Eksplorasi dan Eksploitasi

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi

Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo

Kalau kita masih ingat bahwa 22 April kemarin diperingati sebagai Hari Bumi dan tentu esensi Hari Bumi tidak bisa terlepas dari lingkungan. Padahal sinergi dari bumi dan juga lingkungan akan memberikan pengaruh signifikan terhadap hidup dan kehidupan. Oleh karena itu, menjaga bumi sejatinya adalah mempertahankan keseimbangan lingkungan. Ironinya, perkembangan jaman yang ditandai dengan pesatnya industrialisasi ternyata justru semakin mengabaikan keseimbangan alam sebagai satu kesatuan. Padahal, logika alam akan selalu mencari titik keseimbangannya maka tidak heran jika terjadi berbagai bencana alam yang sejatinya adalah siklus alamiah untuk mencapai titik keseimbangan.

Faktor utama ketidakseimbangan lingkungan, bumi dan alam yaitu terjadinya eksplorasi dan eksploitasi ketiganya secara berkelanjutan. Berdalih mengejar daya saing dan nilai tambah maka lingkungan, bumi dan alam akan terus dieksplorasi dan dieksploitasi oleh manusia. Bahkan modernitas melalui alat-alat dan teknologi memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap terjadinya eksplorasi dan eksploitasinya. Jika sudah demikian maka tidak ada alasan untuk menolak terjadinya berbagai bencana alam dan mencari kambing hitam berdalih anomali cuaca sejatinya juga tidak relevan untuk mengakui kesalahan manusia dibalik keserakahannya.

Teoritis permintaan dan permintaan sejatinya telah menemukan titik temu yang mampu membentuk keseimbangan sehingga terbentuknya harga yang disepakati oleh konsumen. Ironisnya, teoritis permintaan dan penawaran terkadang tidak berlaku dalam kondisi tertentu. Paling tidak, hal ini terlihat pada ramadhan – Idul Fitri ketika fluktuasi harga justru terjadi karena faktor psikologis, bukan karena sentimen permintaan akibat faktor lonjakan gaji ke-13 dan THR. Sebaliknya, produsen semakin pandai melakukan proses eksplorasi dan eksploitasi daya beli. Padahal imbasnya adalah bagaimana akhirnya bumi dan lingkungan terus dieksplorasi dan dieksploitasi secara berkelanjutan.

Terlepas dari berbagai faktor yang mendasari tuntutan eksplorasi dan eksploitasi, yang pasti, berbagai kerusakan yang terjadi di bumi dan lingkungannya semakin parah. Oleh karena itu sangat beralasan jika kemudian muncul kesadaran kolektif terhadap urgensi manajemen lingkungan, tidak hanya di negara industri maju tapi juga semakin marak di negara berkembang. Paling tidak, ini terlihat dari tingginya permintaan terhadap produk organik, produk ramah lingkungan dan juga produk yang bisa didaurulang. Semuanya itu bisa menjadi komitmen yang menarik jika ditindaklanjuti oleh produsen.

Sinergi antara tuntutan konsumen terhadap konsumsi produk ramah lingkungan secara berkelanjutan dan juga munculnya kesadaran kolektif dari produsen maka sanksi sosial menjadi ancaman yang bisa menjaga terhadap keseimbangan alam, lingkungan dan bumi karena konsumen semakin peduli dan produsen semakin dituntut untuk menciptakan produk – jasa yang ramah lingkungan. Oleh karena itu, eksplorasi dan eksploitasi yang dilakukan harus tetap memperhatikan keseimbangan alam, lingkungan dan bumi. Jika demikian, maka sejatinya kelestarian dan keseimbangan alam, lingkungan dan bumi ini adalah tanggung jawab kita bersama, baik sebagai produsen atau konsumen.

BERITA TERKAIT

Kemenkop dan UKM Ajak Pensiunan Bantu Program Pengembangan KUMKM

Kemenkop dan UKM Ajak Pensiunan Bantu Program Pengembangan KUMKM NERACA Jakarta - Kementerian Koperasi dan UKM mengajak para pensiunan untuk…

Pelayanan Kartu Sehat dan BPJS?

Persoalan tata kelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) sejak beberapa tahun lalu hingga sekarang belum maksimal sehingga banyak peserta  BPJS…

Makanan dan Minuman Ini, Baik Untuk Kesehatan Jantung

Menjaga kesehatan jantung merupakan salah satu kunci hidup sehat dan memperpanjang harapan hidup. Pasalnya, penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Indeks Kemaslahatan Pembangunan Kemiskinan

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekononomi Syariah Salah satu isu  yang kini ditunggu oleh masayarakat di tanah air saat ini…

Restrukturisasi Fiskal

  Oleh: Dhenny Yuartha Junifta Peneliti INDEF   Dalam kebijakan fiskal (APBN), penerimaan negara dihimpun untuk membiayai pengeluaran publik. Arah…

Pencabutan DMO Batubara Tepat - Oleh : Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Alhamdulillah. Akhirnya Presiden Joko Widodo membatalkan rencana pencabutan domestic market obligation (DMO) batubara. Keputusan yang diambil beberapa waktu lalu usai…