Dunia Usaha Cermati Dampak Kegaduhan Politik Ekonomi

NERACA

Jakarta – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan harapannya agar teladan kepemimpinan di Tanah Air juga dapat berbuat optimal guna berkontribusi kepada pengembangan perekonomian nasional secara maksimal. Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani mengapresiasi pencapaian yang relatif baik selama masa kepemimpinan nasional Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan adanya kenaikan pertumbuhan. "Meskipun demikian, dunia usaha mencermati masih adanya kegaduhan yang berdampak kepada perekonomian nasional menjelang tahun politik," ucapnya di Jakarta, Rabu (25/4).

Karena, ujar dia, Apindo berharap dunia usaha mendapatkan teladan kepemimpinan yang nyata bekerja bagi bangsa dan kepemimpinan yang jauh dari pencitraan serta memberikan kontribusi bagi perekonomian. Hariyadi, sebagaimana dikutip Antara, menambahkan, dukungan dunia usaha untuk kemajuan perekonomian tersebut juga dilakukan melalui peran kontrol kebijakan dan implementasinya agar tidak mendistorsi aktivitas perekonomian.

Selain itu, Hariyadi mengingatkan agar anggaran pemerintahan dapat difokuskan mengembangkan sumber daya manusia dalam rangka menghadapi industri 4.0. "Sinergi kebijakan antar kementerian dan lembaga yang disertai dengan fokus dukungan anggaran bagi pengembangan SDM menjadi sangat penting dilakukan dalam menjawab tantangan industri era 4.0," ujarnya.

Selain itu, ujar dia sinergi antara pemerintah pusat dengan pemda juga diyakini menjadi salah satu penentu keberhasilan pengembangan SDM di era 4.0 ini. Bagi pelaku usaha di daerah, Hariyadi mengingatkan perlunya mendukung pemda dalam penyusunan prioritas pengembangan ekonomi daerah dengan meningkatkan kapasitas bersama untuk dapat memberikan masukan kepada pemda dengan baik.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Imelda Freddy menyatakan, dalam rangka menghadapi revolusi industri 4.0, pemerintah perlu meningkatkan kapasitas pekerja Indonesia. Menurut Imelda, pada dasarnya industri 4.0 memperkenalkan era "smart factories" dimana mekanisme robot atau sistem fisik siber akan mengawasi proses fisik yang terjadi di dalam pabrik.

Sistem itu, ujar dia, memiliki kemampuan untuk membuat keputusan sendiri sehingga dengan adanya perubahan tren industri seperti ini, muncul kekhawatiran kalau peluang pekerjaan akan berkurang karena diambil alih robot dan mesin.

Dia menjelaskan, peningkatan kapasitas bisa dilakukan lewat pelatihan, kursus, dan sertifikasi. Para pelaku industri harus ikut serta dalam upaya ini karena peningkatan kapasitas pekerja akan berdampak positif terhadap industri itu sendiri. Menurut Imelda, penguasaan teknologi, teknologi digital, dan bahasa asing menjadi hal-hal yang mulai harus diperhatikan dan dilakukan para pekerja.

Pada kesempatan lain, Bank Indonesia menilai bahwa perekonomian nasional masih tetap solid ditopang kondisi domestik dan eksternal yang masih baik. "Domestik baik, didukung investasi dalam bentuk bangunan dan non bangunan yang cukup baik," ujar Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Firman Mochtar.

Firman mengemukakan bawa investasi bangunan tumbuh ditopang oleh proyek infrastruktur nasional. Sementara dari sisi non bangunan juga mengalami pertumbuhan yang salah satunya dapat dilihat dari konsumsi.

Sementara itu, ekonom senior Mari Elka Pangestu menilai ketidakpastian eksternal yang bisa memengaruhi perekonomian nasional semakin bertambah. "Meningkat ketidakpastiannya, bukan karena perang dagang tetapi juga karena the Fed kelihatannya akan lebih cepat meningkatkan tingkat suku bunga sehingga rupiah akan mengalami pelemahan," kata Mari Elka.

Sedangkan Direktur Strategi dan Portofolio Utang Kementerian Keuangan Schneider Siahaan mengatakan, sektor jasa pada saat ini dinilai mulai mendominasi kondisi perekonomian nasional sehingga merupakan hal yang bagus karena negara-negara maju pada saat ini juga didominasi sektor jasa. "60 persen itu sudah sektor jasa. Sektor jasa sudah dominan. Ini sudah mengarah ke yang lebih bagus," katanya.

Menurut Schneider Siahaan, saat ini strategi yang dirumuskan dalam sejumlah langkah pemerintah sudah benar, seperti pengalokasian anggaran yaitu 20 persen untuk sektor pendidikan serta lima persen untuk sektor kesehatan. Dia juga mengingatkan bahwa untuk sektor jasa, salah satu hal penting untuk dibenahi adalah SDM. munib

BERITA TERKAIT

Mewaspadai Politisasi Agama di Tahun Politik

Oleh : Ricky Renaldi, Pengamat Sosial Politik Gerakan politik berpotensi muncul apabila terdapat gerakan massa, tidak hanya dalam gerakan jalan…

Tiga Anak Usaha BUMN Bakal IPO di 2019

Menyadari masih sedikitnya perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang go public atau tercatat di pasar modal, mendorong Kementerian Badan…

Impack Pratama Beri Pinjaman Anak Usaha

Dukung pengembangan bisnis anak usaha, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) melakukan perjanjian hutang piutang dengan anak usahanya PT Impack…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

PENYEBAB PERTUMBUHAN EKONOMI TAK BISA TUMBUH TINGGI - Bappenas: Produktivitas SDM Masih Rendah

Jakarta-Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Prof Dr. Bambang Brodjonegoro kembali mengingatkan, pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia…

Pemerintah Perbaiki Regulasi untuk Tekan Kecelakaan Kerja

NERACA Jakarta - Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) akan memperbaiki regulasi untuk memastikan tingkat kepatuhan perusahaan dalam rangka untuk menekan angka…

Atasi Defisit, Perjanjian Dagang Perlu Digalakkan

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menyatakan pembahasan dan perundingan perjanjian perdagangan dengan berbagai negara lain untuk melesatkan…