Sejahteraya Bukukan Rugi Rp 101,28 Miliar - Beban Pendapatan Naik 11,20%

NERACA

Jakarta – Sepanjang tahun 2017 kemaarin, PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) masih membukukan kerugian Rp 101,28 miliar. Angka tersebut meningkat dibanding rugi usaha yang dibukukan sepanjang 2016 sebesar Rp 97,50 miliar. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin

Perseroan mengungkapkan, salah satu faktor yang membuat rugi pada 2017 adalah kenaikan beban pokok pendapatan sebesar 11,20% menjadi Rp 519,80 miliar. Pada 2016 beban pokok tercatat sebesar sebesar Rp 467,46 miliar. Padahal sepanjang 2017 pendapatan usaha SRAJ meningkat 9,63% dari sebelumnya Rp 576,18 miliar di sepanjang 2016 menjadi Rp 631,06 miliar pada 2017.

Disebutkan, pendapatan tertinggi usaha didorong oleh kenaikan pendapatan usaha obat-obatan sebesar 11,18% menjadi Rp 215,95 miliar pada 2017 dibandingkan dengan 2016 sebesar Rp 194,23 miliar. Sedangkan pendapatan usaha dari rawat inap naik 9,17% dari sebelumnya Rp 184,74 miliar di sepanjang 2016 menjadi Rp 201,68 miliar pada 2017.

Sementara itu, liabilitas SRAJ turun di sepanjang 2017 sebesar 8,36% menjadi Rp 531,06 miliar dibandingkan dengan liabilitas perusahaan pada 2016 sebesar Rp 579,51 miliar. Sedangkan ekuitas perusahaan juga turun 5,75% dari sebelumnya Rp 1,72 triliun pada 2016 menjadi Rp 1,62 triliun pada 2017. Nilai aset perusahaan turun 6,41% di sepanjang 2017 menjadi Rp 2,15 triliun dibandingkan dengan aset SRAJ pada 2016 sebesar Rp 2,30 triliun.

Belum lama ini, perusahaan pemilik jaringan rumah sakit Mayapada ini berencana akan bergabung atau merger dengan Bogor Medical Center (BMC) lewat Akuisisi. Merger akan dilakukan melalui metode akuisisi. Dalam hal ini, BMC akan diakuisisi oleh SRAJ dan perusahaan hasil merger ini nantinya akan tergabung dalam SRAJ.

Menurut analis Paramitra Alfa Sekuritas, William Siregar, penggabungan dua rumah sakit ini akan berimbas positif. Salah satu yang akan membaik adalah struktur utang kedua perusahaan. Dirinya mencatat, BMC saat ini memiliki rasio utang atau debt to equity ratio (DER) yang cukup tinggi yakni 2,7 kali. “Ada potensi gagal bayar,” tuturnya.

Sementara, SRAJ dalam catatan William memiliki DER yang cukup aman, yaitu 0,29 kali. Jika nantinya kedua perusahaan ini bergabung, William mengestimasi bahwa rasio utang setelah merger adalah 0,37 kali.

Sementara, SRAJ akan diuntungkan dengan jaringan rumah sakit BMC di Bogor. SRAJ yang saat ini membawa bendera Mayapada Hospital baru memiliki jaringan di Tangerang dan Jakarta Selatan. “Menurut beberapa sumber, BMC punya reputasi yang baik di Bogor,” kata William.

BERITA TERKAIT

Naik Turun Harga Tiket Pesawat

Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (Indonesia National Carriers Association/INACA) sepakat untuk menurunkan tiket pesawat, yang sempat melambung beberapa waktu belakangan.…

Utang Luar Negeri Naik 7% Jadi Rp5.220 Triliun

  NERACA Jakarta - Utang luar negeri Indonesia naik tujuh persen secara tahunan menjadi 372,9 miliar dolar AS per akhir…

Penetrasi Pasar di Luar Jawa - Mega Perintis Siapkan Capex Rp 30 Miliar

NERACA Jakarta – Rencanakan membuka 20 gerai baru tahun ini guna memenuhi target penjualan sebesar 14%-15% menjadi Rp 509 miliar,…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Volume Transaksi Sepekan Tumbuh 1,47%

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat indeks harga saham gabungan (IHSG) sepekan kemarin ditutup dengan peningkatan sebesar…

Luncurkan Transaksi GOFX - BKDI Incar Transaksi US$ 200 Juta Perhari

NERACA Jakarta – Pacu pertumbuhan transaksi industri bursa berjangka, Indonesia Commodity & Derevatives Exchange (ICDX) atau PT Bursa Komiditi Derivatif…

BEI Optimis Target 100 Emiten Baru Tercapai

NERACA Jakarta – Penuhi tantangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menargetkan jumlah perusahaan yang melaksanakan penawaran umum saham perdana atau…