Pusat Kawasan Produksi dan Pasar

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri

Apakah ini yang akan kita bentuk sebagai episentrum kedigdayaan ekonomi Indonesia di masa mendatang ketika PDB-nya diprediksi mencapai 2,5 triliun dolar AS /5,4 triliun dolar AS tahun 2030.Rasanya belum pernah ada satu platform yang sudah konklusif secara politik mengenai hal tersebut. Mudah-mudahan penulis yang telat mikir.

Apakah untuk "Menjadi Pusat Kawasan Produksi dan Pasar Bagi Semua Negara" merupakan kepentingan dan sikap bangsa Indonesia tampil di pentas panggung dunia?. Pertanyaan ini memang harus dijawab secara politis bukan hanya oleh pemerintah saja, tapi juga oleh DPR/DPD/MPR. Lama sudah kita menunggu itu. Kalau pakai bahasa formal dan normatif maka berarti harus ada produk yang harus disiapkan. Misal undang-undang atau Tap MPR yang berisi tentang rencana jangka panjang tahun 2025-2050 Pembangunan Ekonomi Indonesia. Tema pokoknya adalah di seputar mengenai Indonesia sebagai kekuatan ekonomi dunia yang sedang bangkit. Rasanya kita memerlukan keputusan politik tingkat tinggi yang mempunyai legal standing yang clear and clean secara politik. Kalau tidak, maka yang akan terjadi adalah saling "boikot" (yang menjadi tradisi buruk dalam berdemokrasi ala Indonesia) yang akibatnya kita terjebak pada lingkaran setan, maju kena mundur kena yang ujungnya kita tertinggal.

Hal yang disampaikan di atas adalah sesuatu yang fundamental berupa keputusan politik dan terkait dengan legal standing. Tampil di pentas dunia memang butuh platform. Memerlukan proses transformasi politik dan budaya menuju ke pembentukan kekuatan ekonomi dan bisnis di panggung dunia. Kita memang sedang bergerak ke arah itu, tapi masih parsial. Langkah ini bukan sekedar proyek APBN/APBD, tapi benar-benar menjadi proyek PDB yang nilainya diharapkan dapat menggerakkan roda ekonomi nasional yang diramalkan akan mencapai 2,5-5,4 triliun dolar AS pada tahun 2030,dan akan mencapai 7,4 triliun dolar AS pada tahun 2050.

Revolusi biru di sektor pertanian dalam arti luas dan revolusi industri 4.0 akan membawa kepada satu posisi penting Indonesia sebagai lumbung produksi pangan dan produk manufaktur dengan produktivitas yang tinggi berskala dunia. Ini yang akan menempatkan Indonesia sebagai pusat kawasan produksi global. Pada waktu yang sama, sudah dapat dipastikan bahwa Indonesia akan menjadi bagian dari pasar bagi semua negara di dunia. Isu sentralnya adalah bukan soal swa sembada, tapi lebih akan menuju terciptanya surplus dalam perdagangan internasional untuk barang dan jasa.

Ekonomi dengan output yang besar di masa depan akan bertumpu pada investasi dan surplus perdagangan internasional dalam jumlah besar, baru disusul oleh konsumsi rumah tangga. Investasi akan berwajah ganda, yaitu investasi portofolio dan investasi langsung, baik yang datang dari dalam negeri dan luar negeri. Dengan volume output ekonomi yang besar, secara de facto, Indonesia akan berpotensi menjadi pusat kawasan produksi, dan pasar yang semakin penting bagi semua negara.

BERITA TERKAIT

Agrowisata Kebun Kopi di Kawasan Bukit Kaba

Provinsi Bengkulu tengah melengkapi 'koleksi' objek wisatanya, khususnya dalam ranah wisata alam. Provinsi yang terletak di bagian barat daya pulau…

Hadir Dalam Tiga Tipe, All New Camry Lebih Mewah dan Agresif

PT Toyota Astra Motor (TAM) membuka tahun 2019 dengan menghadirkan All New Camry yang diklaim memiliki tampilan lebih mewah dan…

Pasar Menunggu Aturan Papan Akselerasi

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan ada lima perusahaan dengan Net Tangible Assets (NTA) atau aset berwujud bersih kurang dari…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Lagi, Impor Gula

Oleh: Nailul Huda Peneliti Indef   Dalam satu minggu terakhir pembahasan mengenai gula kembali mencuat. Pasalnya adalah impor gula yang…

Infrastruktur Berkualitas Rendah - Oleh ; EdyMulyadi, Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Proyek infrastruktur di Indonesia ternyata berkualitas rendah dan tidak memiliki kesiapan. Bukan itu saja, proyek yang jadi kebanggaan Presiden JokoWidodo itu…

Ketika Rakyat Sekadar Tumbal

  Oleh: Gigin Praginanto Antropolog Ekonomi Politik Perekonomian nasional itu ibarat sepeda. Harus selalu dikayuh agar bergerak dan tidak jatuh.…