free hit counter

Setelah AS, Rusia Lirik Peluang Investasi di Indonesia

Rabu, 15/02/2012

NERACA

Jakarta - Sejumlah pengusaha Rusia akan datang ke Tanah Air pada akhir Februari untuk membidik berbagai peluang investasi. Para pengusaha tersebut akan berkunjung ke kantor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bertemu dengan pengusaha di Tanah Air.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Alexander Ivanov mengatakan, ada 45 perusahaan Rusia yang bakal berkunjung ke Indonesia. “Para pengusaha itu mewakili 45 perusahaan yang bergerak berbagai bidang industri seperti minyak dan gas, kereta api, pertanian hingga energi. Partisipasi perusahaan swasta asal Rusia yang berinvestasi di Indonesia semakin meningkat,” ujar Dubes Ivanov di Jakarta, Selasa.

Ivanov menjelaskan, pada Selasa pekan lalu perusahaan kereta api Rusia dan Pemerintah Kalimantan Timur menandatangani nota kesepahaman pembangunan rel kereta api sepanjang 180 kilometer dengan nilai investasi US$2,4 miliar. "Hubungan ekonomi antara Rusia dan Indonesia saat ini sedang memasuki babak baru," kata Ivanov.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, total nilai perdagangan Indonesia-Rusia pada 2006 senilai US$690 juta, melonjak menjadi lebih dari US$1,6 miliar pada 2011. Pada akhir tahun lalu, Indonesia dan Rusia menyepakati target nilai transaksi perdagangan sebesar US$5 miliar pada 2014.

Komoditas utama ekspor Indonesia ke Rusia terdiri dari minyak dan protein hewani, vegetable fat, produk-produk turunan kelapa sawit, kakao butter, furnitur, teh, kopi, peralatan kelistrikan, sepatu, pakaian, karet dan elektronik. Sementara komoditas utama impor Indonesia dari Rusia terdiri dari pesawat terbang, besi baja, pupuk, kertas, logam, karet sintetis, dan aluminium.

Tiga Sektor

Sebelumnya perusahaan-perusahaan dari Amerika Serikat juga menyatakan berminat mengembangkan tiga sektor industri di Indonesia. “Saat ini Amerika berminat untuk mengembangkan industri IT, pengembangan infrastruktur, dan pengembangan di bidang energi khususnya energi terbarukan di Indonesia,” kata Direktur Jenderal Kerja sama Industri Internasional Kementerian Perindustrian Agus Tjahjana di Jakarta, pekan lalau.

Agus mengatakan keinginan pengusaha AS diutarakan pada pertemuan antara Kementerian Perindustrian dengan delegasi Amerika yang diwakili beberapa perusahaan besar seperti Freeport dan Caterpillar. Pertemuan dihadiri oleh kurang lebih 35 perusahaan dari Amerika Serikat di bawah delegasi dari US-ASEAN Business Council, yang dipimpin oleh Alexander Feldman.

“Saya juga telah berbicara dengan perwakilan dari Caterpillar untuk memperdalam industri komponen-komponen alat berat, namun mereka berpendapat bahwa industri pengecoran besi di Indonesia masih belum siap,” ujarnya.

Kendati demikian, Kementerian Perindustrian juga memberikan pandangan kepada mereka untuk mengembangkan bersama terkait dengan industri pengecoran besi karena kebutuhan alat-alat berat khususnya di Indonesia dari hari ke hari semakin meningkat.

AS juga berencana meluncurkan program Agribusiness Market and Support Activity (AMARTA II) pada awal Maret 2012 senilai US$15 juta untuk mendukung ketahanan pangan dan agribisnis di Indonesia. Indonesia semakin membuka peluang untuk menarik investasi besar setelah beberapa waktu lalu lembaga pemeringkat Moody’s Investor Service menaikkan peringkat utang Indonesia dari Baa3 menjadi Ba1. Indonesia masuk pada level layak investasi dengan outlook stabil. Pada akhir 2011, lembaga pemeringkat Fitch juga telah menaikkan peringkat utang Indonesia dari BB+ menjadi BBB-.