Menaikkan Elektabilitas dengan Cara Cerdas

Oleh: Stanislaus Riyanta, Kandidat Doktor bidang Kebijakan Publik, Fakultas Ilmu Administrasi UI

Salah satu perangkat yang digunakan oleh pemangku kepentingan politik untuk menentukan langkah dalam pemilu adalah hasil survei, terutama yang dilakukan oleh pihak independen. Litbang _KOMPAS_ sebagai lembaga yang tidak berafiliasi dengan partai politik menjadi salah satu lembaga yang hasil surveinya cukup akurat dan menjadi rujukan bagi para pengambil keputusan politik.

Menjelang Pilpres 2019, Litbang Kompas mengeluarkan hasil survei yang cukup menarik. Survei yang dilakukan oleh media massa itu terhadap elektabilitas tokoh-tokoh yang potensial maju dalam Pilpres 2019 menunjukkan hasil bahwa elektabilitas Prabowo Subianto dan Gatot Nurmantyo cenderung menurun. Sebaliknya elektabilitas Joko Widodo terus naik.

Hasil detil survei yang dilakukan pada 21 Maret-1 April 2018 tersebut adalah elektabilitas Prabowo Subianto turun, dari angka 18,2 persen pada 6 bulan lalu sekarang menjadi 14,1 persen. Elektabilitas Joko Widodo naik dari angka 46,3 persen pada 6 bulan lalu sekarang menjadi 55,9 persen. Gatot Nurmantyo mengalami penurunan elektabilitas, yang pada 6 bulan lalu sebesar 3,3 persen, sekarang menjadi 1,8 persen.

Ada beberapa usulan langkah yang bisa dilakukan untuk menaikkan elektabilitas. Pertama adalah membangun koalisi yang kompak, kuat dan satu suara. Perbedaan suara dalam satu koalisi akan menjadi celah kerawanan yang bisa mengurangi elektabilitas calon yang diusung dan partai politik.

Langkah kedua adalah meyakinkan kepada para pendukung, loyalis, dan masyarakat akan keteguhan tekad dan kemantapan untuk mengikuti Pilpres 2019. Cara meyakinkan ini juga harus logis, dengan menyertakan koalisi partai yang memenuhi syarat untuk maju dalam Pilpres. Selain itu untuk menguatkan langkah ini, calon dan tim suksesnya harus menyampaikan program kerja unggulan guna menandingi program kerja lawan politiknya.

Langkah ketiga adalah dengan cara menunjukkan bahwa kapabilitas yang dimilikinya lebih bagus dari lawan politik yang sudah ada. Capres-cawapres dan tim sukses juga harus meyakinkan masyarakat bahwa sumber daya yang dimilikinya mampu untuk menggerakkan mesin politik dalam pertarungan Pilpres 2019.

Pihak petahana mempunyai keunggulan untuk menggerakkan sumber dayanya melalui program-program pemerintah. Hal ini tentu sangat menguntungkan mengingat ada bukti nyata yang telah dilakukan. Kampanye dapat dilakukan dengan menunjukkan keberhasilan yang sudah dicapai pemerintah. Perbaikan-perbaikan yang sudah dilakukan dibandingkan dengan pemimpin pada era sebelumnya dapat menjadi materi kampanye yang efektif.

Sebaliknya kurang berhasilnya petahanan dalam menjalankan pemeritahaan akan menjadi sasaran tembak dari kubu oposisi. Dalam konteks Pilpres 2019, isu-isu seperti hutang negara dan Tenaga Kerja Asing akan menjadi peluru yang efektif bagi pihak oposisi untuk menurunkan elektabilitas pihak petahana.

Bagi pihak oposisi, kelemahaannya adalah belum bisa menunjukkan hasil kerja nyata. Pihak oposisi bisa menawakan program kerja yang lebih baik terutama untuk menjawab permasalahan program kerja pihak petahanan yang belum berhasil. Pihak oposisi biasnya mempunyai kecenderungan untuk mencari kelemahan dan kegagalan kubu petahana. Hal ini sebaiknya tidak menjadi strategi utama. Tim sukses dari pihak oposisi sebaiknya lebih fokus untuk menguatkan mesin politik dengan memastikan kecukupan sumber daya dan mengelaborasi program-program unggulan sebagai daya tarik masyarakat.

Masih ada waktu bagi pihak-pihak yang ingin mengikuti Pilpres 2019 untuk menaikkan elektabilitasnya. Ketidakpastian dalam politik harus dimanfaatkan sebagai celah untuk bergerak memperoleh dukungan dan menaikkan elektabilitas. Tentu saja untuk menaikkan elektabilitas dengan menggunakan cara-cara yang cerdas, etis dan konstruktif.

Di tengah perkembangan teknologi dan era keterbukaan ini, tentu kesadaran masyarakat akan proses politik menjadi lebih tinggi. Pemilu sebagai salah satu instrumen politik untuk menghasilkan pemimpin diharapkan dapat dilakukan dengan cara-cara yang baik. Jika masing-masing pihak yang akan bertanding dalam Pilpres nanti menggunakan cara-cara cerdas, etis, dan konstruktif maka apapun hasil dari Pilpres 2019 nanti, pemenangnya adalah masyarakat Indonesia. Sehingga pasca Pilpres 2019 nanti, masyarakat Indonesia bisa bersatu padu membangun negara ini tanpa adanya luka-luka politik yang memecah belah.

BERITA TERKAIT

APLN Berbagi Dengan 1200 Anak Yatim

NERACA Jakarta- Dalam rangka tanggung jawab sosial perusahaan dan berbagi di bulan Ramadan, PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) melalui…

Menjaga Nafas Kebangsaan dengan Pancasila

  Oleh : Torkis T. Lubis, Alumni KRA ke-56 Lemhanas Semangat kebangsaan di tanah air di tahun politik ini menghadapi…

BEI Jajaki Kerjasama Dengan Go-Jek - Pacu Pertumbuhan Investor

NERACA Jakarta – Dalam rangka perluas penetrasi pasar modal dan menggenjot pertumbuhan investor, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menjajaki…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Masa Kampanye Pilkada 2018 dan Netralitas ASN/PNS

Oleh : Amril Jambak, Founder Forum Pemerhati Masalah Sosial Kemasyarakatan Memasuki tiga bulan pelaksanaan kampanye, sejumlah pasangan calon (Paslon) kepala…

Kartu Kredit Pemerintah, Model Baru Pengelolaan Keuangan Negara

Oleh : Budi Lesmana, Staf Ditjen Perbendaharaan Kemenkeu *) Ditjen Perbendaharaan (DJPB) beberapa waktu lalu mengeluarkan kebijakan uji coba penggunaan…

Menjaga Nafas Kebangsaan dengan Pancasila

  Oleh : Torkis T. Lubis, Alumni KRA ke-56 Lemhanas Semangat kebangsaan di tanah air di tahun politik ini menghadapi…