Pengusaha Repot Atur Rencana Finansial - BANKIR USUL SUKU BUNGA ACUAN BI DINAIKKAN

Jakarta-Meski nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kemarin (25/4) sedikit menguat, kalangan pengusaha di sektor industri masih kesulitan membuat perencanaan usaha di tengah fluktuasi rupiah cukup dalam belakangan ini. Sementara itu, sejumlah pihak mengusulkan suku bunga acuan BI agar dinaikkan sebagai upaya menjaga stabilisasi rupiah.

NERACA

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Roeslani menegaskan, nilai tukar rupiah yang tidak menentu tersebut membuat para pengusaha di sektor industri kesulitan."Kalau saya ngobrol dengan teman-teman pengusaha dan asosiasi, sih. Sebenarnya mereka berharap mata uang kita bisa lebih stabil. Kalau fluktuasi, kan, kita dari segi planning jadi susah," ujarnya di Jakarta, Rabu (25/4).

Di sisi sebaliknya, melemahnya rupiah justru membuat pelaku usaha di bidang batu bara senang. Hal itu karena mereka menggunakan rupiah untuk biaya produksinya, sedangkan penjualannya dalam dolar AS.

Namun begitu, untuk sektor industri lainnya semisal industri farmasi serta industri makanan dan minuman, Rosan mengatakan bahwa para pelakunya akan menjerit bila rupiah masih terus tinggi."Tapi kalau kita harapkan 13.500 per US$, agak berat. Yang penting stabil di angka Rp 13.700 per US$ atau Rp 13.750 per US$," ujarnya.

Menanggapi pertanyaan terkait dampak pelemahan rupiah terhadap utang negara, Rosan mengatakan, pihak swasta dalam negeri sudah belajar menyiasatinya dengan lindung nilai (hedging). "Untuk utang pemerintah, kembali lagi, pasti ada tekanan dari segi kebijakan ke depannya. Jadi, kalaupun pemerintah harus utang, itu untuk sesuatu yang produktif, bukan untuk menambal anggaran," ujarnya.

Sebelumnya ekonom senior dan mantan Menko PerekonomianRizal Ramli mendesak pemerintah untuk membantuBI menyelamatkanrupiah yang saat ini melemah terhadap dolar AS. BI tak bisa terus menerus melakukan intervensi sendirian. Toh, intervensi BI yang dilakukan dengan menggelontorkan cadangan devisa (cadev) ke pasar hanya akan membuat cadev terkuras.

Pada awal Januari 2018, cadev tercatat US$131,98 miliar. Namun, per Maret 2018, posisi cadev berada di angka US$126 miliar. Rizal menilai, penurunan cadev sebagian besar digunakan untuk intervensi rupiah dibandingkan pembayaran transaksi impor. "BI sudah intervensi (dengan cadev) total sekitar US$6 miliar," ujarnya, pekan ini.

Untuk itu, menurut dia, pemerintah harus membantu BI menstabilkan rupiah dengan menjaga keseimbangan primer, defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD), hingga mengeluarkan kebijakan yang sesuai untuk merespon sentimen dari ekonomi global.

"Makanya, yang penting jaga ketahanan. Jadi, tugasnya adalah benahi yang itu tadi. Itu lebih banyak ke sektor fiskal," tutur dia.

Menurut dia, kondisi yang terjadi adalah keseimbangan primer minus Rp39 triliun dan transaksi berjalan yang defisit sekitar 2-2,5% pada tahun ini. Adapun transaksi berjalan defisit lantaran impor pemerintah yang cukup tinggi. "Itu membuat Indonesia, semakin lama rupiahnya semakin melemah," ujarnya.

Rupiah tercatat anjlok pertama kali pada akhir Februari 2018 dengan menyentuh kisaran Rp13.700 per US$, setelah sebelumnya cukup stabil bergerak di kisaran Rp13.500 per US$ sejak akhir tahun lalu.

Suku Bunga Acuan BI

Menurut Direktur Eksekutif Economic Action (ECONACT) Indonesia Ronny P Sasmita, pelemahan rupiah ini harus segera ditangani secara serius oleh Bank Indonesia. BI tak bisa terus-terusan menggunakan cadangan devisa untuk menahan laju pelemahan rupiah. "Saya kira BI harus sudah mulai mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuan, melihat sentimen ke depan masih terus berlanjut," ujarnya seperti dikutip Liputan6.com, Rabu (25/4).

Dia mengatakan, tekanan terhadap nilai tukar rupiah biasanya juga besar saat memasuki kuartal II-2018. Penyebabnya adalah pembayaran kewajiban pemerintah ke luar negeri. Di luar itu, sentimen yang terus menekan rupiah adalah kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed).

Ronny mengatakan, biasanya pada kuartal pertama tekanan datang dari sisi transaksi berjalan (current account). Lalu pada kuartal II tekanan akan lebih besar lagi karena ada kewajiban pembayaran utang baik pemerintah maupunwasta. Untuk itu, BI harus mulai menyiapkan strategi dari awal. "Jadi pelemahan rupiah ini masih belum selesai," ujarnya. Hanya saja kenaikan suku bunga acuan ini, BIharus mempertimbangkan kondisi domestik, seperti salah satunya inflasi.

"Kita lihat inflasi kuartal pertama dan kedua ini dulu, karena sekalipun tekanan dari luar tinggi, inflasi di dalam harus juga jadi patokan utama," ujarnya.

Hal senada juga disampaikan kalangan perbankan. Mereka mengusulkan BI untuk segera merespon kebijakan bank sentral AS, dengan menaikkan bunga acuan. Tujuannya, demi mengangkat nilai rupiah yang terus melemah hingga menyentuh Rp13.900 per US$.

