Laba Astra Internasional Terkoreksi 2% - Bisnis Otomotif Masih Lesu

NERACA

Jakarta – Di kuartal pertama 2018, PT Astra International Tbk (ASII) mencatatkan laba bersih di sebesar Rp 4,98 triliun. Angka ini turun 2% dari laba perusahaan pada periode yang sama tahun lalu Rp 5,08 triliun. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Di sisi lain, pendapatan bersih ASII naik 14% dari Rp 55,82 triliun di kuartal I-2018 dibandingkan Rp 48,78 triliun pada periode yang sama tahun lalu.”Grup Astra diperkirakan akan terus mendapat keuntungan dari harga batu bara yang stabil, sementara persaingan di pasar mobil diperkirakan semakin meningkat," kata Presiden Direktur Astra International, Prijono Sugiarto.

Disebutkan, pangsa pasar motor dan mobil menurun, sedangkan volume penjualan alat berat, kontraktor pertambangan dan pertambangan diuntungkan dengan meningkatnya harga batu bara. Selain itu, laba bersih agribisnis menurun akibat pelemahan harga. Nilai aset bersih per saham tercatat sebesar Rp 3.186 pada 31 Maret 2018, naik 4% dibandingkan dengan posisi pada akhir tahun 2017.

Nilai utang bersih, di luar grup jasa keuangan, mencapai Rp 2,4 triliun, dibandingkan dengan nilai kas bersih Rp 2,7 triliun per 31 Desember 2017, terutama disebabkan oleh investasi Grup di jalan tol, Go-Jek, dan belanja modal pada bisnis kontraktor penambangan. Anak perusahaan grup segmen jasa keuangan mencatat utang bersih sebesar Rp 44,8 triliun, dibandingkan dengan Rp 46,1 triliun pada akhir tahun 2017.

Laba bersih dari bisnis otomotif grup menurun 8% menjadi Rp2,1 triliun, terutama disebabkan oleh meningkatnya kompetisi di pasar mobil. Laba bersih bisnis jasa keuangan Grup turun 6% menjadi Rp 1,1 triliun, disebabkan oleh penurunan kontribusi dari PT Bank Permata Tbk (Bank Permata). Kemudian, laba bersih dari segmen alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi grup meningkat sebesar 68% menjadi Rp 1,5 triliun. Laba bersih dari segmen agribisnis grup turun 55% menjadi Rp 283 miliar.

Selanjutnya dari divisi infrastruktur dan logistik Grup mencatat kerugian bersih sebesar Rp 23 miliar, dibandingkan dengan laba bersih sebesar Rp 67 miliar pada kuartal pertama tahun 2017. Hal ini disebabkan oleh kerugian awal dari ruas jalan tol Cikopo-Palimanan yang diakuisisi Grup pada semester pertama tahun 2017.

Laba bersih dari segmen teknologi informasi Grup naik 4% menjadi Rp 27 miliar. Kemudian divisi properti grup melaporkan laba bersih sebesar Rp 6 miliar dibandingkan laba bersih Rp 42 miliar pada tahun sebelumnya. Hal ini terutama disebabkan oleh menurunnya pengakuan laba dari proyek Anandamaya Residences dimana proyek tersebut telah memasuki tahapan akhir sehingga persentase penyelesaiannya lebih rendah.

Tahun ini, perseroan menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 25 triliun pada 2018. Angka ini meningkat 13,64% dibandingkan capex tahun lalu sebesar Rp 22 triliun. Anggaran tersebut diantaranya digunakan untuk keperluan investasi dan juga pengembangan konsolidasi ASII pada 2018. Capex tertinggi dianggarkan PT United Tractors Tbk (UNTR) dan anak usahanya yang mencapai Rp 12 triliun.

BERITA TERKAIT

Arwana Catatkan Penjualan Naik 15,56% - Bisnis Keramik Masih Mengkilap

NERACA Jakarta – Meskipun bisnis properti masih dirasakan lesu oleh pelaku pasar, namun hal tersebut tidak memberikan dampak terhadap performance…

LPDB KUMKM Ajak Universitas Jember Kerjasama Kembangkan Bisnis Startup

LPDB KUMKM Ajak Universitas Jember Kerjasama Kembangkan Bisnis Startup NERACA Jember - Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) KUMKM mengajak Universitas…

Penjualan APLN Baru Capai 40% Dari Target - Bisnis Properti Lesu

NERACA Jakarta –Di kuartal tiga 2018, PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) berhasil membukukan nilai pemasaran atau marketing sales sebesar…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Investor Papua Didominasi Kaum Milenial

Kepala kantor perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Papua Barat, Adevi Sabath mengatakan, investor pasar modal di Papua Barat didominasi oleh…

BEI Suspensi Perdagangan Saham SURE

Setelah masuk dalam kategori saham unusual market activity (UMA) atau pergerakan harga saham di luar kebiasaan, kini PT Bursa Efek…

Volume Penjualan Semen Baturaja Naik 38%

Hingga September 2018, PT Semen Baturaja (Persero) Tbk (SMBR) mencatatkan penjualan semen domestik tumbuh 38% dibandingkan dengan periode yang sama…