita gunakan BI rate untuk menjangkar perkiraan inflasi di tahun ini. Berdasarkan perkiraan kami, inflasi tahun ini akan berada di angka 4,5 persen plus minus satu," kata Direktur Direktorat Riset dan Kebijakan Moneter BI Perry Warjiyo di Jakarta,14/2

Menurut Perry, dengan framework ini, maka Bank Sentral kemudian memutuskan untuk menurunkan BI rate di angka 5,75%. "Inflasi akhir tahun, jika tidak mempertimbangkan administered price, akan berada di angka 3,96%," tambahnya

Dikatakan Perry, optimisme Bank Sentral, karena didukung oleh penurunan harga komoditas yang akan terjadi di tahun ini sebesar 12,8%. Apalagi kecenderungan harga komoditas dunia menurun. "Di 2011 lalu, harga komoditas di luar minyak naik 16%. Namun, berdasarkan data kita terkini di 2012 ini, harga komoditas akan turun 12,8%. Dengan demikian, harga komoditas turun, maka tekanan inflasi barang-barang impor akan turun," tambahnya

Diakui Perry, kenaikkan BBM dan tariff dasar listrik bisa mendongkrak inflasi sekitar 5%. Karena itu pemerintah sedang mengkaji rencana kenaikkan tersebut. "Kalau rencana tarif dasar listrik (TDL) jadi naik 10%, ada tambahan inflasi sekira 0,2%. Sedangkan kalau Harga Pokok Pemerintah (HPP) beras naik, inflasi akan naik 0,1%," paparnya

Jika tidak mempertimbangkan kenaikan administered price, Bank Sentral memang optimistis angka inflasi tahunan hanya berkisar di angka 3,96%. Sehingga bila kedua hal ini dipilih pemerintah, inflasi baru akan bergerak di angka 4,3%. "Sedangkan kalau ada pembatasan BBM untuk kendaraan pribadi dan umum, inflasi akan naik kurang lebih 0,7%," tegasnya

Dengan asumsi pemerintah akan melakukan ketiga langkah ini, BI masih optimistis angka inflasi masih di bawah asumsi makro dalam APBN di angka 4,5% plus minus satu. "Sedangkan kalau rencana pemerintah jadi menaikkan harga BBM subsidi, setiap kenaikan Rp500, inflasi akan naik 0,3%, itu dampak langsungnya. Kalau ada cashback dan segala macam perhitungannya lebih kompleks," cetusnya

Dengan mempertimbangkan kondisi ini, Bank Sentral yakin kembali memangkas BI rate di angka 5,75% adalah langkah yang tepat seiring dengan target inflasi yang akan masih di bawah asumsi. "Kita juga melihat kondisi global, pertumbuhan ekonomi dunia menurun dari 3,7% menjadi 3,3%. Jadi kita lihat pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2012 jugaa akan di kisaran batas bawah di 6,3% dari sebelumnya di 6,5%-6,7%," pungkasnya. **maya

BERITA TERKAIT

IHSG Akhir Pekan Lanjutkan Penguatan

NERACA Jakarta – Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (14/2) ditutup menguat sebesar 0,9 poin atau 0,01% menjadi…

Debat Capres Putaran Kedua Diprediksi Berjalan Seru dan Menarik

  NERACA   Jakarta – Debat Calon Presiden (Capres) pada 17 April mendatang diperkirakan akan berjalan seru dan menarik dibandingkan…

Tarif Tol Mahal Bisa Picu Biaya Akomodasi dan Inflasi

Oleh: Djony Edward Tema infrastruktur diperkirakan akan menjadi topik paling hanya menjelang dan setelah debat kedua pada 17 Februari 2019…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Fintech Ilegal Berasal dari China, Rusia dan Korsel

  NERACA   Jakarta - Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menemukan fakta bahwa mayoritas perusahaan layanan finansial berbasis…

Laba BNI Syariah Tumbuh 35,67%

    NERACA   Jakarta - PT Bank BNI Syariah membukukan laba bersih sebesar Rp416,08 miliar, naik 35,67 persen dibandingkan…

Pemerintah Terbitkan Sukuk US$ 2 miliar

      NERACA   Jakarta - Pemerintah menerbitkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk wakalah global senilai dua…