Dirut PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, respon kebijakan berupa mengerek BI 7 Days Reverse Repo Rate (7 DRRR) sejalan dengan kenaikan The Fed Fund Rate (FFR) pada Maret lalu dan diperkirakan meningkat naik lagi pada Juni mendatang.

Urgensi menaikkan suku bunga acuan dinilai demi menjaga jarak atau perbedaan antar suku bunga (interest rate differential). Pasalnya, jarak yang kelewat lebar berpotensi mendorong dana asing mengalir keluar (capital outflow) yang selanjutnya berdampak pada pelemahan rupiah.

"Bukan harus. Tetapi, ini pendapat dari bank saja. Karena, masalah interest rate differential ini rasanya perlu direspon juga. Pasar kan sudah melihat juga rencana kenaikan FFR," ujarnya.

Selain itu, dia menyarankan BI perlu terus menerus melakukan intervensi lewat cadangan devisa agar rupiah lebih stabil. Intervensi BI akan lebih efektif lagi jika dilakukan pada Mei nanti, mengingat masa pembayaran dividen berakhir dan melihat lebih jauh potensi rupiah jelang pengumuman The Fed pada Juni 2018. "Mungkin, BI jaga bukan ketika ada pembayaran dividen, karena percuma, ada outflow yang besar saat ini. Tapi ketika dividen sudah selesai," ujarnya.

Menurut Dirut BCA Jahja Setiaatmadja, BI harus segera mengambil sikap. Apalagi, pelemahan rupiah sudah tembus Rp13.900 per US$. Apalagi, stabilisasi rupiah merupakan tugas utama BI.

"Pasti secara psikologis akan menyebabkan kurs rupiah tertantang (rencana kenaikan The Fed), tinggal nanti kemauan BI mau intervensi dengan kurangi cadangan devisa atau terpaksa memberikan tanda ke pasar bahwa BI ikuti kenaikan suku bunga global," ujarnya.

Di sisi lain, BI harus mempertimbangkan bahwa masih ada kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed hingga dua sampai tiga kali lagi pada tahun ini. Artinya, rupiah berpotensi tertekan lebih dalam sekitar dua sampai tiga kali lagi pada tahun ini.

Tiko menilai keraguan BI untuk mengerek suku bunga acuan seperti halnya yang dilakukan The Fed, mungkin sedikit banyak karena mempertimbangkan dampak kenaikan suku bunga acuan pada suku bunga deposito dan kredit.

Pasalnya, ketika suku bunga acuan naik, suku bunga deposito dan kredit akan secepat kilat mengikuti kenaikan tersebut. Namun, giliran suku bunga acuan turun, bank tak bisa cepat merelakan penurunan suku bunga deposito dan kreditnya.

Namun, menurut dia, kekhawatiran dari sisi ini tak perlu terlalu dipikirkan. Sebab, faktor pengerek suku bunga deposito dan kredit tidak hanya 7DRRR. Namun, pengaruh dari permintaan kredit masyarakat. "Intinya, kalau pun (7DRRR) naik, rasanya dari sisi suku bunga kredit dan deposito tidak akan cepat naiknya. Jadi, tidak perlu khawatir begitu suku bunga acuan naik, maka suku bunga kredit dan deposito itu otomatis baik," tutur dia.

Justru, menurut Tiko, dengan kondisi permintaan kredit masyarakat saat ini, rasanya masih ada ruang bagi bank untuk menurunkan suku bunga kreditnya, meski BI akhirnya merespon The Fed dengan mengerek 7DRRR. "Bahkan, kami yakin bahwa tren suku bunga kredit (yang rendah) tetap bisa berlanjut sampai kuartal II dan III 2018 karena cost of fund (biaya dana) juga sudah turun duluan," tutur dia. bari/iwan/fba

BERITA TERKAIT

Hasil Evaluasi Hukum dan Finansial: Tidak Ada Misrepresentasi, Kewajiban SN Sudah Dipenuhi

Hasil Evaluasi Hukum dan Finansial: Tidak Ada Misrepresentasi, Kewajiban SN Sudah Dipenuhi NERACA Jakarta - Keputusan Komite Kebijakan Sektor Keuangan…

Pengusaha Minta Kompensasi DHE - GPEI USULKAN INSENTIF LEBIH MENARIK

Jakarta-Ketua Umum Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Sutrisno mengungkapkan, insentif yang diberikan pada pengusaha harus menarik. Meski tidak menguntungkan,…

Rencana Dishub Sukabumi Gunakan Eks Terminal Sudirman Dipastikan Gagal

Rencana Dishub Sukabumi Gunakan Eks Terminal Sudirman Dipastikan Gagal NERACA Sukabumi - Rencana Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Sukabumi akan menggunakan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Sentimen Krisis Turki Membuat Rp dan IHSG Loyo

NERACA Jakarta – Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sebagai buntut dari sentimen krisis ekonomi di Turki, memberikan dampak…

DAMPAK KRISIS MATA UANG TURKI - Darmin: Reaksi Berlebihan Berdampak Psikologis

Jakarta-Menko Perekonomian Darmin Nasution menganggap anjloknya mata uang Turki (lira), berdampak secara psikologis terhadap bursa saham dan mata uang negara-negara…

Ekonom: Program Capres Harus Beri Kepastian Berbisnis

NERACA Jakarta-Ekonom menilai faktor yang mampu mendorong sentimen positif berinvestasi bukan latar belakang sosok calon presiden dan calon wakil presiden,…