UOB Tawarkan Uang Damai Rp 25 Juta - Korban Debt Collector

NERACA

Jakarta – Pihak PT Bank UOB Indonesia diduga sempat menawarkan uang tutup mulut sebesar Rp 25 juta kepada nasabah kartu kredit korban debt collector. "Saya pernah dijanjikan dipertemukan dengan Presiden Direktur UOB Indonesia (Arman B Arief). Namun nyatanya hanya dipertemukan oleh bagian Legal. Dia tawarkan uang Rp 25 juta untuk tutup mulut ke media," kata Muji Harjo yang mengaku sebagai korban debt collector tersebut di DPR, Jakarta, 14/2

Muji menceritakan penganiayaan terhadap dirinya terjadi pada 13 Mei 2010 oleh debt collector UOB Indonesia, karena Muji belum sanggup melunasi pembayaran. Padahal di 27 Oktober 2009 telah menyerahkan sepeda motor Yamaha jenis Vega-R sebagai jaminan atas utangnya sejumlah Rp 12 juta ke pihak debt collector.

Atas penganiayaan ini, Muji harus dirawat selama tiga hari di RS Borromeus Bandung, dengan menghabiskan uang Rp 3,3 juta. Atas dasar inilah ia menulis surat tertulis kepada Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution dan kepada media melalui surat pembaca.

Lebih jauh Muji juga melaporkan tindakan ini ke Polsek Sumur Kota, Bandung. Secara bersama-sama Muji bersama pengacaranya, Sonny Singal,SH mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Negeri Bandung. Dalam materi gugatan, Muji memasukan uang ganti rugi materil sejumlah Rp 3,3 juta yang merupakan biaya pengobatan di RS Borromeus, serta ganti rugi immateril Rp 10 miliar. "Untuk Rp 10 juta bersifat immateril, karena sudah ada kerugian waktu, psikis," papar Sonny Singal yang mewakili Muji.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Direktur UOB Indonesia Arman B. Arief membuat alibi yang berbeda. Usai kejadian tersebut, pihaknya telah menyodorkan jalan damai dengan menawarkan uang ganti rugi Rp 73,3 juta. "Ini untuk biaya pengobatan di Borromeus Rp 3,3 juta. Yang Rp 70 juta untuk ongkos yang akan datang. Namun tawaran kami tidak bisa diterima. Saya dapat info katanya juga ada tuntutan Rp 10 miliar secara perdata," tambah Arman.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi XI Harry Azhar Azis mengakui Komisi XI DPR RI meminta pertanggungjawaban UOB Indonesia atas kasus tersebut. "Jadi kita panggil Direksi Bank UOB terkait kekerasan debt collectornya yang berakibat negatif kepada nasabahnya yaitu Muji Harjo kasus yang di Bandung serta Budi kasus yang semarang," ujarnya

Menurut Harry, pada prinsipnya pemukulan yang dilakukan oleh debt collector adalah tanggung jawab bank. DPR juga akan meminta sikap tegas BI atas hal itu. "Pertemuan dilakukan hari ini Jam 14.00 di Komisi XI," katanya. **cahyo

BERITA TERKAIT

OJK Jalin Kerjasama dengan Kemendagri dan PPATK - Cegah dan Berantas Pencucian Uang

  NERACA   Jakarta - Guna mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang di Industri Jasa Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan…

Industri Kaca Lembaran Tambah Kapasitas Jadi 1,34 Juta Ton

  NERACA Jakarta – Industri kaca lembaran mengalami peningkatan kapasitas produksi seiring adanya perluasan usaha dari salah satu produsen guna…

Berikan Kejelasan Bagi Investor - OJK Ganti Rugi Korban Pelanggaran Pasar Modal

NERACA Jakarta – Meskipun di indutri pasar modal sudah memiliki lembaga yang melindungi dana nasabah atau Indonesia Securities Investor Protection…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

CIMB Niaga Cetak Laba Rp3,5 Triliun

      NERACA   Jakarta - PT Bank CIMB Niaga Tbk melaporkan perolehan laba bersih konsolidasi (diaudit) sebesar Rp3,5…

BCA Jadi Mitra Distribusi Penjualan ST-003

    NERACA   Jakarta – Komitmen Pemerintah, dalam hal ini Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan…

Penerbitan Sukuk Global Bakal Pulih

    NERACA   Jakarta - Lembaga pemeringkat Moody's Investor Service mengatakan pada Selasa bahwa mereka memperkirakan penerbitan sukuk negara…